” Anaknya macan pasti macan juga ” sebuah istilah yang hidup di masyarakat kita. Kadang kadang menjadi anak orang yang dikagumi tidak mudah, dia akan selalu menjadi bayang bayang orang lain, suka atau tidak suka. Ketika harapan yang begitu tinggi bertemu dengan realitas hasilnya kadang menimbulkan kecewa, kadang kecewa berubah menjadi benci. Kita kerap lupa setiap manusia adalah sosok yang unik karena setiap manusia mempunyai kemampuan dan sejarah hidup yang berbeda.
Di Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia diceritakan tentang kelahiran Megawati, sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Bung Karno. Berikut kutipannya :
” Aku takkan melupakan peristiwa tanggal 23 Januari 1947 tersebut. Pada malam itu guntur seakan hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah disediakan. Tiba tiba saja lampu padam. Atap di atas kamar runtuh, mega yang gelap dan berat melepaskan bebannya dan kemudian air hujan langsung mengalir ke dalam kamar bagaikan sungai.
Dokter dan juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga semua peralatan dokter, kain seprei dan segala galanya. Dalam kegelapan, dengan penerangan cahaya pelita, lahirlah putri kami. Kami menamakannya Megawati “
Dalam perjalanan hidupnya Mega banyak menyaksikan drama kehidupan, ayahnya menikah dengan perempuan lain bukan hanya sekali tapi berkali kali. Ibunya menyingkir dari istana menuju rumah pribadi yang sederhana di Jalan Sriwijya yang ketika itu termasuk daerah pinggiran Jakarta. Bahkan Mega juga menyaksikan peristiwa berdarah akibat intrik- intrik politik. Granat meledak di Cikini tahun 1957 di depan sekolahnya Percik, upaya pembunuhan tersebut nyaris saja merengut nyawa Bung Karno dan peristiwa itu bukan satu satunya upaya untuk membunuh BK. Istana Merdeka pernah dibombardir oleh Maukar, pilot pesawat MIG 15 Angkatan Udara. Pada Idul Adha 1962 BK dicoba ditembak oleh penyusup yang menyamar menjadi jamaah shalat Idul Adha, peristiwa ini yang mendorong dibentuknya Cakrabirawa. Di Makasar mobil BK dilempar granat, lagi lagi BK lolos dari maut. Peristiwa G 30 S merubah keadaan, kekuasaan BK dipreteli bahkan BK akhirnya diberhentikan dari jabatan Presiden. BK menjalani tahanan rumah, kesehatannya memburuk tapi perlakukan rezim baru sangat tidak manusiawi akhirnya BK menutup mata dengan kondisi mengenaskan. Tenggelamnya BK bukan hanya menenggelam BK seorang diri, loyalis loyalis BK pun ” dihabisi “, banyak yang ditangkap dan bahkan harta bendanya ikut dirampas, sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah loyalitas dan kesetiaan kepada kebenaran. Mega sendiri harus keluar dari Unpad karena memegang prinsip yang dia yakini.
Kehidupan Mega pasca meninggalnya BK penuh cobaan, suaminya pilot Angkatan Udara hilang dalam tugas, perkawinan keduanya kandas, kemudian dia bertemu dengan Taufik Kiemas, seorang Soekarnois yang pernah mendekam dalam penjara orde Baru. Mega menjadi ibu rumah tangga tanpa kegiatan politik sama sekali.
Semua berubah tahun 1987 dengan dorongan Taufik Kiemas, akhirnya Soerjadi Ketua Umum PDI mengajak Mega bergabung ke PDI. Bergabung ke PDI adalah sebuah keputusan yang berani kalau menurut gue, itu menunjukan bahwa Mega bukan seorang pengecut, pengalaman buruk yang dialami ayahnya yang dicoba dibunuh berkali kali dan akhirnya terpental oleh intrik - intrik politik tidak membuat Mega jeri untuk terjun ke dunia politik yang kata orang kejam itu. Suatu keputusan yang tidak mudah untuk orang dengan latar belakang seperti Mega, tidak semua orang sanggup menghalau semua trauma masa lalu tapi Mega dengan berani mengambil tantangan itu. Di usia 40 tahun Mega memulai karir politiknya.
Akhirnya Adis, panggilan kesayangan Mega berhasil jadi presiden. Tapi Mega tetap Mega dan Mega bukan Soekarno. Mega dan Soekarno adalah dua orang yang berbeda sama sekali mulai dari pendidikan, lingkungan, Hobby, kebiasaan, teman teman. Di usia 26 tahun Soekarno sudah mendirikan PNI, Soekarno bergaul dengan Natsir dan Kartosuwiryo yang agamis, Hatta dan Syahrir yang sosialis bahkan juga dengan Muso yang komunis, hal hal tersebut tidak dialami Mega.
Mungkin sekarang Mega sedang berada di senja karir politik, mungkin kita berhak kecewa dengan Mega yang ternyata berbeda dari Soekarno tapi bagaimanapun Mega adalah sosok yang berani dan bukan sosok yang menggunakan kekuasaan untuk membalas dendam. BK dizalimi oleh rezim orde baru tapi tidak pernah sekalipun Mega membalas menzalimi Soeharto ketika Mega menjadi presiden sesuatu yang mudah saja sebenarnya dia lakukan kalau dia mau tapi itu tidak dilakukan Mega. Mega menyadarkan kita bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah solusi terbaik. Itulah Mega sosok yang tidak sempurna tapi selalu ada kelebihan dibalik ketidaksempurnaan seseorang, kelebihan dan kekurangan orang adalah tempat kita belajar tentang kehidupan.
Tertangkapnya Ketua KPK dengan sangkaan pembunuhan berencana mengingatkan gue bahwa semua bisa saja terjadi di Republik ini. Pertanyaan apakah benar kita memerlukan badan yang Super body seperti KPK? Kenapa tidak Polri atau Kejaksaan saja yang diberdayakan. Kalau kita lihat dari sejarah dulu ada yang namanya Kopkamtib.
Kopkamtib didirikan pasca G 30 S dengan pangkopkamtib pertama Pangad Jenderal Soeharto. Pada perjalanannya Pangkopkamtib begitu berkuasa menangani sekali urusan mulai dari politik, ekonomi bahkan sosial budaya mulai dari pertunjukan seni dan hiburan sampai sengketa tanah. Pangkopkamtib dijabat Jenderal Bintang Empat bahkan Kaskopkamtibnya juga Jenderal Bintang Empat. Pada era Soedomo terdapat 3 orang jenderal bintang empat, Soedomo, Yoga Soegomo yang juga merangkap Kabakin dan Widjojo Soejono. Dengan bertaburan jenderal bintang empat, Kopkamtib menjadi badan yang disegani, bahkan Kabakin juga bergabung di Kopkamtib sebagai Kaskopkamtib. Jadi Kopkamtib pada era Soedomo terdapat tiga unsur, Soedomo dari Angkatan Laut sebagai Pangkopkamtib, Yoga Soegomo dari Intelijen dan Widjojo Soejono dari Angkatan Darat.
Kalau yang terjadi di KPK sekarang unsur yang berperan adalah dari Kepolisian ( Taufiqurachman Ruki ) dan Kejaksaan ( Antasari ) kemudian pakar akutansi Erry Riyana Hardjapamekas. Tapi belum pernah saya lihat ada unsur dari TNI maupun Intelijen berperan di KPK seperti masa masa Kopkamtib dulu dengan Jenderal bintang empat sebagai Panglima. Apakah tidak sebaiknya dicoba diangkat dari unsur TNI untuk meningkatkan pamor KPK sebagai garda depan pemberantasan korupsi. Korupsi bukanlah kejahatan biasa begitu banyak orang kuat di sana, dimana ada saling melindungi. Menjadi anggota KPK jelas menanggung risiko yang berat maka dari itu menurut saya perlu orang orang dengan jabatan / pangkat tinggi yang mengendalikannya misalkan Jenderal Djoko Santoso ( Panglima TNI ) ataupun kalau dari kepolisian bisa diambil Jenderal Sutanto yang sekarang komisaris Pertamina.
Konon Golkar dibentuk pada era awal 60-an untuk mengimbangi pengaruh PKI yang semakin kuat. Pendiriannya tentu tidak terlepas dari pengaruh Angkatan Darat ketika itu, organisasi pendukung Golkar dipimpin oleh perwira perwira Angkatan Darat seperti Soksi dipimpin oleh Suhardiman sementara MKGR dan Kosgoro dipimpin oleh mantan ajudan Bung Karno, Sugandhi dan Mas Isman.
Pengaruh ABRI di Golkar pada era Orde Baru semakin kuat dulu ada 3 jalur pemenangan Golkar yaitu ABG, ABRI, Birokrat dan Golkar. Walaupun sekarang TNI dan Birokrasi sudah netral tapi pengaruh unsur TNI masih ada, seperti sesuatu yang tidak tertulis, ada tradisi di Golkar bahwa apabila Ketua Umum dari Militer maka sekjennya dari sipil begitu juga sebaliknya apabila ketua umumnya dari sipil maka sekjennya dari militer ( pensiunan militer )
Semakin banyaknya mantan TNI yang berpolitik secara tidak langsung menggerogoti kekuatan Golkar yang tadinya mengandalkan KBA ( Keluarga Besar ABRI ) sebagai penyokongnya. Pertama munculnya PKP yang dipimpin Eddy Sudrajat, kemudian muncul Partai Demokrat setelah itu Wiranto dan Prabowo keluar dari Golkar dan membentuk partai Hanura dan Gerindra. Kekuatan Golkar terus tergerus karena disedot oleh Demokrat, Hanura dan Gerindra. Begitu juga ormas pendiri Golkar seperti Kosgoro dan MKGR dilanda perpecahan bahkan Hayono Isman anak pendiri Kosgoro loncat ke Demokrat.
Di pemilu 2009 terjadi peristiwa yang memukul Golkar sekalipun Ketua Umumnya menjadi wapres ternyata hal tersebut tidak menolong banyak, keluarnya Wiranto dan Prabowo serta makin moncernya SBY dan Demokrat memukul Golkar dari berbagai arah. Kegamangan mulai terjadi pada saat kampanye pemilu Legislatif mau mengkritik pemerintah tidak mungkin karena Golkar ada pemerintahan tapi mau mengklaim keberhasilan malah makin mengingatkan rakyat pada SBY dan Partai Demokrat akhirnya apa boleh buat terjadi saling Klaim antara Demokrat dan Golkar akan tetapi karena SBY presiden tentu saja ingatan rakyat ke SBY lebih kuat daripada JK yang Wapres.
Kekalahan Golkar dan naiknya suara Demokrat menyebabkan posisi tawar Golkar menjadi rendah, apabila tadinya posisi Golkar di atas sekarang posisinya lebih rendah. Terjadi berbagai peristiwa akhirnya JK memutuskan maju dengan didampingi Wiranto sesuatu yang agak riskan sebenarnya karena hanya merengkuh suara pendukung Golkar saja tidak terjadi perluasan segmen ke arah Nasionalis Marhaen dan kelompok Islam yang sebenarnya cukup banyak massanya. Kalau begitu sudah dapat diprediksi JK dan wiranto kemungkinan besar akan kalah.
Apa yang terjadi kalau JK dan Wiranto kalah, sementara Munas akan terjadi Desember 2009. Akankah Golkar memilih menjadi oposisi atau bergabung dengan SBY dengan beberapa jabatan menteri dan JK duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden. Menjadi oposisi sebenarnya bukanlah kebiasaan partai Golkar dan tentu juga sangat riskan apabila JK tanpa jabatan sama sekali ketika Munas digelar. Pengalaman Akbar Tanjung yang tanpa jabatan akhirnya tersingkir dari posisi elite Golkar, orang orang yang dekat dengan Akbar pun banyak yang tersingkir. Saya rasa pengalaman ini akan menjadi pertimbangan JK karena ini bukan hanya menyangkut dirinya tapi juga menyangkut orang orang dekatnya di DPP.
Saya lihat bola sekarang justru ada di SBY, maukah beliau apabila kelak terpilih kembali merangkul Golkar? Apakah apabila SBY merangkul Golkar kemudian orang Golkar yang diberi jabatan menteri itu menggantikan JK sebagai ketua Umum Golkar di Munas 2009 apakah JK akan legowo dan memberikan kesempatan kepada kader tersebut? Hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.
Sekarang sedang ramai pencarian cawapres. Posisi cawapres begitu strategis karena sebenarnya memilih cawapres adalah juga memilih calon presiden. Sudah dua kali dalam sejarah republik Wapres naik menjadi Presiden di tengah masa jabatan yaitu BJ Habibie menggantikan Soeharto dan Megawati yang menggantikan Gus Dur. Mengenai SBY apabila beliau memilih cawapres dari independen maka harus diperhitungkan juga apabila sesuatu terjadi pada beliau bisa jadi wapres independen tersebut yang akan menjadi Presiden, yang menjadi pertanyaan bisakah seorang Presiden tanpa basis politik sama sekali? Suatu hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Republik Indonesia.
Pemilihan wapres selalu mempunyai kisah menarik di baliknya :
1. Sri Sultan HB IX ( 1973-1978 )
Pengangkatan Sri Sultan HB IX menarik karena beliau tokoh yang kenyang pengalaman, pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Sultan Yogya. Bahkan ketika menjabat sebagai Wapres pun Sultan tetap menjabat sebagai Sultan dan Gubernur DIY. Selain itu mungkin ada suatu kebanggaan yang dirasakan oleh Soeharto, seseorang yang berasal dari Yogya dan rakyat biasa dapat menjadi bos dari “Seorang Raja Jawa” sosok yang begitu dihormati dan dicintai oleh rakyat Yogya.
2. Adam Malik ( 1978-1983 )
Pengangkatan Adam Malik adalah sesuatu yang di luar rencana awal Soeharto, sebuah kejutan yang cukup mengagetkan. Di buku “Memori Jenderal Yoga ” diceritakan sebenarnya Soeharto menawarkan jabatan Wakil Presiden kepada Idham Chalid, tokoh NU yang pernah menjadi Ketua DPR / MPR. Ternyata di luar dugaan Soeharto, Idham Chalid menolak untuk menjadi Wapres Soeharto. Sesuatu keputusan yang mengagetkan sekaligus menghancurkan skema yang sudah dengan matang dirancang oleh Soeharto. Akibatnya terjadi pergeseran besar besaran secara tiba tiba. Adam Malik yang sudah menjabat Ketua DPR / MPR diangkat sebagai Wapres, Daryatmo, Kaskopkamtib yang baru menjabat beberapa bulan diangkat sebagai Ketua DPR / MPR, sedangkan Yoga Soegomo, Kabakin harus merangkap sebagai Kaskopkamtib menggantikan Daryatmo. Sedangkan Idham Chalid sendiri akhirnya menerima jabatan sebagai Ketua DPA.
3. Umar Wirahadikusumah ( 1983 -1988 )
Pemilihan Umar sebagai wapres bahkan tidak disangka sangka oleh Umar sendiri, bayangkan seseorang yang diparkir di BPK selama 10 tahun, Umar menyangka karirnya sudah tamat. Umar bukan Pangab, bukan ketua umum Golkar bahkan juga bukan menteri tapi akhirnya Soeharto menunjuknya sebagai Wapres.
4. Sudharmono ( 1988-1993 )
Pemilihannya sebagai wapres sempat menimbulkan kontroversi, berawal dari pergantian Pangab LB Moerdani beberapa saat sebelum Sidang Umum MPR 1988 sesuatu yang tidak lazim sebab biasanya pergantian Pangab terjadi bersamaan dengan terbentuknya Kabinet. Sidang Umum sendiri tidak berjalan mulus H J Naro , ketua Umum PPP mencium ada ketidaksetujuan Fraksi ABRI terhadap Sudharmono dan memanfaatkan untuk mencalonkan diri sebagai Wapres dengan mengharapkan dukungan dari PPP, PDI dan Fraksi ABRI. Sidang Umum sendiri berjalan ricuh dengan interupsi dari Brigjen Ibrahim Saleh yang mempertanyakan latar belakang Sudharmono. Banyak orang yang menyangka itu dikarenakan ambisi LB Moerdani yang ingin menjadi Wapres tapi konon sebenarnya Fraksi ABRI lebih suka yang menjadi wapres adalah Pangab Try Sutrisno, jadi sebenarnya LB Moerdani hanya sebagai king maker bukan berambisi untuk menjadi Wapres. Akibat dari peristiwa itu H J Naro dan orang orangnya terpental dari PPP di Muktamar 1989 demikian juga dengan Ibrahim Saleh direcall dari DPR dan karirnya mentok dipangkat Brigjen sampai pensiun sementara LB Moerdani diangkat menjadi Menhankam.
5. Try Sutrisno (1993-1998 )
Fraksi ABRI tidak ingin kecolongan lagi, akhirnya sebelum Sidang Umum MPR, Ketua Fraksi ABRI, Harsudiono Hartas langsung menyebut nama Try Sutrisno sebagai satu satunya calon wapres yang didukung Fraksi ABRI. Padahal semula Pak Harto lebih menghendaki B J Habibie sebagai Wapres.
6. Megawati ( 1999-2001 )
Tanpa diduga banyak orang, PDIP partai pemenang pemilu nyaris tidak mendapat posisi apa apa di Sidang Umum MPR. PDI mendukung PKB di pemilihan ketua MPR tapi yang menang Amien Rais sementara ketua DPR dimenangkan oleh Akbar Tanjung. Pertanggung jawaban Habibie yang ditolak membuka kesempatan poros tengah mengajukan calonnya yaitu Gus Dur. Faktor PKB sebagai faktor kunci dibaca oleh Amien Rais dan ternyata memang benar upaya menarik PKB dengan mencalonkan Gus Dur membuahkan hasil kemenangan. Akhirnya Megawati harus puas hanya dengan posisi Wakil Presiden setelah mengalahkan Hamzah Haz dari poros tengah.
7. Hamzah Haz ( 2001-2004 )
Diberhentikannya Gus Dur dan naiknya Megawati meninggalkan posisi lowong di Wapres. Lagi lagi poros tengah mengajukan calonnya yaitu Hamzah Haz. Hal yang menarik dari Sidang Istimewa itu adalah munculnya SBY sebagai calon wapres yang diusung FKKI dan utusan golongan. Di sidang istimewa SBY kalah tapi di polling TV SBY menang hal ini menginspirasi untuk terbentuknya Partai Demokrat pada 9 September 2001.
Hiruk pikuk politik menjelang pilpres tiba tiba mengingatkan gue pada Gus Dur, sosok yang sekarang pamornya tengah menyurut dalam perpolitikan nasional. Kalau berbicara tentang Gus Dur tentu kita akan ingat dengan NU, ormas yang didirikan oleh Kakek Gus Dur, Hasjim Asy’ari.
NU mempunyai basis sangat kuat di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Dengan soko guru pesantren dan Kiai sebagai sosok panutan. Kalau kita lihat dari sejarah, NU merupakan salah satu pendiri Masjumi bahkan sama seperti Muhammadiyah, NU adalah anggota istimewa Masjumi. Dengan NU di dalam Masjumi kekuatan parpol Islam tersebut begitu digjaya bahkan berhasil menjadikan Moh Natsir sebagai Perdana Menteri. Ternyata hubungan NU dengan unsur lain di Masjumi kurang harmonis, perbedaan latar belakang sosial budaya dan pendidikan menjadikan ada gap diantara NU dan elite Masjumi yang mayoritas berpendidikan Belanda. Tahun 1952 NU keluar dari Masjumi dan menjadi Parpol sendiri. Ternyata kisah masa lalu itu terus berlanjut seperti sejarah yang berulang ketika kembali NU berfusi dalam PPP, kembali NU dipinggirkan akhirnya tahun 1984 Gus Dur dengan sokongan Kiai Asad Syamsul Arifin mencanangkan kembali ke Khitah, NU tidak lagi menjadi bagian dari PPP.
Sejarah di atas perlu kita ketahui karena kelak semua sejarah panjang tersebut berkaitan dan berkesinambungan dengan hubungan antara NU dengan kelompok lain di kemudian hari termasuk kehawatiran sejumlah kiai ketika Amien Rais dan poros tengah meminta Gus Dur untuk menjadi Presiden. Memang dalam sejarah NU lebih dekat dengan PNI dibanding dengan Masjumi yang mempunyai kelanjutan Keluarga Bulan Bintang yang tersebar di PPP, PAN dan PBB. Maka tidak heran Gus Dur mempunyai kedekatan dengan Megawati di tahun 90-an.
Yang gue kagum dari Gus Dur adalah dia merupakan sosok politikus yang pintar dalam berstrategi. Tahun 1997 dia menggandeng mbak Tutut dan Megawati keliling pesantren, kalau menurut gue itu adalah upaya untuk menaikan pamor NU, tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan NU karena sejumlah pesantren mendapat perhatian dari pemerintah pak Harto serta menjalin hubungan yang baik di akar rumput dengan kaum Marhaen / pendukung Soekarno sekaligus upaya menekan PPP agar lebih memperhatikan unsur NU yang ada di PPP. Akhirnya Gus Dur memetik buahnya di tahun 1999, karena hubungannya dengan Megawati baik ditambah PPP yang kebetulan baru mempunyai ketua umum dari unsur NU, Hamzah Haz akhirnya menjadikan dia sebagai Presiden. Sesuatu yang sudah diprediksi olehnya sejak jauh jauh hari.
Hal lain yang juga menarik adalah keberpihakannya kepada minoritas, perayaan Imlek sekaligus menjadikan imlek sebagai hari libur nasional adalah salah satu buktinya. Gus Dur kalau gue perhatikan merupakan seseorang yang sangat anti apabila ada satu kelompok yang ingin mendominasi kekuasaan. Penolakannya bergabung dalam ICMI, pengangkatan Laksamana Widodo yang berasal TNI AL sebagai Panglima ABRI sekaligus menciptakan sejarah baru untuk pertama kalinya Panglima diangkat dari unsur di luar Angkatan Darat yang akhirnya menciptakan tradisi baru di mana Panglima TNI dijabat bergiliran antar angkatan, dominasi Angkatan Darat sebagai Panglima TNI beliau hapus dan memberikan kesempatan kepada Angkatan Lain untuk berperan. Pengangkatan Freddy Numberi , putra Papua pertama yang menjadi Menteri adalah bukti bahwa Gus Dur ingin merangkul semua baik minoritas maupun mayoritas.
Keberagaman ini bahkan terjadi juga keluarga Gus Dur sendiri. Gus Dur tidak pernah memaksakan anggota keluarganya untuk masuk PKB. Jadi tidak pernah ada dominasi dari Gus Dur untuk menjadikan keluarganya satu kelompok yang sama. Adik kandungnya, Aisyah HamidBaidlowi adalah tokoh Golkar bahkan menjadi anggota DPR dari Golkar mewakili Jawa Timur, pamannya, Jusuf Hasjim dan adiknya, Sholahuddin Wahid mendirikan PKU, keponakannya, Irfan Wahid alias Ipang memilih berjuang di PKS.
Surutnya peran Gus Dur adalah kehilangan buat gue, surutnya Gus Dur mungkin juga berarti surutnya pengaruh NU di perpolitikan nasional, surutnya seseorang yang memperjuangkan agar kita jangan terkotak kotak sebagai bangsa, ketika sebuah kelompok ingin mendominasi kekuasaan akhirnya semua orang lari ke solidaritas kelompok masing masing dan Indonesia terancam pecah. Itu yang Gus Dur lawan, mungkin Gus Dur seperti Kumbakarna, ketika sebuah niat diartikan berbeda akan menuai kebencian dari kelompok yang bahkan sebenarnya ia bela.
Di sini gue akan mencoba memaparkan beberapa model kepemimpinan yang pernah ada di Indonesia. Mulai dari Soekarno, Soeharto, M Yusuf , Hoegeng sampai Ali Sadikin.
1. Soekarno
Soekarno adalah seorang yang membangun persatuan bangsa, seseorang dengan gagasan gagasan besar tentang kehidupan berbangsa. Pancasila merupakan konsep yang beliau gali dari budaya bangsa. Keinginannya untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bangga dengan diri sendiri beliau wujudkan dengan membangun proyek2 monumental seperti Monas, Istora Senayan, Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Masjid Istiqlal. Dibidang ekonomi gagasannya menjadikan Sarinah sebagai barometer harga sekaligus sebagai penyalur kebutuhan pokok. Kelemahan adalah bukan seseorang yang bisa detail dalam menghadapi suatu masalah, Soekarno adalah seseorang yang yang memandang suatu persoalan hanya dari garis besarnya saja itu sebabnya dia membutuhkan Hatta dan Djuanda.
2. Soeharto,
Soeharto adalah kebalikan dari Soekarno. Soeharto ingin semua berada dibawah kendalinya, seseorang yang sangat detail dan terperinci. Komando dan pengendaliannya begitu kuat mulai dari militer, politik, ekonomi, sosial budaya. Kelebihannya stabilitas bisa terjamin sehingga modal asing banyak yang masuk, lebih mudah dalam melakukan perencanaan karena semua telah terencana dan terstruktur. kelemahannya kontrol terhadap pemerintahannya kurang setiap yang mengkritiknya dianggap mengancam Pancasila dan UUD 45.
3. Ali Sadikin
Ali Sadikin adalah orang yang keras dalam pendirian, visioner sekaligus jujur. Keputusannya melegalkan judi mendapatkan tentangan dari MUI tapi dia maju terus dengan keyakinannya bahkan beliau bersedia masuk neraka. Hasilnya proyek jalan MHT, membangun TIM, perbaikan jalan, membangun Kebun Binatang Ragunan. Beliau juga mendirikan LBH dan majalah Tempo yang ternyata justru sering mengkritik kebijakannya. Kejujurannya terlihat ketika membiarkan pemilu jurdil di DKI yang menghasilkan PPP sebagai pemenang pemilu sangat berlawanan dengan kebijakan orde baru yang mendukung Golkar.
4. M Yusuf
M Yusuf adalah panglimanya para prajurit, jenderal yang penuh perhatian kepada anak buah. Beliau sering turun ke bawah untuk melihat dan mengetahui kondisi anak buah, bagaimana dengan asrama prajurit, bagaimana dengan amunisi. Dalam kunjungannya ke daerah semua masalah yang ada dicatat dan dicarikan solusi secara cepat dan tepat. Programnya yang terkenal adalah memberikan jatah susu dan bubur kacang hijau untuk prajurit. Prajurit merasa diperhatikan oleh pimpinan pada era M Yusuf.
5. Hoegeng Iman Santoso
Apakah orang jujur cuma ada di komik? Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya mungkin jawabannya tidak karena ada Hoegeng yang menjadi potret seorang polisi yang jujur. Beliau pernah menolak mobil dinas yang diajukan setneg untuknya dia merasa cukup hanya dengan mobil dinas sederhana dari kepolisian, demikian juga ketika setneg ingin memberikan rumah dinas di jalan protokol dia merasa cukup puas dengan rumah sederhana miliknya di Jl Moh Yamin, menteng. Juga larangannya kepada istrinya untuk berbisnis toko bunga karena takut orang yang berkepentingan dengan dia membeli bunga di toko istrinya. kegigihannya dalam memberantas penyelundupan membentur tembok karena ternyata orang yang mau dia tangkap ternyata dia ketemukan sedang ngobrol dengan Pak Harto, tak berapa lama Hoegeng diganti.
Apa yang terlintas begitu mendengar kata bidadari? Pertama tentu saja cantik, berikutnya mungkin terlintas surga dan semua yang indah –indah. Konon kalau kita kelak masuk surga maka kita akan bertemu dengan bidadari dan katanya lagi bukan cuma satu tapi banyak
Seperti apa wajah sang bidadari sangat susah dibayangkan oleh akal manusia.
Gue dulu pernah membaca legenda Jaka Tarub, pemuda yang berhasil muncuri baju bidadari bahkan mengawini sang bidadari tetapi setelah sang bidadari, Nawang Wulan berhasil menemukan bajunya akhirnya Nawang Wulan malah pergi ke Khayangan meninggalkan Jaka Tarub dan anaknya. Apakah itu yang disebut cinta sementara, cinta yang muncul karena berdasarkan keterpaksaan? Ketika habis massanya cintapun sirna seperti tertiup angin. Apakah Nawang Wulan pantas disebut sebagai bidadari?
Dalam perspektif gue, bidadari adalah seharusnya sosok yang sempurna, sosok yang penuh kasih dan tulus. Sosok yang rela menjalani kesakitan dan penderitaan demi sesuatu yang dia cintai. Menurut gue sosok bidadari itu adalah ibu gue…..
Yang gue kagumi dari seorang ibu adalah cintanya yang luar biasa besar untuk anak- anaknya. Gue tidak bisa membayangkan apakah gue rela mempertaruhkan nyawa gue untuk orang lain yang gue belum tau apakah kelak akan membalas semua kebaikan gue. Tapi seorang ibu berani menghadapi itu semua, berani mempertaruhkan nyawanya, berani menghadapi dan menjalani kesakitan demi sebuah cinta.
Daur kehidupan terus berjalan, lahir, bayi, dan jujur sampai sekarang gue tidak pernah tahu betapa merepotkannya gue ketika gue bayi sebuah rahasia yang tersimpan karena ketulusan seorang ibu tidak pernah meminta apa apa, balita, kanak-kanak, remaja dan sampai sekarang. Ada harapan, kebahagian yang tumbuh ketika ibu gue melihat perkembangan gue, kecemasan dll.
Terus terang sejak kecil di dalam diri gue sudah tumbuh keinginan untuk memahami orang lain terutama ibu. Sampai hari ini gue lebih senang berusaha memahami orang daripada menuntut orang lain untuk mengerti gue. Kadang gue kasihan melihat betapa capeknya ibu gue mengurus rumah, usaha, suami dan anak2 yang banyak. Begitu banyak yang harus diurus dan gue sadar diri untuk tidak merepotkan. Gue sadar seorang ibu sebenarnya perlu ada waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin hal itu menjadikan ada jarak antara gue dan ibu, karena gue merasa kalau gue menuntut perhatian ibu itu akan menyiksa ibu gue. Di samping itu ada perasaan bahwa orang yang dekat dengan ibu adalah anak manja, itu suatu kelemahan buat gue. Gue merasa kalau gue dekat dengan ibu bisa menimbulkan ketergantungan dan ketidakmandirian, menjadi seorang laki laki yang lemah dan tergantung pada seorang wanita, hal yang sangat memalukan untuk gue yang sejak kecil digadang – gadang sebagai harapan dan kebanggaan keluarga. Gue tidak ingin terlalu tergantung dan terikat dengan yang namanya ibu atau orang lain.
Kemudian baru gue sadar, mungkin ini kesadaran yang terlambat, melawan cinta bukan menunjukkan bahwa gue kuat justru melawan cinta menunjukkan bahwa gue lemah. Mencintai ibu bukan berarti membuat kita menjadi laki laki yang lemah, mencintai ibu justru membuat kita menjadi lebih kuat, sekuat dan seberani seorang ibu yang berani menjalani kesakitan untuk sebuah cinta. Jalan cinta bukanlah jalan bertabur bunga dengan karpet merah, jalan cinta tempat di mana onak dan duri berada, tempat di mana ketulusan cinta diuji oleh penderitaan, kerepotan dan kehilangan. Jalan cinta tidak meminta banyak, dia hanya meminta untuk dijalani dan ibu menjalaninya. Perjalanan cinta seorang ibu yang penuh pengorbanan dan keikhlasan ketika melepas anak anaknya persis seperti busur yang rela melepas anak panah meninggalkannya, sepi dan sendiri adalah konsekuensi. Tapi ibu tidak pernah mengeluh… hanya doa yang dia berikan untuk anak anaknya. Apakah yang lebih hebat dari cinta seorang ibu, ketika tidak merasa sakit ketika ditinggalkan, ketika merelakan anaknya pergi untuk kebahagiaan itulah cinta yang paripurna…
.
Hari ini ketika melihat ibu tersenyum, gue melihat senyum seorang bidadari……..entah kenapa gue hanya mampu terdiam. Sampai hari ini bahkan gue nggak sanggup untuk sekedar bilang “ I Love You “ kata kata yang tersimpan begitu lama dan begitu ingin gue ucapkan untuknya…..
Berada di sebuah toko kue di Sarinah, Thamrin sambil melihat cewek- cewek yang bersileweran, berada di Sarinah tiba tiba gue teringat tentang Bung Karno. Gue berasal dari keluarga Soekarnois, ortu gue adalah pendukung dan pengagum Soekarno. Tentu saja sebagai keluarga pengagum Soekarno begitu banyak informasi yang bertebaran di sekeliling gue. Buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sudah gue baca sejak di Sekolah Dasar demikian juga dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang, Kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno. Buku yang lain yang cukup bagus adalah Sarinah, sebuah buku tua yang pernah gue baca juga yang sayangnya hilang ketika gue sekeluarga pindah rumah. Tentu saja banyak hal yang tidak tertulis di buku seperti kisah cinta BK dengan Haryati, Kartini Manoppo, Yurike Sanger, Heldy Djafar akan tetapi gue banyak mendapatkan informasinya dari orang tua gue maupun ngobrol- ngobrol ringan ala Aramichi dengan para sesepuh dan mantan petinggi Orde Lama.
Kalau gue amati Soekarno mempunyai kecintaan yang luar biasa terhadap bangsa Indonesia, baik Tanah Air maupun rakyat yang berdiam di dalamnya, terutama rakyat kecil. Sebuah kecintaan yang diwujudkan dengan pengorbanan dan penderitaan sebagai konsekuensi dari sebuah perjuangan. Ketika Jenderal Besar AH Nasution ditanya oleh seorang wartawan Amerika pendapatnya tentang Bung Karno, AH Nasution berkata: ” Beliau sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia sebelum saya sadar akan perjuangan kemerdekaan.” Sebuah pernyataan yang jujur dari seseorang yang hubungannya dengan BK sempat turun naik. Bahwa bagaimanapun jasa dan perjuangan seorang BK tidak pernah bisa terhapus dari sejarah bangsa Indonesia.
Selain kecintaan terhadap Tanah Air yang begitu tinggi dan meluap- luap hal yang terkenal dari BK adalah kecintaannya terhadap wanita, BK adalah seorang pecinta wanita. Gue ingat di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia diceritakan tentang Mien Hessels, sesorang noni Belanda yang ditaksir BK. Begitu naksirnya BK terhadap Mien Hessels sehingga dia nekat untuk untuk melamar Mien Hessels kepada ayah Mien Hessels. BK ditolak dan dicaci- maki dengan kata -kata yang berbau SARA. Dalam konteks sebuah jaman ketika pribumi dianggap bangsa kelas tiga, setelah Belanda dan Timur Asing tidak dapat dihindari pandangan yang memandang seseorang dari kelompok dari mana dia berasal, manusia tidak dipandang sebagai manusia tapi dipandang dari kelompok mana dia berasal apakah dia seorang Belanda, Indo, Timur Asing atau pribumi. Pribumi disebut inlander yang statusnya dianggap lebih rendah bahkan dianggap seperti binatang kotor. BK sakit hati sekali akan peristiwa tersebut.
Kisah cinta yang lain , tentu yang sangat romantis adalah dengan Inggit Garnasih yang oleh BK dijuluki Srikandi Indonesia. Lanjut lagi dengan Fatmawati kemudian Hartini yang pernikahannya mengundang demonstrasi dari ibu- ibu, kemudian seolah tak terbendung muncul Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati , Yurike Sanger dan Heldy Djafar. Sebelum dengan Ibu Inggit, BK sempat menikah dengan Oetari Tjokroaminoto akan tetapi ternyata perasaan BK terhadap Oetari seperti perasaan seorang kakak terhadap seorang adik, akhirnya Oetari dikembalikan kepada HOS Tjokroaminoto.
Tapi siapakah sebenarnya wanita yang menjadi figur kunci dari seorang BK? Kalau kita ingin memahami orang sudah pasti kita harus mengetahui sejarah orang tersebut, lebih lanjut lagi kita harus tahu siapakah yang menjadi sosok panutan kalau istilah kerennya Role Model. Sosok wanita yang dianggap sosok wanita ideal. Siapakah sosok itu? Kalau menurut gue, sosok itu adalah Sarinah. Siapakah Sarinah? Kalau dilihat di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, BK menceritakan tentang Sarinah berikut kutipannya:
” Sarinah adalah bagian dari rumah-tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato, ” Karno pertama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian kau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.” Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku. “
Begitu membekasnya sosok Sarinah di benak seorang BK sehingga sosok Sarinah muncul terus bahkan ketika BK berada di puncak kejayaannya. Gue mencatat paling sedikit ada 3 hal yang menunjukan betapa berpengaruhnya sosok Sarinah dalam hidup BK.
1. Sebuah buku yang berjudul Sarinah, Sub judul: Kewajiban Wanita dalam Perdjuangan Republik Indonesia. Buku Sarinah merupakan kumpulan bahan bahan kursus wanita yang diselenggarakan oleh BK di Istana Kepresidenan Yogyakarta setiap dua minggu sekali. Buku tersebut dibuat karena banyaknya permintaan dari peserta kursus agar bahan kursus tersebut dibukukan. BK sendiri yang mengumpulkan bahan kursus, melengkapi dan menulis ulang sehingga menjadi buku. Alasan diberi judul Sarinah adalah sebagai berikut, dikutip dari pengantar di buku Sarinah:
“Saya namakan Sarinah, sebagai tanda terima kasih. Ketika masih kanak-kanak, pengasuh saya bernama Sarinah. Ia mbok saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya telah menerima rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya menerima pelajaran untuk mencintai orang kecil. Dia sendiri orang kecil, tetapi budinya besar. Semoga Tuhan membalas kebaikannya.”
2. Toserba pertama di Indonesia, Sarinah. Gagasan mendirikan toserba tersebut muncul dari lawatan BK ke mancanegara, negara negara tersebut sudah mempunyai pusat perbelanjaan modern. BK bermaksud menjadikan Sarinah sebagai tempat penyaluran barang barang untuk keperluan rakyat jelata. Toserba Sarinah sebagai pusat perbelanjaan modern yang bisa memenuhi keinginan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus. Suatu visi mbok Sarinah tentang keberpihakan terhadap rakyat jelata berusaha diwujudkan oleh BK secara konkret.
3. Lukisan Sarinah, menurut ibu Hartini, lukisan Sarinah merupakan lukisan hasil karya BK sendiri. Lukisan tersebut dibuat di Bali tahun 1958 dengan model seorang gadis Bali yang melintas dengan sepeda secara kebetulan. Lukisan gadis berkebaya tersebut dinamakan Sarinah.
Munculnya beberapa kali nama Sarinah mulai dari judul buku, nama toserba, nama lukisan wanita berkebaya ditambah keterangan di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia memberikan pesan yang kuat, pesan yang kuat adalah pesan yang muncul berkali kali. Dari situ dapat kita lihat peristiwa- peristiwa yang terjadi kemudian adalah mungkin berkaitan dengan sosok Sarinah sebagai sosok wanita ideal untuk BK. Perjalanan ke Bandung Selatan yang berakibat pertemuan dengan petani Marhaen yang menginspirasi Marhaenisme adalah wujud kepedulian BK terhadap rakyat jelata sesuai dengan pesan mbok Sarinah. Pengembalian Oetari yang lebih muda usianya dari BK ke HOS Tjokroaminoto kemudian BK malah memilih Inggit Garnasih, wanita matang, keibuan yang sudah menjadi istri orang dan 12 tahun lebih tua dari BK. Keinginan agar ibu Hartini selalu berkebaya. Pernikahan sebanyak 9 kali mulai dari Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar. Apakah itu semua adalah akibat kerinduan terhadap sosok wanita ideal, pencarian untuk melengkapi yang tidak dia dapatkan dari pasangannya, pencarian terhadap sosok wanita dan cinta yang hilang, sosok Sarinah, sosok seorang ibu………?
SDSB, Siska Datang Sudomo Bahagia, sebuah anekdot ala Orde Baru yang merupakan plesetan dari SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah yang merupakan kelanjutan dari Porkas.
Sudomo seorang duda meminang seorang perempuan muda ( ketika itu ) bernama Siska yang konon adalah pemain film yang cantik jelita. Orang melihat Sudomo sebagai seseorang yang berbahagia karena mempunyai istri yang cantik jelita dan masih muda, terkenal lagi maka lahirlah plesetan itu Siska Datang Sudomo Bahagia. Apakah benar Sudomo bahagia? Yang tau ya cuma Sudomo sendiri he he he, bukan urusan gue untuk menilai apakah Sudomo itu bahagia atau nggak…
Dari dulu sampai sekarang gue berkeyakinan bahagia itu adanya di otak, dia itu adalah permainan pikiran belaka, bahagia adalah pilihan bukan tujuan. Jadi menurut gue bahagia itu bukanlah sesuatu peristiwa yang luar biasa karena memang sudah seperti itu dan jangan lupa bahagia tidak pernah datang sendirian ke dunia ini, entah kenapa selalu ada yang menemani yaitu kesedihan / kesusahan. Kadang gue pikir kesusahan itu memang perlu ada agar kita bisa merasakan bahagia. Sering kita tidak bisa menghargai yang kita punya kalau kehidupan begitu datar, seolah memang sudah seharusnya begitu.
Mempunyai kekasih yang biasa biasa saja kita ngomel, nyesel gue dapet dia pikir kita. Trus tiba tiba datang cewek yang lebih cantik, pintar, enak diajak ngobrol, menantang, menggereget, tiba tiba cewek kita jadi kelihatan serba jelek bak kata pepatah rumput tetangga selalu lebih hijau. Keindahan ternyata kadang hanyalah sebuah fatamorgana kehidupan, apa yang kita lihat sebagai rumput yang lebih hijau tenyata hanyalah sebuah fatamorgana persis seperti semangka yang luarnya hijau ternyata isinya merah. Apa yang terlihat dan kita bayangkan tidak sama dengan kenyataan. Terbayang kekasih kita yang setia, biarpun biasa saja tapi dia mampu menyenangkan dan menyejukkan, tidak terlalu pintar tapi mau menghargai orang.
Kebahagiaan ternyata tidak punya parameter. Kebahagian itu ternyata beda beda seperti warna pelangi yang muncul sehabis hujan, mejikuhibiniu. Kita baru bisa bersyukur dengan apa yang kita punya setelah terjadi suatu peristiwa yang menyadarkan bahwa betapa berharganya yang kita punya, bahwa bahagia menurut orang lain belum tentu bahagia untuk diri kita sendiri. Kadang gue berpikir apakah kakek gue bahagia dengan hidupnya yang begitu begitu saja sampai beliau meninggal, kadang orang menyayangkan langkah langkah yang gue ambil, “sayang banget seharusnya lo bisa dapet yang lebih baik” , “kalau gue punya otak seperti lo gue bisa lebih sukses dan bahagia” dll. Kebahagian orang beda beda bro…….setiap orang punya jalan masing masing… Tidak bisa kita hanya memaksakan hanya ada satu jalan atau beberapa jalan saja menuju kebahagian.
Bahagia adalah pilihan dan kadang dia tidak datang sendirian…. Yang menjadi masalah adalah kadang kita tidak siap untuk menerima kebahagiaan dan temannya yaitu kesusahan yang datang bersamaan atau beriringan , padahal kesusahan dan kebahagian adalah tamu kita yang harus kita terima dan layani setiap dia datang. Sungguh bahagia orang yang Islam, apabila diberi kesenangan dia bersyukur dan apabila diberi kesusahan dia bersabar..
Kalau dilihat dari sudut sejarah, Euro Cup memang mempunyai perbedaan dibanding dengan World Cup. Kalau di World Cup tradisi sangat penting, juara- juaranya biasanya adalah tim- tim yang mempunyai tradisi sepakbola kuat seperti Brasil, Italia, Argentina, Jerman. Tradisi yang begitu kuat bahkan membuat tim Superior seperti tim Belanda di Word Cup 1974 yang diasuh pelatih jenius, Rinus Michels yang mengusung Total Footbal tidak sanggup untuk mendobraknya, Belanda harus puas menjadi runner- up karena dikalahkan Jerman. Bahkan di puncak kejayaan Trio Milan, Marco Van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard yang terkenalpun Belanda tidak berkutik di World Cup.
Euro Cup mempunyai tradisi yang berbeda dengan World Cup, di sini tim- tim pinggiran dan tim -tim yang tidak punya tradisi kuat juara World Cup bisa menjadi kampiun, jadi kekuatan tradisi tidak begitu kuat di sini siapapun bisa jadi juara. Tim yang mempunyai tradisi kuat di World Cup seperti Jerman, Juara 3 kali Worl Cup hanya 3 kali juara Euro Cup ( 1972, 1980 dan 1996 ) Italia juara World Cup 4 kali bahkan baru 1 kali juara Euro Cup, tahun 1968. Uni Soviet bisa menjadi juara tahun 1960, Spanyol juara tahun 1964, Ceko juara tahun 1976 dengan mengalahkan juara dunia Jerman di final, Prancis juara tahun 1984, Belanda juara tahun 1988, bahkan Denmark, negara yang tadinya tidak lolos kualifikasi ke final akhirnya bisa menjadi juara setelah mengalahkan Jerman tahun 1992, padahal Denmark hanya menggantikan Yugoslavia yang dilanda perang saudara. Kejutan terjadi lagi tahun 2004, negara antah berantah dalam dunia sepakbola Yunani bisa menjadi juara Euro Cup.
Nah bagaimana dengan Euro 2008? Apakah tim dengan tradisi lemah dalam World Cup akan kembali menjadi juara, akankah muncul tim antah berantah yang akhirnya bisa menjadi juara seperti terjadi pada Denmark tahun 1992 dan Yunani 2004?
Kalau gue, kali ini pegang Belanda dan Spanyol, sungguh mengasikan melihat tim gaek Prancis dibantai 4-1, serta tim Italia yang biasa biasa saja itu dibotaki 3-0. Prancis dan Italia hanya bisa berharap pada kebaikan Belanda sungguh sebuah ironi dan tragedy. Prancis tanpa Zidane seperti Argentina tanpa Diego Maradona, lemah dan tak berdaya seperti tanpa arah yang jelas. Italia beruntung diselamatkan Buffon pada laga melawan Rumania, tidak terlihat ketangguhan pertahanan grendel yang menjadi ciri khas Italia, juga tidak ada striker haus gol seperti Paolo Rossi dan Christian Vieri pada tim Italia. Akhirnya karena Tim Belanda B membekuk Rumania 2-0 dan Italia sukses mengalahkan Prancis menghasilkan Italia sebagai runner-up grub C.
Kalau gue lihat Belanda mempunyai peluang lebih besar dari Spanyol karena Belanda mempunya pemain yang merata di semua lini serta mempunyai trio Madrid yang gue lihat seperti reinkarnasi trio Milan, Wesley Sneijder semakin matang setelah bergabung dengan Real Madrid, demikian juga dengan Ruud van Nistelrooy dan Arjen Robben. Secara tim juga lebih kompak berbeda dengan Tim 90 an dan awal 2000 an yang mempunyai masalah di ruang ganti akibat sejumlah pemain bintang yang bermasalah dan tidak lupa ada masalah SARA yang tidak selesai selesai. Dari sudut pelatih Marco Van Basten juga merupakan sosok yang dihormati karena merupakan pahlawan Belanda, Van Basten juga sosok yang ngemong dan tidak panasan berbeda dengan Frank Rijkaard yang temperamental sehingga sering ada masalah dengan anak buahnya di Barcelona, disinyalir itu juga yang menyebabkan kegagalan Barca 2 tahun terakhir. Frank Rijkaard ini juga dulu tercatat pernah main ludah- ludahan dengan Rudi Voeller, pemain Jerman yang mengakibatkan keduanya dikartu merah.
Hanya saja Belanda ini punya kelemahan yaitu masalah mental karena para seniornya sering kalah adu penalti, gue rasa hal ini akan berpengaruh ketika Belanda harus dihadapkan dengan adu penalti dan tentu saja semangat tim Belanda ini tidak setangguh Jerman ini berhubungan dengan karakter bangsa karena patut diingat Belanda pernah dijajah Prancis dan Jerman jadi secara tanpa sadar ada perasaan rendah diri sebagai bangsa yang pernah dijajah berbeda dengan Jerman yang mempunyai kebanggaan terhadap negara dan ras yang begitu tinggi.
Jerman sendiri sebagai negara yang paling banyak menjuarai Euro, gue lihat sedang berada di grafik menurun berbeda dengan di masa lalu era 70 an – 90an. Jerman tahun 1972 juara Euro, 1974 juara World Cup, 1976 runner-up Euro, 1980 Juara Euro, 1982 runner-up World Cup, 1986 runner up World Cup, 1990 Juara World Cup, 1992 runner-up Euro, 1996 juara Euro. Titik baliknya gue lihat terjadi di tahun 1992 setelah mencapai puncak di tahun 1990. Generasi emas trio Inter, Mattheus, Klinsmann, Brehme ditambah pemain AS Roma Rudi Voeller beranjak tua tapi generasi emas berikutnya tak kunjung muncul, Mattias Sammer ex pemain Jerman Timur sempat memberi harapan dan dijuluki reinkarnasi Franz Beckenbauer tapi karena dibekab cedera akhirnya kinerjanya tidak optimal. Terjadi kesenjangan generasi sampai sekarang. Gue nggak tau apakah hal ini karena kompetisi di Jerman yang gitu gitu aja dan kurang duit sehingga kurang semarak, hanya didominasi FC Bayern München sehingga sangat jarang pemain Jerman yang berkiprah di luar Jerman dan terlibat dalam kompetisi yang ketat. Kalau kita lihat generasi emas Jerman Mattheus, Klinsmann, Brehme bergabung di Inter serta berkompetisi secara ketat dengan Trio Milan, Marco Van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard bahkan trio Inter berkompetisi juga dengan “ Sang nabi sepakbola” Diego Armando Maradona, demikian juga dengan Rudi Voller yang bergabung dengan AS Roma. Jadi generasi emas Jerman bisa sukses karena ditempa oleh kompetisi paling ketat di dunia bahkan bertanding dengan nabinya sepakbola. Ini yang tidak gue lihat dari generasi Jerman sekarang yang hanya bermodal semangat dan kebesaran masa lalu. Memang pemain Jerman sekarang tidak punya beban mental seperti pemain Inggris dan Belanda yang trauma terhadap adu pinalti tapi di era sekarang semangat dan sejarah masa lalu saja tidak cukup harus juga ditunjang skill yang mumpuni dan fisik yang kuat karena diasah oleh kompetisi yang ketat.
Jadi kesimpulannya jagoan gue di Euro kali ini adalah Belanda dan Spanyol serta tim kuda hitam adalah Portugal, sementara untuk Jerman dan Italia, sorry ini bukan masanya anda lagi. Semangat dan kebesaran masa lalu tidak banyak bisa menolong kalau kualitas pemain dan cara mainnya masih seperti itu.
“ Rumah Pak RW di mana?” Tanya gue. ” Oh rumah Pak RW di Jl Serang, deket Situ Lembang” kata bokap gue . Berangkat lah gue menuju ke Jl Lembang untuk ngurus KTP, gue celingak celinguk ternyata nggak ada yang namanya Jl Serang yang ada Jl Purwakarta, Jl Lembang sama Jl Syamsurizal. Setelah gue tanya sama penduduk sekitar yang dimaksud Jl Serang oleh bokap gue itu adalah Jl Syamsurizal. Jl Serang telah berganti nama jadi Jl Syamsurizal. Itulah sekelumit pengalaman gue di masa lalu tentang nama- nama jalan yang berubah di Menteng. Orang jaman dulu taunya nama jalan ya sesuai dengan jaman dia dahulu ternyata sekarang nama jalan telah berubah, termasuk bokap gue dia taunya rumah Pak RW yang pensiunan CPM itu ya di Jl Serang ( keterangan tambahan sekarang Pak RW udah ganti orang karena Pak RW yang lama pindah rumah, sekarang RW gue di Jl Purwakarta, namanya mas Bambang ). Syamsurizal adalah nama mantan Walikota Jakarta periode 1951-1953.
Dari hasil ngobrol ngobrol ringan ala Aramichi dengan para sesepuh Menteng, gue menemukan memang banyak nama- nama jalan yang berubah di Menteng. Dari dulu sampai sekarang jalan- jalan di Menteng banyak menggunakan nama nama kota atau nama daerah. Pada perjalanannya nama jalan yang berupa nama kota atau nama daerah itu banyak diganti dengan nama - nama Pahlawan. Jl Prof Moh Yamin dulu namanya Jl Madura. Jl Sutan Syahrir dulu namanya Jl Gersik, jejaknya dapat kita lihat dari nama kanal yang membelah Jl Prof Moh Yamin dengan Jl Sutan Syahrir, nama kanal tersebut Kali Gersik. Yang gue cukup heran kenapa Jl Gersik dinamai Jl Sutan Syahrir padahal Sutan Syahrir itu sendiri rumahnya di Jl Jawa alias Jl HOS Cokroaminoto, kenapa Jl Jawa diganti jadi Jl HOS Cokroaminoto kenapa nggak diganti jadi Jl Sutan Syahrir? Mengenai Jl Jawa sampai sekarang orang orang tua masih banyak yang menyebut Jl HOS Cokroaminoto dengan nama Jl Jawa. Jejak nama Jl Jawa dapat kita lihat dari Apotek Jawa yang terletak di Jl HOS Cokroaminoto.
Terus ada lagi Jl Ki Mangun Sarkoro itu dulu namanya Jl Yogya. Jl Suwiryo dulu namanya nya Jl Palm, Cafe Palm Terrace di Jl Suwiryo No 22, mungkin diilhami oleh Jl Palm. Suwiryo adalah nama Walikota Jakarta yang pertama, periode 1945-1951, beliau sendiri memang tinggal di Jl Palm setelah pensiun dari jabatan walikota. Jl Kusumaatmaja dulu namanya Jl Tosari. Jl RP Soeroso dulu namanya Jl Gondangdia. Yang gue baru tau ternyata Jl Teuku Cik Ditiro dulu namanya Jl Mampang, dulu gue heran ada Binatu ( Laundry ) di Jl Teuku Cik Ditiro kok namanya Binatu Mampang padahal yang gue tau Mampang itukan di dekat Kuningan dan Buncit ternyata oh ternyata Jl Teuku Cik Ditiro dulu namanya Jl Mampang.
Nggak kebayang deh repotnya kalau nama jalan rumah gue diganti, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Dulu ada kalau di surat surat pakai d/h alias dahulu, misalkan Jl Syamsurizal d/h Jl Serang. Ngomong ngomong Pemprov ada rencana mengganti nama jalan yang ada di Menteng dengan nama Jl Sutiyoso nggak ya nantinya he he he he soalnya sudah ada 2 nama mantan Walikota yang jadi nama jalan di Menteng yaitu Suwiryo dan Syamsurizal. Kebayang nggak sih kalau Jl Lembang nanti berganti menjadi Jl Letjen Sutiyoso dan Situ Lembang menjadi Situ Sutiyoso
:)
Berita Terbaru 23 Mei 2008 :
KOMPAS, 23 Mei 2008 hal 25 : Jalan Ali Sadikin Dikaji
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengkaji lokasi yang memiliki bobot terbaik untuk diberi nama Jalan Ali Sadikin.
Berapa kali anda kecewa dengan PSSI? Mungkin kalau pertanyaan tersebut diajukan kepada saya jawabnya adalah tidak perlu kecewa dengan PSSI karena memang saya tidak terlalu berharap banyak terhadap prestasi PSSI. Ketika Piala Dunia, saya dan banyak orang lainnya menjagokan negara lain, kenapa saya tidak menjagokan PSSI, kemana nasionalisme anak muda yang begitu menggelegak? Jawabannya karena tidak ada PSSI di sana . Indonesia tidak pernah ikut Piala Dunia, hanya ada Dutch East Indies yang ikut Piala Dunia tahun 1938 di Prancis, itupun Achmad Nawir cs dibantai 0-6 oleh Hungaria, Hungaria akhirnya menjadi runner-up Piala Dunia 1938.
Sejarah yang selalu dibangga- banggakan adalah pada Olimpiade Melbourne tahun 1956, ketika pasukan merah putih sukses menahan tim Beruang Merah, Uni Soviet 0-0. Diarsiteki Tony Poganik, pelatih asal Yugoslavia, tim merah putih diperkuat macan- macan bola tanah air seperti Maulwi Saelan, Ramang, Djamiat Dalhar, LH Tanoto, Kiat Sek, Ramlan dkk yang dengan semangat 45 mempertahankan setiap jengkal daerah pertahanan dari ancaman Uni Soviet yang begitu ganas. Maulwi Saelan sebagai kiper jatuh bangun menahan gempuran penyerang- penyerang Uni Soviet. Indonesia berhasil menahan Uni Soviet dalam 2 X 45 menit bahkan sampai perpanjangan 2 X 15 menit. Menurut peraturan ketika itu, apabila pertandingan berakhir seri maka harus dilakukan pertandingan ulang, bukannya adu pinalti seperti sekarang. Pertandingan ulang dilakukan 3 hari kemudian dan PSSI kalah terhormat 0-4, konon Uni Soviet di pertandingan pertama bermain curang, istilahnya main kayu sehingga mengakibatkan banyak pemain PSSI remuk kakinya. Uni Soviet akhirnya meraih medali emas Olimpiade Melboune 1956.
Kenangan yang lain adalah ketika Senayan dibanjiri oleh lebih dari 120 ribu masyarakat gila bola, mendukung PSSI melawan tim nasional Korea Utara. Pertandingan ini sangat krusial karena menentukan siapa yang mewakili Asia ke Olimpiade Montreal, Canada. Tim merah putih ketika itu diawaki oleh sang arsitek pelatih asal Belanda, Wiel Coerver, kiper legendaris Ronny Pasla, libero terkenal Ronny Pattinasarany, Iswadi Idris, Risdianto, Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah, Nobon dan Anjas Asmara. Pada pertandingan waktu normal dan perpanjangan waktu PSSI berhasil menahan Korea Utara kaca mata alias 0-0. Dilakukan adu pinalti, algojo PSSI Anjas Asmara dan algojo penentu Suaeb Rizal gagal, tendangannya melenceng. Sampai puluhan tahun kemudian Anjas Asmara tidak pernah bisa melupakan kegagalan dalam melaksanakan pinalti. Konon Anjas menjadi trauma untuk mengambil pinalti. Tangis segera tumpah di Senayan, pemain menangis dan banyak penontonpun ikut meneteskan air mata seiring terbangnya tiket ke Korea Utara. Tangis bukan hanya di Senayan tapi juga di seluruh pelosok tanah air karena pertandingan tersebut disiarkan langsung TVRI.
Kenangan cukup indah terjadi di era 80 an, dimulai dengan proyek Garuda yang dipimpin oleh Sigit Harjojudanto ( anak Pak Harto ) yang mengirim para pemain untuk berlatih ke Brasil, berhasil menghasilkan beberapa prestasi. PSSI Garuda menjadi Runner-up Kings Cup di Thailand . Pemain jebolan PSSI Garuda antara lain Patar Tambunan, Marzuki Nyak Mad, Azhari Rangkuti mereka bersama sama dengan pemain Galatama seperti Ricky Jacob, Bambang Nurdiansyah, Herry Kiswanto, Zulkarnen Lubis ( dijuluki Maradonanya Indonesia ), Elly Idris, Rully Nere, Jaya Hartono dan pemain perserikatan seperi Robby Darwis, Ribut Waidi dan Ponirin Mekka menjadi tulang punggung PSSI. PSSI menjadi juara subgrub 3 B Pra Piala Dunia Mexico, lagi lagi langkah PSSI dijegal oleh Korea, kali ini Korea Selatan. PSSI kemudian berhasil menjadi 4 besar ( Semi Finalis ) di ASIAN Games 1986, Korea . Kemudian PSSI berhasil menorehkan prestasi legendaris yaitu Juara SEA Games untuk pertama kalinya, pada tahun 1987 di Jakarta, dihadapan para pendukungnya. Ribut Waidi menciptakan gol emas pada pertandingan final . Prestasi ini bahkan melebihi prestasi macan- macan bola era 70 an, Ronny Pattinasarany, Iswadi Idris, Risdianto, Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah, Nobon, Anjas Asmara, Andi Lala dan Abdul Kadir yang menemui kegagalan di 2 SEA Games, 1977 dan 1979. Pada tahun 1977 di Kuala Lumpur terjadi perkelahian antara pemain PSSI melawan pemain Thailand dan penonton tuan rumah di Semi Final, pada tahun 1979 PSSI takluk 0-1 dari Malaysia di Jakarta sehingga harus puas dengan medali perak. Era kejayaan PSSI berlangsung sampai tahun 1991 ketika kembali PSSI meraih medali emas SEA Games, kali ini di negeri orang, Manila, Philippines . Latihan keras ala militer yang diterapkan oleh pelatih asal Rusia Anatoly Polosin dan Vladimir Urin berbuah emas untuk dipersembahkan kepada rakyat Indonesia. Kedua medali emas SEA Games Indonesia terjadi pada era kepemimpinan Kardono ( mantan Sekmil Pak Harto ).
Apa yang terjadi sekarang? Tidak ada emas SEA Games, empat besar ASIAN Games atau Olimpiade. Di Piala Tiger atau sekarang Piala AFF yang tarafnya regional, PSSI tidak berdaya. Puluhan ribu bahkan ratusan ribu penonton tidak mampu mengangkat moral pemain PSSI. PSSI bahkan keok menghadapi Singapura, kesebelasan yang dulu selalu menjadi bulan- bulanan PSSI. Senayan tidak lagi angker untuk tim tamu. Ada apa dengan PSSI? Kemana semangat putra putra Indonesia dengan lambang Garuda di dada? Dulu pemain era 50 an dengan lambang Garuda di dada dengan gizi terbatas bersikap rela mati di lapangan demi Indonesia, tak perduli kaki remuk akibat perbuatan pemain Uni Soviet. Masihkah ada semangat juang seperti yang dulu? Ataukah kita, bangsa Indonesia memang tidak perlu berharap terhadap PSSI?
“Lo mau kemana, aku ingin kita satu arah, ” sebuah pertanyaan sekaligus sebuah harapan. Hidup ternyata bukan hanya berisi pertanyaan dan harapan tapi juga berisi pilihan. Selalu ada pilihan dan selalu ada konsekuensi, kadang manis kadang pahit.
Pertanyaan terbesar dalam hidup gue adalah apakah arti hidup dan apa tujuan hidup, apakah kita hidup hanya untuk menunggu kematian? Apakah hidup hanya untuk merasakan kebahagiaan dan kesedihan? Lahir, kanak- kanak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati, setelah mati masuk kubur kemudian dimakan cacing atau jenazah kita dibakar dan jadi abu. Apakah penting orang mengenang kita sebagai apa sementara kita sendiri sudah mati, pentingkah pandangan orang terhadap orang yang sudah jadi tulang belulang yang rapuh atau jadi abu?
Gue rasa setiap orang punya pandangan hidup yang berisi nilai nilai yang dia anut yang tentunya akan mempengaruhi perilaku. Bermacam- macam konsep mewarnai hidup manusia dan manusia juga yang akhirnya memilih konsep mana yang dia pakai dan mana yang dia tolak. Informasi, ide-ide, imaginasi, pengalaman dan kepercayaan membentuk pengetahuan yang oleh otak kemudian disusun menjadi sesuatu yang koheren yang akhirnya membentuk apa yang disebut pandangan hidup.
Kembali ke konsep hidup, entah kenapa dalam diri manusia selalu mencari kebenaran. Jalan kebenaran ini menurut gue adalah sesuatu yang rumit, berliku- liku, banyak tikungan tajam dan nggak jelas. Keadilan dan kemanusiaan adalah termasuk jalan kebenaran yang membingungkan dan manusia hanya bisa menebak- nebak manakah jalan kebenaran itu.
Karena jalan kebenaran adalah suatu misteri akhirnya manusia mencarinya dengan bantuan- bantuan, ada yang pakai agama dan ada juga yang pakai akal. Seperti yang sudah kita ketahui akal manusia macam- macam tergantung cara dia mengolah dan tentunya juga tergantung Informasi, ide-ide, imaginasi, pengalaman dan kepercayaan orang tersebut. Buat masyarakat tertentu tidak apa- apa perempuan telanjang dada terus pergi kemana mana, buat masyarakat tertentu bakteri bukan realitas, penyakit disebabkan kutukan atau teluh.
Kebenaran dan realitas menurut sebagian orang hanya dapat dipecahkan oleh akal akhirnya Fisika dan Biologi jadi agama ini kecenderungan yang gue baca. Sudah pasti kalau kita mau mencari sesuatu yang tidak kita ketahui apalagi misterius dan pemahamannya berlapis- lapis syarat mutlaknya adalah kita harus ragu ragu. Keragu- raguan inilah yang kita buktikan melalui eksperimen. Kalau mau mencari kebenaran dan realitas dengan menggunakan metode akal, keyakinan tidak boleh 100 % karena kalau keyakinan kita 100 % berarti kita menutup diri terhadap kemungkinan adanya kebenaran dan realitas yang lain.
Metode ragu- ragu ini mempunyai konsekuensi yaitu kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang absolut. Menjadi sesuatu yang aneh menurut gue karena tujuan metode ragu- ragu ini sebenarnya adalah mencari kebenaran dan realitas yang tersembunyi tapi karena kita selalu ragu- ragu akan suatu kebenaran akhirnya kita tidak akan pernah menemukan kebenaran sejati, walaupun kebenaran sejati datang mengetuk dan memanggil kita akan tetap ragu –ragu, sementara hidup terus berjalan dan keputusan- keputusan penting dalam hidup harus kita ambil. Keragu- raguan sesuatu yang positif tapi dia juga bisa negatif.
Ketika seseorang mencari jalan kebenaran dalam rangka mencari arti dan tujuan hidup, seseorang bukan hanya perlu keragu- raguan tapi perlu juga sebuah keyakinan, masalah apakah dia ternyata salah atau benar manusia tidak akan pernah tau karena jalan kebenaran penuh misteri dan manusia hanya dapat menebak-nebak dan kalau menebak- nebak pilihannya cuma 2, benar atau salah. Gue memilih Islam dan gue siap dengan konsekuensinya. Ini pilihan yang gue ambil karena gue bukan hanya butuh sesuatu yang relatif tapi gue juga butuh suatu keyakinan terhadap yang absolut dalam menjalani hidup. Wahyu dan akal akan selalu mewarnai kehidupan, sesuatu yang absolut sekaligus relatif, sesuatu yang relatif bersandar pada yang absolut, itu jalan kebenaran yang gue tempuh.
Jawa dan kemiskinan adalah sebuah sejarah panjang, di buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat diceritakan pada tahun 1921 Soekarno yang bolos kuliah jalan- jalan ke Bandung Selatan di situ dia bertemu dengan seorang petani, namanya Marhaen. Pak Marhaen ini punya alat produksi seperti tanah, cangkul, bajak dia juga punya rumah sendiri meskipun begitu ternyata kerja kerasnya hanya cukup untuk makan.
Ternyata setelah Indonesia merdeka, bahkan setelah 87 tahun dari peristiwa pertemuan Soekarno dengan petani Marhaen kemiskinan tidak juga hengkang dari Pulau Jawa. Dari dulu gue mikir apa sebabnya kemiskinan tidak hengkang- hengkang dari Pulau Jawa, apa yang salah disini? Apakah pilihan untuk menjadi petani seperti Pak Marhaen adalah keputusan yang salah? Menjadi petani adalah seperti menjalani kutukan, harga pupuk tinggi, harga pestisida tinggi, harga bibit tinggi bahkan banyak yang palsu, banyak hama, harga jual gabah jatuh ketika panen raya. Uang dari hasil penjualan gabah hanya cukup, kadang kadang malah kurang untuk makan, petani hidup dari hutang dengan bunga tinggi yang diberikan rentenir.
Masalah utama di Pulau Jawa adalah tanah, tidak semua petani punya tanah, kebanyakan adalah petani penggarap yang harus bagi hasil dengan pemilik tanah. Kalau luas tanahnya sedikit otomatis hasil yang diterima juga sedikit. Isu tanah pernah diangkat oleh PKI pada tahun 1950-1960an. PKI mendapat banyak pengikut karena dia memperjuangkan tanah untuk petani, kehadiran PKI di kalangan petani yang miskin, yang tidak punya tanah memberikan harapan kepada mereka akan datangnya Ratu Adil yang akan memberikan kondisi masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja. Hanya dalam waktu 5 tahun, PKI menjadi kekuatan no 4 di Indonesia pada pemilu 1955 dan menjadi partai komunis terbesar no 3 di dunia di luar Uni Soviet dan RRC. Basis massa PKI yang paling kuat adalah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, daerah yang berbasis pertanian. Berarti begitu sensitifnya isu tanah di Pulau Jawa sehingga dalam waktu singkat partai yang mengusung isu tanah menjadi kekuatan No 4. Tanah menjadi penting buat petani karena di situlah periuk nasi mereka, ngga ada tanah bisa bisa ngga makan. BTI, organisasi onderbouw PKI dengan cepat meraih dukungan sekaligus memicu konflik dengan golongan lain karena aksi aksi sepihak penyerobotan tanah yang kebetulan adalah milik Kyai -Kyai NU. Terjadi konflik BTI dengan massa NU.
Kalau menilik kondisi sekarang kondisi kemiskinan yang melanda petani menyebabkan petani menjadi pragmatis, mereka terdorong untuk melakukan urbanisasi ke kota menjadi kuli atau PRT, ketika musim tanam baru kembali ke desa. Di daerah tertentu di pantura malah anak anak gadisnya didorong ke kota untuk menjadi penghibur istilahnya luruh duit, bekerja sebagai telembuk alias PSK. Kemiskinan menyebabkan terjadinya relativitas moral. Orang tidak risi lagi dengan sanksi social yang penting bisa makan. Ketika materi lebih penting dari spiritual, masyarakat Jawa menjadi tercabut dari akarnya, masyarakat Jawa adalah masyarakat yang pada dasarnya mementingkan hal hal spiritual, kesalehan tapi apa daya kemiskinan telah merubah segalanya, materi membuat kehausan, semakin diminum semakin haus sehingga menyeret manusia ke lembah hitam dan terjerat di sana tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Sementara di pihak lain para tuan tanah juga semakin pragmatis, mereka yang mempunyai tanah di pinggir jalan raya memilih menjual tanahnya daripada menyewakan atau menggarap sawahnya. NJOP tanah yang terus naik di daerah pantura yang merupakan sentra produksi beras nasional menjadikan para tuan tanah ngiler, mereka berpikir lebih baik tanah dijual daripada nanam padi untung ngga seberapa masih harus bagi dua lagi dengan penggarap belum kalau gagal panen, biaya produksi makin tinggi akibat naiknya nilai dollar. Mereka mengambil risiko yang terkecil, tanah dijual duitnya didepositokan atau diputar di bisnis lain. Kalau punya tanah 1 hektare terus dijual Rp 100 ribu per m2 maka sudah didapat Rp 1 M didepositokan taruh dengan bunga 5% sudah dapat 50 juta pertahun tanpa keluar modal dan risiko yang terlalu besar dibandingkan apabila tanah tersebut hanya dijadikan sawah. Kebutuhan akan rumah dan tanah untuk Industri bahkan kuburan ( ingat San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes di Karawang yang 500 hektar itu ) yang tinggi menjadikan tanah pertanian beralih fungsi, masyarakat capek jadi petani, masyarakat bosan hidup susah.
Kalau ini terus terjadi, 10 -20 tahun lagi Indonesia termasuk Jawa dalam bahaya, apabila lumbung padi nasional yaitu Jawa Barat habis semua untuk rumah, pabrik, kuburan, apabila petani menjadi malas untuk bekerja karena dia pikir bertani adalah pekerjaan sia- sia maka produksi makanan kita akan menurun dan Indonesia menjadi pengimpor segala produk pertanian, kemandirian bangsa berkurang, harga komoditas makanan dunia naik kita akan menjerit, dollar naik kita menjerit. Kemiskinan terjadi di kota besar menimpa buruh yang gajinya tetap sementara pengeluarannya bertambah. Di Pulau Jawa, kemiskinan bukannya hilang malah makin menjadi- jadi.
Cara bertanam yang efisien perlu diterapkan tapi entah kenapa otoritas begitu lamban, kok kita bisa kalah dengan Thailand dan Vietnam yang produktivitasnya begitu tinggi, ada apa dengan Indonesia negeri yang katanya tanah surga, tongkat , batu jadi tanaman. Kita yang hidup di kota besar yang katanya intelektual harus mulai mikir kedepan, hidup kita dalam bahaya. Waspadalah waspadalah ( Bung Napi mode: ON )
“ Jawa adalah kunci, “ kata- kata yang gue ingat keluar dari mulut DN Aidit pada Film Pengkhianatan G 30 S / PKI yang diputar setiap malam 1 Oktober pada era Orde Baru. Kalau benar DN Aidit mengucapkan begitu berarti itu merupakan suatu pengakuan terhadap betapa pentingnya Jawa dalam kehidupan politik Indonesia, seperti kita ketahui DN Aidit berasal dari Belitung, sebuah pulau yang dulunya masuk wilayah Sumatra Selatan.
Kalau kita lihat dalam sejarah perpolitikan nasional sejak jaman dahulu kala, Jawa memang mempunyai peranan yang sangat besar, bukan hanya karena jumlah penduduknya paling banyak tapi memang terjadi penyebaran penduduk Jawa ke hampir seluruh pelosok Nusantara. Balaputradewa, Raja Sriwijaya yang terkenal adalah putra Raja Mataram, Samaratungga yang berasal dari Wangsa Syailendra, beragama Budha dan juga pembangun Candi Borobudur. Belum kalau kita lihat Majapahit dengan Patih Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara kecuali Kerajaan Sunda. Mengenai Kerajaan Sunda ada kisah tersendiri, Raden Wijaya pendiri Majapahit adalah putra Raja Sunda dengan putri dari Singosari. Begitu dewasa dia bersama ibunya pulang kembali ke Jawa Timur dan menikah dengan putri Kertanegara, Raja Singosari. Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit. Jadi Raja- Raja Jawa sebenarnya masih ada darah Sundanya melalui Raden Wijaya, itu sebabnya terjadi hubungan baik antara Kerajaan Sunda dan Majapahit karena adanya pertalian darah, hal tersebut akhirnya rusak karena peristiwa Perang Bubat di mana keluarga Kerajaan Sunda termasuk Prabu Linggabuana dibantai habis oleh prajurit Majapahit atas perintah Gajah Mada, sementara Dyah Pitaloka Citraresmi memilih untuk bunuh diri.
Kalau dari perpolitikan modern, suku Jawa juga sangat mendominasi, semua Presiden Indonesia ada darah Jawanya. Soekarno, ayahnya Jawa ibunya Bali, Soeharto orang Jawa, BJ Habibie ibunya orang Jawa bergelar Raden Ayu, Gusdur asal Jombang, Jawa Timur, Megawati ada keturunan Jawa, Bali, Bengkulu, SBY seperti kita ketahui berasal dari Pacitan, Jawa Timur dan semua Presiden Indonesia adalah Muslim. Gue lihat ini seperti fenomena WASP ( White Anglo- Saxon Protestant ) di USA.
Kalau dilihat dari kepercayaan masyarakat Jawa ada pola pola tertentu yang sama yaitu masyarakat Jawa umumnya percaya terhadap kekuatan eksternal entah itu Tuhan, arwah lelulur, benda kramat, ajian- ajian dll. Konsep Tuhan dalam masyarakat Jawa adalah Dia Yang Maha Kuasa. Gusti Allah ora sare ( Tuhan tidak pernah tidur / istirahat ). Gusti Allah ora sare ini dalam perspektif Jawa bisa diartikan adalah keadilan, karena Tuhan dalam pandangan masyarakat Jawa adalah Dia Yang Maha Adil. ” Sopo sing nandur ngunduh” ( siapa yang menanam akan menuai ), Menanam kebaikan akan menuai kebaikan, menanam kejahatan akan menuai kejahatan, di situlah konsep Gusti Allah ora sare bisa kita letakan. Perang Baratayudha dipercaya oleh masyarakat Jawa adalah suatu mekanisme keadilan, sopo sing nandur ngunduh. Kurawa menuai akibat dari perbuatannya di masa lalu. Jadi ini bukan masalah kesaktian dan perebutan kekuasaan semata tapi suatu mekanisme keadilan, siapa yang menanam menuai hasilnya. Itu sebabnya walaupun Adipati Karna sakti mandraguna akhirnya dia merelakan dirinya untuk tewas ditangan Arjuna dalam rangka memenuhi konsep keadilan dan takdir para Dewa. Adipati Karna tunduk pada hukum keadilan tersebut, dia membunuh Gatot Kaca akhirnya dia terbunuh oleh Arjuna.
Konsep lain yang juga lekat dengan masyarakat Jawa adalah Ratu Adil, konon merupakan ramalan Raja Kediri Prabu Jayabaya, bahwa kelak akan turun Ratu Adil yang membawa kemakmuran untuk masyarakat tanah Jawa. Hal inilah yang menjadi kepercayaan, semangat dan harapan masyarakat Jawa yang tertindas dan kekurangan. Ratu Adil yang dipercaya muncul setelah terjadi goro- goro ( huru- hara ) sangat dinantikan oleh masyarakat Jawa, entah sudah berapa kali orang mengaku ngaku sebagai Ratu Adil ada juga yang dinobatkan oleh pendukungnya seperti Samin Surosentiko yang dianggap Ratu Tanah Jawi atau Ratu Adil Heru Cakra.
Clifford Geertz, seorang Antropolog dulu tahun 1960- an pernah melakukan penelitian di Pulau Jawa, dia membagi masyarakat Jawa dalam tiga kelompok yaitu santri, abangan dan priyayi. Dalam bukunya Religion Of Java atau “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ” yang merupakan versi terjemahannya, diceritakan bahwa abangan kalau dianologikan dengan gunung, puncaknya kelihatan Islam tapi dasarnya adalah kejawen. Kalau kita lihat dari struktur pemilu 1955 daerah yang didominasi santri dimenangkan oleh NU atau Masyumi, sementara di daerah yang didominasi priyayi dan abangan dimenangkan PNI atau PKI.
Gue rasa struktur itu sampai sekarang masih terasa walaupun disana -sini terjadi pergeseran -pergeseran. Daerah santri dimenangkan PKB, PPP atau PKS sementara daerah abangan dan priyayi dimenangkan PDIP atau Partai Demokrat. Itulah Jawa yang majemuk di mana cara- cara menjalankan agama berbeda beda, ada yang santri dan ada juga yang abangan. Tapi yang gue perhatikan di Jawa sekarang terjadi proses santrinisasi kehidupan masyarakatnya. Daerah yang dulunya daerah abangan sekarang banyak yang pakai jilbab, banyak yang naik haji, dulu sangat jarang yang pakai jilbab, paling pakai kerudung yang masih kelihatan leher tapi sekarang sudah tertutup rapat. Santrinisasi tersebut tumbuh dari kesadaran diri bukan dari paksaan atau kekerasan. Seharusnya kita masyarakat yang hidup di Jawa dapat berdampingan secara damai apapun alirannya entah santri, abangan, Kristen, Budha dan Hindu, seperti berdampingannya para leluhur kita.
Seorang kolektor musik tertunduk pasrah, “gue mau jual sebagian koleksi gue,” katanya lirih. Gue cukup kaget mendengar kata- katanya, seorang kolektor yang begitu patriotik ternyata harus menjual koleksi- koleksi kesayangannya. Mungkin menurut orang lain ini hal yang biasa tapi kalau kita mendalami bagaimana kebahagiaan menjadi seorang kolektor kita akan tahu bagaimana sakitnya ketika kita harus menjual sesuatu yang kita sayangi, yang kita peroleh dengan susah payah dan sekaligus harus meninggalkan kenangan kebahagiaan ketika memiliki benda tersebut. “Harga melambung tinggi, ekonomi lagi sulit, man,” katanya.
Kalau kita lihat dari sejarah bangsa ini memang diwarnai inflasi yang tinggi, harga harga terus naik. Keadaan yang sekarang buruk tapi bukan yang terburuk. Di jaman Soekarno inflasi mencapai 600 %, pada saat krismon 1998, inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi minus, PHK di mana mana, sekarang pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi inflasi juga tinggi.
Kalau kita lihat inflasi tinggi biasanya dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tentunya kondisi ekonomi dunia, karena dunia sekarang sudah semakin menjadi satu, goncangan pada satu negara mempengaruhi negara lain bahkan seluruh dunia. Bahkan siapa yang menjadi presiden USApun bisa menentukan ekonomi dunia, harga tempe di warteg dipengaruhi oleh kebijakan Presiden Amerika, itulah realitas dunia sekarang. Naiknya harga komoditas dunia sudah gue prediksi sejak tahun 2004, ini sebuah sistem, krisis Timur Tengah yang terjadi ketika George W Bush menyerang Afganistan dan Irak serta mengancam Iran menimbulkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah ditambah permintaan minyak yang tinggi dari Cina dan India mengakibatkan harga minyak naik, gas dan batu bara sudah pasti ikut naik dampak ikutannya minyak goreng dan emas ikut naik, kedelai naik, ujung -ujungnya harga makanan di warteg naik.
Faktor internal penyebab inflasi sudah pasti adalah kondisi transportasi, psikologi masyarakat ( termasuk ekspektasi inflasi ), paceklik yang diakibatkan bencana alam, monopoli, kartel terselubung, KKN, penyelundupan, kebijakan pemerintah, banyaknya uang beredar di suatu kawasan.
Kembali ke mikro alias kehidupan pribadi dan rumah tangga, gue sering mendengar keluhan- keluhan tentang hidup yang makin sulit, apa- apa naik, susu naik, minyak goreng naik, minyak tanah naik, telor naik, bensin naik ( pertamax), tol naik, gaji pembantu naik, gaji sopir naik, gaji satpam naik. Temen gue yang sudah nikah mengeluh tentang hidupnya, dia setiap bulan harus bayar cicilan rumah sebesar Rp 3 juta, belum susu anak, gaji pembantu, karena rumahnya di pinggiran sementara kantor di pusat kota, biaya bensin dan tol menjadi tinggi. Sekarang harga- harga makanan dan bahan penunjangnya juga naik, dia menjadi pusing karena itu diluar perkiraannya sementara tiap bulan dia sudah pasti harus keluar duit Rp 3 juta untuk cicilan rumah.
Gue rasa ini adalah potret kelas menengah di Indonesia yang sangat terpukul dengan adanya inflasi, kalau kalangan bawah memang sudah terpuruk dan sekarang semakin terpuruk, kalangan menengah sekarang sudah mulai megap megap terutama para pasangan muda yang jabatannya masih junior. Ini gue lihat bisa memunculkan geger social, kalangan menengah ini sempat menikmati kenikmatan di masa lalu tiba tiba sekarang kenikmatan-kenikmatan itu dicabut atau tercabut. Kalau orang yang berasal dari kalangan bawah cenderung pasrah dan nrimo, kalangan menengah ini yang jeritannya paling kuat karena kehilangan kenikmatan yang biasa dia terima.
Kalau menengok pengalaman gue sekolah dulu, pergaulan para borjuis di sekolah ( Genk Borju ) sebenarnya tidak hanya diisi oleh para borjuis tapi diisi juga oleh kalangan menengah alias biasa- biasa saja. Kalangan yang biasa biasa ini nebeng fasilitas si borjuis, akibatnya gaya hidupnya juga menjadi tinggi, barang bermerek, gengsi tinggi, doyan pamer meteri, makan di tempat tempat bergengsi bersama si borjuis. Memang hal ini pada dasarnya adalah positif akan tetapi apabila tidak dibarengi dengan kemampuan bisa menimbulkan frustasi dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kalangan menengah yang terbiasa bergaul dengan borjuis ketika di sekolah ini begitu berumah tangga menjadi gagap, gaya hidup borjuis sakaw dengan materi tetapi penghasilan paspasan, begitu harga- harga naik terpaksa ngutang sana- sani akhirnya dikejar -kejar debt collector.
Kondisi ini yang gue kuatirkan bisa memicu goncangan yang sangat besar, masyarakat sekarang diam tapi sebenarnya dia mencatat dalam hati dan bukan tidak mungkin suatu hari nanti begitu muncul trigger mereka melakukan penghukuman baik terhadap elite politik / kapitalis birokrat maupun kaum borjuis. Ini seperti tahun 1998, sebelum tahun itu masyarakat dijejali dengan berita- berita keluarga Cendana, si ini megang proyek itu, si anu pegang itu, masyarakat hanya bisa diam. Terjadi krismon harga harga melambung tinggi, rakyat hanya bisa menjerit, kemudian muncul trigger yaitu penembakan mahasiswa Trisakti kemarahan rakyat langsung ditumpahkan, Pak Harto dicaci maki, mobil Timor dikejar- kejar dan dibakar, kantor pemerintahan, rumah Harmoko di Solo, rumah Liem Sioe Liong di Gunung Sahari dibakar.
Orang Indonesia apabila ditekan, pertama akan ngalah, ditekan lagi akan ngalih ( menghindar ) dan kalau sudah tidak kuat akhirnya ngamuk. Kapitalis birokrat dan para borjuis harus memperhatikan hal ini, rakyat lagi susah, perilaku dan omongan sebaiknya dijaga agar tidak semakin menyakiti hati rakyat, jangan tunggu rakyat ngamuk.
Melihat friendster keponakan gue yang penuh dengan “cewek cewek imut dan lucu”, gue jadi teringat masa-masa sekolah gue dulu. Masa- masa ketika idealisme gue begitu berkobar-kobar, masa masa yang berkesan sehingga sampai sekarangpun gue kerap bermimpi tentang masa- masa di sekolah. Ada kisah cinta, ada pencarian ilmu, ada senyum, ada luka, ada solidaritas, ada persahabatan.
Di sekolah, gue menemukan miniatur masyarakat, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang cantik, ada yang jelek, ada Islam, ada Kristen, ada Budha, ada Atheis, ada Agnostic. Hanya saja karena sekolah gue sekolah negeri maka rata- rata kemampuan intelektualnya hampir sama karena seleksi untuk masuk sekolah itu menggunakan nilai NEM dan beda angkanya sangat tipis karena begitu banyak yang mendaftar dan hanya sedikit yang diterima mengingat daya tampung yang terbatas.
Di sekolah gue biasa bergaul dengan masyarakat yang berbeda tapi tentu saja seperti biasa terjadi pengelompokan- pengelompokan berdasarkan minat dan kesamaan kesamaan. Ada yang di sebut tim borju yang isinya para borjuis, ada tim Rohis yang agamis, ada tim mikir yang sangat akademis, ada tim pecinta alam doyannya naik gunung dan keluyuran, ada tim persekutuan doa yaitu kalangan Kristen, ada tim cabut / madol yang kerjanya bolos, ada tim anak bengal kerjanya nongkrong dan petantang petenteng terutama terhadap adik kelas.
Begitu banyak warna dan kejadian ketika gue berada di sekolah, pura pura pinjam buku dan catatan pelajaran ke gebetan dengan harapan bisa punya alasan untuk mengembalikan buku ke rumahnya, pura pura menanyakan PR cuma biar ada alasan untuk ngobrol sama si dia, mengirim surat cinta beramplop biru muda ke meja sang pujaan hati dan esok harinya gue menerima balasan surat beramplop pink di meja gue, ada deg degan, senang campur baur jadi satu. Kalau dia nggak masuk kayaknya ada yang hilang dan cemas jangan jangan dia kenapa kenapa lagi. Kalau malam hari gue pengen cepet- cepet pagi biar bisa ketemu dia di sekolah. Tapi begitu putus, sekolah serasa di neraka, tiap hari ketemu, tiap hari gue lihat wajahnya apalagi begitu dia pacaran dengan cowok lain rasanya pengen kabur aja dari sekolah. Kadang kadang kalau melihat dia mesra- mesraan di depan gue, rasanya pengen nonjok.
Di sekolah yang begitu plural dan majemuk, setiap murid muridnya punya karakter masing masing begitu juga cara belajarnya. Ada yang anti nyontek dan anti memberikan contekan biasanya berlatar belakan Rohis atau Persekutuan Doa, nyontek itu dosa kata mereka. Ada lagi yang tidak pernah nyontek tapi rajin memberikan contekan mereka beralasan solidaritas, ada lagi yang kerjanya minta contekan dan nyontek. Berbagai modus operandi dalam mencontek ada yang membuat tulisan kecil kecil di kertas, ada yang nulis di meja bahkan kalau meja udah penuh dengan tulisan mereka bawa tiner untuk membersihkan meja agar meja bisa ditulisi lagi, ada lempar lemparan kertas, pura pura ke wc dan yang tradisional tentunya buka buku secara diam- diam.
Kalau gue pribadi tidak merasa perlu untuk mencontek, gue pikir buat apa, gue bukan orang yang terlalu ambil pusing dengan nilai, begitu juga orang tua gue. Jadi ya gue belajar karena gue memang suka belajar, orang tua gue tidak pernah menyuruh gue belajar. Gue suka semua pelajaran karena menurut gue pelajaran itu menarik semua. Gue suka Agama, fisika, matematika, kimia, biologi, bahasa, sejarah, geografi. Bahkan kadang kadang pada saat liburan gue suka belajar misalnya malamnya abis jalan- jalan gue belajar pelajaran yang akan datang misalnya gue kelas 1 naik ke kelas 2, gue belajar pelajaran kelas 2 bahkan latihan soalnya udah gue kerjakan semua. Kalau pas waktunya sekolah gue santai, semua PR udah gue kerjakan semua pas liburan kemarin, waktunya bisa gue pakai untuk telp pacar tanpa harus pusing direcoki dengan PR. Bahkan untuk pelajaran hapalan seperti sejarah dan geografi ketika akan ada ulangan gue tidak merasa perlu untuk belajar pada malamnya karena gue memang sudah hapal semua sejak setahun kemarin. Entah kenapa ingatan jangka panjang gue begitu kuat mungkin karena setiap abis membaca pelajaran gue langsung tidur, mungkin ketika gue tidur otak gue melakukan konsolidasi sehingga pelajaran tersebut disimpan dalam memory jangka panjang. Kadang kadang pelajaran itu juga muncul dalam mimpi- mimpi gue.
Dari pengalaman gue di sekolah gue mendapat banyak pelajaran antara lain kemampuan untuk mengerti karakter karakter yang beraneka ragam, menghargai perbedaan, gue mengerti kenapa mereka bersikap begitu, gue mengerti cara berpikirnya akhirnya gue menjadi sulit untuk membenci golongan lain, terhadap Kristen gue tidak ada kebencian, terhadap Islam radikal gue tidak ada kebencian makanya ketika orang banyak yang membenci FPI gue menjadi bingung karena gue tidak bisa membenci FPI. Terhadap Atheis dan Agnostic juga tidak ada kebencian. Bahkan terhadap Yahudi yang sangat dibenci oleh teman teman Rohis, gue juga tidak punya kebencian. Gue kadang kadang berpikir salah nggak sih kalau gue tidak punya kebencian terhadap Yahudi, kenapa sih gue sulit sekali untuk membenci orang?
Yang juga gue pelajari dari sekolah adalah setiap orang membangun pengetahuannya dengan cara masing masing. Cara belajar gue berbeda dengan teman gue, pemahaman gue terhadap pelajaran juga berbeda dengan teman gue. Perilaku gue bisa diatur oleh sekolah misalkan gue harus masuk jam 7 pagi kalau telat 5 menit pintu sekolah digembok dan gue harus menunggu jam pelajaran berikutnya untuk masuk kelas, ke sekolah gue harus pakai seragam, ke sekolah gue harus pakai sepatu padahal gue pengennya pakai sandal, di sekolah nggak boleh merokok, di sekolah ada batas kehadiran minimum kalau lewat batas gue nggak bisa naik kelas jadi gue nggak bisa bolos seenaknya, gue nggak boleh membuat onar di kelas. Di sekolah gue dididik untuk disiplin apabila melanggar peraturan gue kena sanksi.
Sekolah bisa mengatur dan memaksakan sebuah peraturan untuk kepentingan yang lebih besar, bayangkan kalau gue dibiarkan berbuat onar di kelas tentu yang dirugikan bukan hanya gue tapi teman- teman gue menjadi terganggu dan kepentingan mereka juga terganggu harusnya mereka dapat belajar dengan tenang tapi karena ulah gue mereka jadi tidak dapat belajar dengan baik. Jadi kasih sayang tidak hanya dengan kelembutan tapi tindakan keras dan represif juga bisa menjadi perwujudan kasih sayang. Tindakan keras bertujuan untuk mencegah gue berbuat kerusakan dan kezaliman. Kalau sekolah gue lembek mungkin gue akan menjadi manusia yang brengsek dan seenaknya. Di sekolah gue dididik menjadi manusia yang bisa dan mudah diatur.
Tapi ada yang sekolah tidak bisa atur dari diri gue yaitu pikiran gue. Sekolah tidak bisa mengatur pikiran gue, bahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan kurikulumnya sekalipun tidak bisa mengatur pikiran gue. Sekolah dan Departemen Pendikan dan Kebudayaan tidak bisa memaksakan pikiran gue harus sesuai dengan kurikulum. Murid adalah subyek dari pendidikan bukan obyek, dulu ada yang namanya CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ) itu merupakan pandangan yang sangat benar dan jenius kalau menurut gue sebuah revolusi untuk mengganti CBSA versi lama ( Catat Buku sampai Abis ). Terima dan tolak suatu pengetahuan adalah menjadi otoritas gue, tidak ada yang bisa intervensi, ada pengetahuan yang tadinya gue percaya akhirnya setelah melalui proses akhirnya gue tolak, ada yang tadinya gue tolak akhirnya gue terima, ada yang gue tolak terus dan ada juga yang tetap gue percaya sampai sekarang.
Informasi, pengalaman, kepercayaan, ide ide dan imaginasi terus berkembang dan berakumulasi di dalam otak gue. Manusia adalah subyek dari ilmu pengetahuan dan keimanan. Pikiran bisa dipengaruhi tapi otoritas tertinggi tetap ada pada masing masing individu. Tolak, terima, perkaya, modifikasi ilmu pengetahuan, bangun ilmu pengetahuan dengan ide ide baru itulah tugas kita sebagai manusia.
“Lo itu ternyata kanan abis ya, asli gue nggak nyangka sama sekali gue pikir lo itu rasional.” Demikian sabda seorang gadis kepada gue. Sesungguhnya bukan hanya dia saja yang kaget dengan kenyataan yang dia temui, yang lebih kaget adalah gue. Terus terang gue sama sekali nggak menyangka gadis cantik yang kelihatan alim tak bertingkah ini bisa punya pemikiran begitu. Gue hampir- hampir tidak percaya bahwa kata- kata “ Tuhan adalah khayalan manusia “ itu keluar dari mulutnya yang mungil.
Temen gue tersebut tidak percaya adanya Tuhan, Tuhan menurutnya tidak berperan dalam kehidupan manusia, “ manusia bisa hidup tanpa Tuhan, agama gue adalah moralitas” katanya. “Agama tidak berperan buktinya terjadi ketidak adilan, pemerkosaan, pembunuhan, kemorosotan moral, korupsi, jadi apa fungsi agama? Kemana Tuhan lo ?”
Gue melihat ada kemarahan dan kekecewaan di balik kata- katanya tersebut. Itulah kehidupan begitu banyak variasi- variasi yang kadang tidak kita sangka- sangka. Gue tidak balas mengatai- ngatai si gadis atau mengintimidasi agar dia berubah menjadi yang gue mau.
Gue tau setiap manusia membangun pengetahuannya sendiri- sendiri. Informasi, ide, imaginasi, pengalaman dan kepercayaan membentuk pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh secara bertahap, perlahan -lahan dan kadang kadang acak- acakan alias tidak berturutan dan sistematis . Akumulasi pengetahuan yang diperoleh secara acak tersebut oleh otak disusun secara terstruktur menjadi seperti jaringan yang saling berhubungan sehingga menjadi satu kesatuan pikiran. Terus terang gue agak sulit menerangkannya dalam rangkaian kata- kata karena adanya keterbatasan padanan kata yang sesuai untuk mewakili maksud gue dan kerumitan cara kerja otak itu sendiri yang begitu complex dan berlapis- lapis pemahamannya. Sebagai contoh ketika kita sekolah kita menyerap pelajaran, dalam menyerap pelajaran tersebut kita melakukan pemaknaan sendiri terhadap ilmu tersebut kemudian kita lakukan kombinasi- kombinasi dengan ilmu- ilmu yang lain sehingga menjadi suatu pemahaman yang utuh. Pengetahuan tersebut kita gunakan untuk melakukan analisis dan mengambil keputusan dalam hidup. Karena masing masing manusia membangun pengetahuannya sendiri sendiri itulah makanya terjadi kemajuan dalam hidup manusia, semua berubah, teknologi dimodifikasi dan diperkaya. Jadi manusia tidak hanya menyerap pengetahuan dari orang lain tapi membangunnya menjadi pengetahuannya sendiri seperti Bill Gates yang DO dari Harvard University serta Steve Jobs yang hanya sempat kuliah 1 semester di Reed College tapi dapat menghasilkan karya yang berguna untuk masyarakat.
Dari pemahaman tersebut diatas gue berpendapat pengetahuan sejatinya tidak dapat ditransfer begitu saja secara mutlak karena adanya mekanisme dalam diri manusia yang selalu melakukan pemaknaan sendiri terhadap pengetahuan. Demikian juga dengan keimanan, setiap manusia selalu melakukan pemaknaan terhadap keimanan berdasarkan pengetahuan dan keyakinan yang dia punya. Jadi setiap manusia sejatinya membangun sendiri keimanannya. Hal ini yang menyebabkan seringnya dijumpai keluarga Nabi yang tetap ingkar dan kafir sekalipun di keluarganya diturunkan Nabi. Ayah Nabi Ibrahim tetap kafir dan menolak ajaran anaknya, anak Nabi Nuh tetap ingkar sampai ditelan banjir .
Jadi menurut gue setiap manusia membangun keimanannya masing masing dan keimanan tersebut haruslah berupa ikhtiarnya sendiri bukan hasil transfer, karena tidak mungkin keimanan yang ada di otak ditansfer begitu saja ke orang lain.
Demikian juga cinta kepada Allah SWT, sebuah cinta tidak dapat ditransfer tapi dia harus tumbuh dari dalam diri kita sendiri. Ada proses pemaknaan ketika kita memandang Allah SWT, darimanakah pemaknaan tersebut? Pemaknaan tersebut datang dari keimanan dan pikiran kita yang kemudian diwujudkan dengan menjalankan perintah dan larangan. Jadi praktek sangat penting disini bukan hanya omongan dan pikiran tapi harus ada kerja nyata.
Gue akan menyampaikan keyakinan gue tentang ajaran Islam, dari situlah gue dapat mengenal dan mencintai Allah SWT. Ajaran Islam adalah sebuah ajaran wahyu, jadi ajarannya langsung turun dari Allah yang disampaikan lewat Nabi Muhammad. Wahyu tersebut dalam bentuk Surah yang diturunkan secara bertahap. Pada periode Makkah diturunkan Surah- Surah mengenai konsep- konsep tentang Allah dan Keimanan, Hari Kiamat, Hari Pembalasan, Akherat, Surga dan Neraka, konsep baik dan buruk, konsep Din ( Agama ), konsep Ibadah. Disinilah dasar dasar Islam mulai diperkenalkan. Periode selanjutnya adalah periode Madinah pada periode ini Surah yang turun adalah Surah mengenai Ritual Peribadatan, Rukun Islam, sistem hukum yang mengatur hubungan antara individu, keluarga dan masyarakat seperti hukum-hukum tentang jihad, pernikahan, waris dan hubungan Muslim dengan ummat beragama lain. Surah yang turun pada periode Makkah dan periode Madinah ini merupakan satu kesatuan yang utuh jadi bukan suatu yang terpisah. Pada periode Makkah dibahas tentang prinsip dasar Islam dan pada periode Madinah dibahas implementasinya. Jadi kalau kita mempelajari Al Quran harus memandangnya sebagai satu kesatuan Wahyu Allah tidak bisa sepotong- sepotong karena Surah yang satu menjelaskan Surah yang lain.
Allah menciptakan kitab yang tertulis yaitu Al Quran dan kitab yang tidak tertulis yaitu alam semesta dari situlah manusia melihat tanda tanda kebesaran yang diberikan oleh Allah, untuk dapat melihat tanda tanda kebesaran itu, Allah memerintahkan manusia untuk berpikir. Makanya menuntut ilmu menjadi wajib karena dengan ilmu manusia dapat melihat kebesaran Allah yang telah Allah tuliskan dalam Al Quran dan alam semesta.
Jadi Islam adalah suatu ajaran yang sangat lengkap karena mengatur semua aspek kehidupan mulai dari hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lain dan hubungan manusia dengan dengan alam semesta. Islam merevolusi pandangan hidup masyarakat Arab yang tadinya beranggapan kemulian adalah berasal dari kekayaan dan keturunan menjadi kemuliaan berdasarkan ketakwaan. Manusia dilihat bukan dari kekayaan, warna kulit, keturunan, kebangsaan tapi dari ketakwaannya kepada Allah. Setiap perintah dan larangan Allah adalah untuk kebaikan manusia. Di situlah kita dapat menemukan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pada Haji Wada yang dihadiri oleh ribuan manusia, Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan pidatonya yang dikenal dengan Khuthbatul Wada ( khutbah perpisahan ). Pada khutbah itu Rasulullah menegaskan beberapa prinsip yang bunyinya sebagai berikut:
“Hai ummat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah satu. Ingatlah! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang lain Arab, tidak pula ada kelebihan bagi orang lain Arab atas orang Arab, tidak juga ada kelebihan orang yang berkulit merah atas orang kulit hitam, dan tidak pula orang kulit hitam atas orang kulit merah, melainkan lantaran takwa, sebab sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa kepada Allah.” ( Hadits Riwayat Baihaqi )
Allah SWT berjanji apabila kita bertakwa maka akan diberikan petunjuk dan kebahagiaan. Takwa ini ialah percaya dan menyatakan kepercayaan tersebut dalam bentuk lisan dan disertai tindakan yaitu kepatuhan dan ketundukan atau sifat pasrah terhadap perintah dan larangannya. Jadi percaya dan ngomong percaya saja tidak cukup tapi harus ada sifat kepatuhan dan tunduk terhadap perintah dan larangan itulah yang disebut keimanan. Agama Islam sebagai pandangan hidup harus dijalankan dan diamalkan, ketika hal itu dijalankan maka kita akan menemukan Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, dari situlah kita melihat betapa cintanya Allah kepada kita. Dia memberikan kita kebahagian melalui ajaran, perintah dan larangan bahkan hukumannya adalah manifestasi cinta Dia kepada kita. Cinta yang paling akbar adalah cinta Allah SWT kepada hambanya, alangkah indahnya jika Cinta Yang Paling Akbar tersebut kita balas dengan cinta kita juga, cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta. Tulisan ini bukan transfer keimanan karena setiap manusia membangun keimanannya dengan cara masing –masing, gue percaya itu. Tulisan ini hanya sekedar mengingatkan sebagai sesama manusia akan cinta Allah SWT yang begitu besar kepada hambanya.
SEJARAH
Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah : “Never leave history“. Inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita di masa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.
( Soekarno pada Pidato HUT Proklamasi, 1966 )
Dulu ketika SMA gue disarankan untuk masuk jurusan IPS oleh guru sejarah gue, “ kamu masuk IPS saja, kamu punya potensi yang luar biasa nanti kalau kuliah kamu ambil jurusan Sejarah. Gue akhirnya tidak menuruti saran guru gue tersebut, gue akhirnya masuk IPA. Salah satu penyebab gue tidak masuk IPS adalah karena pengalaman gue yang pernah gue tuliskan di artikel “ PENDIDIKAN”, gue kemukakan sebuah fakta sejarah dan guru gue mengiyakan tapi ternyata ketika ujian gue harus menjawab sesuai dengan di buku. Gue kecewa terhadap ilmu yang begitu mudah diintervensi oleh kekuatan politik atas nama stabilitas dan kepentingan penguasa. Sebuah ilmu akan rusak kalau dia dihambat dan dimanipulasi oleh kekuatan politik tertentu apalagi kalau pemeluk agama sudah mulai ikut campur dan memaksakan apa yang dia tafsirkan dari kitab sucinya kedalam suatu ilmu tersebut, akan sangat berbahaya karena yang dia bawa itu masalah keyakinan, kalau masalah keyakinan konsekuensinya kadang kadang adalah hidup dan mati. Gue ingin yang sesuatu yang lebih objektif dan gue temukan itu di IPA. Sebagian besar teorinya diperoleh berdasarkan eksperimen, itu yang gue suka nggak perlu banyak bacot kalau bisa dibuktikan melalui eksperimen dia jadi teori. Sangat riil.
Sekalipun gue akhirnya memilih untuk tidak menjadi sejarawan profesional, gue tetap mempunyai ketertarikan yang tinggi terhadap sejarah. Kenapa gue tertarik pada sejarah? Karena gue beranggapan pengetahuan yang harus dikuasai secara mutlak oleh manusia itu ada 4 : Agama & moral, Matematika, Bahasa dan Sejarah. Agama & Moral sangat penting untuk menjaga perilaku agar tidak terjadi chaos, Matematika dan Bahasa merupakan simbol- simbol yang dipakai manusia dalam berkomunikasi dan menjelaskan fenomena alam dan sosial. Sedangkan sejarah adalah yang mencatat ketiga hal tersebut.
Di Agama ada sejarah, di bahasa ada sejarah, di Matematika ada sejarah, di fisika ada sejarah, di kimia ada sejarah, di psikologi ada sejarah, di ekonomi ada sejarah. Jadi tidak mungkin seseorang mengusai suatu ilmu tanpa dia menguasai sejarahnya. Semua teori yang kita pelajari sekarang adalah kesimpulan yang dibuat di masa lalu. Fisika bukan hanya ilmu tentang rumus dan logika matematika dia juga berisi sejarah, bagaimana seorang ilmuwan bisa sampai menemukan suatu teori bagaimana mekanisme alam bekerja itu merupakan sejarah. Suatu ilmu lebih mudah dipelajari jika kita tahu sejarah bagaimana sebuah teori bisa tercipta, prinsip prinsip dasarnya harus kita kuasai terlebih dahulu.
Sejarah membuat kita bisa belajar dari kesalahan di masa lalu baik yang dibuat oleh suatu bangsa maupun pribadi. Dengan mengerti sejarah kita dapat menghindari kesalahan- kesalahan yang tidak perlu yang dulu dilakukan orang sebelum kita. Dengan sejarah juga kita bisa menghindari penipuan yang mungkin menimpa kita, seringkali gue selamat dari upaya penipuan karena pengetahuan gue terhadap modus operandi penipuan. Sejarah juga buat kita dapat belajar akan kearifan para pendahulu, pada kebaikan- kebaikan mereka, bagaimana cara meraka bekerja, bagaimana cara mereka berpikir. Itu bisa menjadi role model buat kita.
Yang juga penting dari sejarah adalah kita dapat melakukan forecasting alias peramalan terhadap kejadian yang akan datang. Fenomena – fenomena kita pelajari untuk melakukan perkiraan tentang masa depan. Jadi masa lalu kita jadikan pijakan untuk untuk mempersiapkan langkah apa yang kita perlukan untuk menghadapi masa depan, kita melakukan proyeksi masa depan dengan menggunakan data masa lalu. Ingat sejarah sering kali berulang, ada yang namanya siklus kehidupan. Seperti ekonomi, gue lihat itu merupakan suatu sistem yang muter- muter dan membentuk siklus. Benar kata Bung Karno sejarah merupakan pijakan kita dan pegangan kita agar kita tidak menjadi buta dan meraba- raba dalam gelap.
Banjir, Listrik byar pet dan langka, macet, semen langka, minyak goreng mahal adalah buah kesalahan kita dan nenek moyang kita yang tidak dapat melakukan proyeksi terhadap masa depan. Kesalahan yang dibuat di masa lalu, yang menikmati penderitaannya kita sekarang. Coba kalau dari dulu dibangun Banjir Kanal Timur mungkin banjir tidak separah sekarang, dulu penduduk masih sedikit, tanah masih murah jadi pasti pembangunan lebih mudah. Lihat Belanda sang penjajah dia sudah mewariskan Banjir Kanal Barat dia sudah berpikir kedepan bahwa nanti penduduk akan banyak dan banjir akan datang mengancam.
Indonesia sebagai sebuah bangsa kurang memiliki perencanaan dan keperdulian terhadap sejarah. Harusnya sudah dapat diproyeksi jumlah penduduk tahun sekian akan sekian, jumlah penduduk tersebut perlu listrik berapa, butuh jalan berapa, butuh rumah berapa, butuh minyak berapa segera dilakukan langkah langkah persiapan fasilitasnya, lakukan strategi- strategi. Berpikir secara system bukan hanya kepentingan politik sesaat.
Cara menangani minyak saja sudah salah dari jaman Pak Harto dan parahnya mereka itu bukannya bodoh dan nggak ngerti, mereka pintar tapi hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Ini yang menyakitkan, orang pintar tidak menggunakan kepintarannya untuk kepentingan bangsa tapi hanya menggunakannya untuk kepentingan keluarga. Sampai kapan kita tidak mau belajar dari sejarah? Kalau kita inginkan kemakmuran di masa datang kita harus melakukan persiapan dari sekarang, ingat semua butuh proses dan tidak datang dari langit.
Macet, Jakarta macet itu sudah biasa, orang berkata pembangunan Busway menjadi penyebab kemacetan. Memang pembangunan Busway sudah pasti menyebabkan kemacetan tapi itu bukan satu satunya sebab. Kemacetan adalah konsekuensi dari berbagai komponen yang berinteraksi satu sama lain. Bukan saja Ekonomi dan Politik tapi juga social budaya.
Kalau kita lihat kenapa ada macet? Ada macet karena kendaraan banyak. Kenapa kendaraan banyak? Karena orangnya juga banyak. Kenapa orangnya banyak? Karena wilayah itu makmur dan banyak duit.
Sudah menjadi logika apabila suatu daerah miskin maka orang orangnya akan keluar mencari daerah yang lebih makmur karena orang beranggapan “kemakmuran suatu tempat pasti berpengaruh terhadap kemakmuran penduduk”. Hal ini sangat sesuai dengan teori ekonomi yaitu prinsip uang beredar, ada yang disebut:
M1 ( jumlah uang kartal dan giral ) yang menggambarkan daya beli efektif masyarakat yang secara langsung mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa.
Kemudian adalagi M2 ( M1 + uang kuasi ) yang dimaksud dengan uang kuasi adalah deposito dan tabungan yang ada dimasyarakat. Jadi M2 adalah seluruh potensi yang dimiliki masyarakat karena deposito dan tabungan itu adalah cadangan yang kapan saja bisa ditarik dan bisa dipergunakan untuk membeli sesuatu.
Apabila suatu daerah M1 dan M2 nya sedikit maka orang pasti tidak sejahtera karena pasti produksi barang dan jasanya di daerah itu kurang. Orang mana mau memproduksi barang yang nggak laku karena daya beli rendah yang mengakibatkan dia merugi. Makanya orang mempunyai kecenderungan untuk mencari kerja di daerah yang banyak M1 dan M2. Banyaknya M1 dan M2 menyebabkan bergeraknya system ekonomi.
Seperti kita ketahui daerah yang menjadi pusat peredaran uang adalah urban, memang ada juga daerah rural yang banyak duitnya yaitu daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Tapi rural yang kaya belum tentu fasilitasnya selengkap urban. Urban mempunyai fasilitas yang lengkap mulai dari listrik, air bersih, sekolah yang baik, jalan, transportasi dan hiburan yang lengkap, hal ini dikarenakan selain karena factor uang juga factor politik karena urban merupakan pusat- pusat pemerintahan sehingga mendapatkan prioritas pembangunan.
Kemakmuran suatu daerah ternyata tidak berkorelasi dengan kemakmuran penduduk, secara teori seharusnya kalau suatu wilayah makmur penduduknya pasti ikut makmur. Ternyata tidak begitu, masalah sesungguhnya adalah karena tidak setiap penduduk punya akses yang sama terhadap sumber sumber ekonomi di samping tidak samanya akses akses terhadap sumber informasi. Jadi intinya adalah masalah distribusi M1 dan M2 tadi.
Sudah menjadi logika umum bahwa orang kaya bergaul dengan orang kaya, orang kaya pasti membeli rumah dari orang kaya lainnya entah itu OKL atau OKB karena pertimbangan kenyamanan dan gengsi, jadi uang yang beredar dikalangan orang kaya sangat banyak sementara jumlah rumah yang akan dijual sedikit hal ini mengakibatkan harga rumah di Zona 1 alias rumah di pusat kota akan sangat mahal karena sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu demand tinggi tapi supply kurang maka harga akan naik. Rumah di pusat kota umumnya adalah rumah second alias rumah bekas dan apabila kita akan membelinya sebagian besar harus menggunakan uang cash tidak bisa mencicil seperti di Real Estate yang memproduksi rumah baru.
Kalangan menengah kota dan kaum pendatang yang umumnya mengandalkan gaji bulanan tidak sanggup membeli rumah di Zona 1 yang belinya harus cash dan harga terus naik tersebut, akhirnya mereka mencari rumah ke daerah pinggir yang bisa kredit 10 -15 tahun. Otomatis pertumbuhan penduduk daerah suburban semakin tinggi. Menurut sensus penduduk tahun 2000, daerah Tanggerang dan Bekasi mempunyai angka laju kenaikan penduduk sebesar 4,3 % per tahun. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi terjadi di seluruh dunia, di London orang nggak tahan hidup di Zona 1 akhirnya memilih memiliki rumah di pinggiran.
Yang menjadi masalah di Indonesia adalah system transportasi masalnya tidak siap, sementara setiap hari terjadi pergerakan arus masa dari Suburban ke urban baik untuk kerja maupun sekolah, secara logika terjadi pergerakan massa dalam waktu bersamaan pasti menimbulkan kemacetan. Terus terang gue ragu dengan Busway apakah dia bisa mengatasi masalah kemacetan mengingat daya angkutnya sekali jalan sangat sedikit sementara massa yang harus diangkut dalam jam jam tertentu jumlahnya sangat besar. Badan jalan sudah terlanjur terpotong sehingga jalan semakin menyempit oleh jalur Busway tapi daya tampung yang bisa diangkut cuma sedikit. Jadi mohon maaf sebelumnya menurut gue proyek busway ini adalah proyek “ menghibur diri”. Sekedar berdandan ala kadarnya tapi tidak merubah substansi masalah sama sekali.
Belum kalau gue lihat budaya masyarakat Indonesia yang senengnya punya rumah gede alias rumah di atas tanah. Nah rumah gede itu apabila ingin didapat dengan duit cekak ya harus di suburban alias pinggiran. Kita belum terbiasa dengan Rumah Susun atau apartemen seperti diluar. Memang semua juga pastinya maunya punya rumah gede, ngapain tinggal di apartemen iya nggak? Tapi di Jerman orang terpaksa tinggal di apartemen karena kalau punya rumah pribadi itu biayanya mahal sekali akhirnya mereka terbiasa. Dengan permukiman terkonsentrasi pada titik titik tertentu sangat memudahkan keefektifan transportasi masal di Jerman. Berbeda dengan di Indonesia masyarakatnya tinggal menyebar di banyak titik yang jaraknya jauh jauh seperti di kompleks- kompleks Bekasi, Cibubur, Bintaro, Pondok Gede, Pondok Indah yang akses masuk kedalam rumahnya berkilo kilometer, kadang kagak ada ojek, yang angkotnya cuma sampai jam 6 sore, masyarakat seperti ini yang kita paksa naik Busway? Mereka mungkin memilih bermacet ria daripada kaki pegel karena jalan kaki dari depan sampai rumahnya. Belum lagi harus berdesak desakan karena kapasitas Busway sedikit dan mengalami kemungkinan pelecehan seksual serta pencopetan.
Temen gue misuh- misuh karena baru menjual rumahnya di Tebet dan pindah ke Cibubur, sementara kantornya di Kuningan, katanya dia tersiksa dengan kemacetan, capek dll. Gue hanya bisa prihatin dan berkata dalam hati, ” itu baru awal penderitaanmu bro, 5 -10 tahun lagi lo akan makin menderita karena factor- factor objektif seperti yang gue jabarkan diatas. “ Itu sudah seperti lingkaran setan. M1 dan M2 banyak maka penduduk banyak berdatangan, jumlah penduduk banyak kebutuhan rumah meningkat mengakibatkan harga rumah di pusat kota mahal, penduduk yang nggak sanggup beli rumah di zona 1 cari rumah di pinggiran mengakibatkan penduduk pinggiran banyak, sementara mereka cari M1 dan M2nya di Kuningan, Sudirman, Thamrin akhirnya sepanjang perjalanan pergi dan pulang kantor terutama di daerah yang dilewati komuter macet. Temen gue bilang, di daerah Bekasi keluar kompleks rumahnya saja udah macet. Belum adanya kampus seperti Atma Jaya di Jl Sudirman dan dan Perbanas di Kuningan yang membikin arus massa tambah banyak datang kesitu untuk kuliah ( sungguh brilliant orang yang memindahkan UI dari Salemba & Rawamangun ke Depok ).
Jadi solusinya apa donk? Gue pikir solusi nya adalah system transportasi massal dengan daya tampung besar seperti monorel atau kereta cepat model TGV jadi modelnya ala jalur layang KA stasiun Cikini sehingga transportasi di bawah tidak terganggu, ini tidak bisa tidak, sekarang atau nanti sama saja harus dibuat juga tapi lebih baik dibuat sekarang karena kalau nanti nanti biayanya pasti akan lebih besar, gue rasa ini bukan masalah duit tapi masalah kemauan dan tekad bulat, dulu kita kere tapi kita bisa bikin Monas, dulu rakyat miskin tapi kita bikin Istora dan punya TVRI sekaligus. Kalau system tranportasi massal sudah baik orang pasti akan memilih system tersebut untuk ke kantor, dan akan banyak tempat penitipan mobil, jadi dari rumah ke tempet penitipan terdekat pakai mobil kemudian perjalanan ke pusat kota dilanjutkan dengan tranpostasi massal. Terus menurut gue perlu diperbanyak Rumah Susun sederhana di pusat kota dan dilakukan penataan daerah kumuh, agar tidak memberatkan rakyat pembayarannya bisa dicicil 10-15 tahun dengan bunga rendah. Solusi lainnya tentu saja membuka zona- zona ekonomi baru sehingga peredaran M1 dan M2 tidak hanya berpusat di urban tapi juga menetes ke daerah, orang itu sebenarnya kadang kadang ngikut uang, dimana ada uang disitu orang berdatangan, membuka zona ekonomi baru tentu pertamanya harus rugi, tapi efeknya sangat panjang dan nantinya pasti akan untung. Lagi lagi dibutuhkan kepemimpinan yang kuat disini
Membaca KOMPAS malam ini ( 20 Oktober 2007 ), pada halaman 8 ada judul
Sampai Kini Matsani Masih Tetap Jualan Cendol. Di situ dikemukakan pendapat “masyarakat kecil” dari berbagai kota di Indonesia terhadap 3 tahun pemerintahan Bapak SBY . Semuanya mengeluh tentang keadaan sekarang yang ternyata tidak membawa perubahan seperti yang dijanjikan. Ini ekspresi rakyat kecil yang jujur, semoga Pak SBY membaca dan bisa menjadikan itu sebagai masukan untuk bekerja lebih keras lagi.
Gue bukannya membela SBY, tapi memang system ekonomi yang dianut dunia yaitu kapitalisme memang dodol bin brengsek. Dari SMA sudah gue pelajari dan amati ternyata kapitalisme itu kejam. Setelah gue pelajari Sejarah, memang sejak dulu Indonesia menjadi bulan- bulanan kapitalisme. Dulu tahun 1973 harga minyak tiba tiba naik gara gara Negara Arab memboikot negara pendukung Israel, harga minyak naik lagi tahun 1979 gara gara revolusi Iran disusul perang Iran- Irak, eh lagi enak- enak menikmati bonanza minyak tahu- tahu tahun 1986 harga minyak turun jadi 10 dollar / barrel. Bahkan menukik lagi menjadi 8 dollar/ barrel.
Anggaran yang sudah disusun matang- matang berantakan, program yang sudah dirancang dengan baik dalam bentuk repelita jadi banyak yang gagal, proyek banyak yang dicancel, terpaksa Indonesia banting setir dari mengandalkan migas menjadi mengandalkan non migas. Untuk meningkatkan ekspor terpaksa pemerintah melakukan devaluasi, kenapa devaluasi? Karena dengan nilai rupiah yang lebih rendah maka produk Indonesia menjadi lebih murah dari negara lain sehingga laku di pasaran dunia. Kalau nggak gitu darimana kita dapat duit setelah migas nggak bisa lagi diandalkan. Semenjak itu memang ekspor non migas Indonesia melesat naik tapi karena anggaran bolong banyak akibat kejatuhan harga minyak terpaksa Indonesia ngutang sama saudara tua yaitu Jepang. Utang ada bunganya dan banyak syaratnya misalkan barang, kontraktor, konsultan proyek berasal dari negara saudara tua . Belum dampak lainnya yaitu inflasi akibat naiknya nilai dollar yang menyebabkan harga produk impor jadi naik.
Di system ekonomi kapitalis yang brengsek ternyata harga minyak itu bukan hanya ditentukan mekanisme penawaran dan permintaan tapi oleh mood para pelaku pasar di bursa minyak dunia di Bursa New York . Orang - orangnya itu bukan produsen dan bukan juga konsumen minyak tapi orang orang yang gue curiga mengambil keuntungan dari naiknya harga minyak dunia. Biaya produksi minyak itukan sebenarnya sekitar 9- 10 dollar/ barrel tapi tiba tiba sekarang diperdagangkan 90 dollar/ barrel. Apa tidak overprice itu? Padahal 3 tahun yang lalu hanya 20 an dollar / barrel. Harga digoreng- goreng terus dengan berbagai macam alasan dan rakyat Indonesia jadi korban. Sudah berapa rakyat Indonesia menjadi korban akibat kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mengakibat inflasi 17,11 % ( versi BPS ) belum kalau dilihat dampak social, ekonomi, politik , hankam dll.
Dari segi kurs mata uang juga kita dikerjain oleh system dodol ini. Bank itukan seharusnya menjaga M1 dan M2 agar system ekonomi bisa berputar dalam hal ini menjaga inflasi dikaitkan dengan uang beredar. Kalau uang beredar banyak maka akan terjadi inflasi, makanya tingginya daya beli efektif masyarakat ( M1 yang terdiri dari uang kartal dan giral ) harus disesuaikan dengan penawaran dari sektor riil.
Nah disini fungsinya si Bank sebagai mediasi yang mengendalikan M1 dan M2. Uang dari masyarakat disedot dan disalurkan ke kegiatan produktif dalam hal ini adalah sector riil. Misalkan begini kebutuhan masyarakat akan semen tinggi , duit di masyarakat banyak tapi semen langka karena pabrik semen sedikit dan produksinya terbatas karena kekurangan modal, sudah pasti hal ini mengakibatkan harga semen akan naik, terjadi inflasi. Kalau kemudian bank kasih pinjaman uang yang dia punya ke pabrik semen atau orang yang mau mendirikan pabrik semen maka otomatis nantinya terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran karena produksi semen meningkat sehingga harga bisa turun dan inflasi tidak tinggi. Jadi fungsi bank disini adalah sebagai alat pengendali dari sisi permintaan dan penawaran.
Katronya ternyata uang yang diperoleh dari Bank itu, oleh oknum- oknum tertentu bukannya dipakai untuk kegiatan produktif yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi eh malah dipakai untuk spekulasi di pasar uang alias main valas, harga dollar digoreng- goreng sehingga menimbulkan kepanikan masyarakat akhirnya banyak orang borong dollar akibatnya dollar langka sudah pasti nilainya jadi tinggi. Harga 1 dollar tadinya Rp 2300 tahun 1997 tiba tiba jadi Rp 16. 700 awal tahun 1998.
Sudah pasti kalau sudah begini secara text book dan teori harus dilakukan penyedotan duit masyarakat kalau nggak pasti lebih parah orang akan terus melakukan spekulasi- spekulasi bahkan gue rasa kalau sudah jebol Rp 20.000 akan lebih berbahaya dan semakin liar. Bagaimana cara penyedotannya? Sudah pasti instrumennya adalah suku bunga, dalam hal ini suku bunga SBI. Suku bunga deposito mencapai 60% per tahun. Terjadilah apa yang disebut TMP ( Tight Money Policy ), sudah pasti TMP ini punya pengaruh negative yaitu konsumsi dan sector riil pasti melempem karena orang lebih senang menyimpan duitnya di Bank daripada mengkonsumsi dan sudah pasti orang nggak akan sanggup mengambil kredit di bank karena suku bunga pinjamannya tinggi . Mana bisa untung dengan suku bunga pinjaman tinggi sementara tingkat konsumsi masyarakat rendah. Akibatnya ekonomi slowdown untuk sementara waktu.
Kalau dari catatan sejarah, TMP itu biasanya berjalan sebentar, setelah kondisi kondusif pasti BI akan melonggarkan kembali. TMP tahun1991 itu bertahan sampai tahun 1993 setelah itu berangsur normal kembali, TMP tahun 1998 berlangsung sampai sekitar tahun 2000 setelah itu suku bunga SBI menurun. Apa efek samping dari TMP dan naiknya kurs mata uang dollar? Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Setelah TMP selesai orang kaya duitnya makin banyak akibat bunga deposito yang tinggi kemudian belanja belanja uang yang dia peroleh dari bunga deposito yang tinggi tersebut, sudah pasti yang diincar adalah property, emas, mobil mewah. Setiap habis TMP pasti tahun- tahun berikutnya terjadi booming property karena turunnya suku bunga deposito mengakibatkan orang mengalihkan investasinya dari deposito ke sektor lain. Pasar property pasca krismon mulai menggeliat tahun 2001 ketika bunga deposito mulai menurun dan puncaknya tahun 2003 ketika pembangunan property yang dimulai tahun 2001 selesai dan suku bunga deposito hanya sekitar 12 % atau 10 % bersih setelah dipotong pajak. Orang kaya yang mengalihkan investasinya ini pasti membeli rumah di daerah elite dan otomatis dari orang kaya juga baik OKL maupun OKB sehingga uang hanya berputar- putar di kalangan orang kaya dan tidak menetes kebawah. Ini yang menyebabkan inflasi tinggi tapi duit masyarakat bawah tidak bertambah yang ada malah berkurang. Si miskin makin kesulitan untuk hidup karena harga barang barang naik akibat TMP, kadang kadang si miskin juga harus kehilangan pekerjaan akibat perusahaannya melakukan PHK karena ekonomi yang slowdown.
Jadi tingginya M1 dan M2 ternyata tidak ada hubungannya dengan kemakmuran rakyat kebanyakan. Jumlah M1( uang kartal & giral ) naik, jumlah M2 ( M1 + uang kuasi alias deposito dan tabungan) juga naik akibat TMP, tapi rakyat kebanyakan tidak terpengaruh, duitnya segitu segitu aja yang ada malah berkurang karena tergerus inflasi. Apakah ini system yang adil? Ini bukan system yang adil tapi ini system jahiliyah yang brengsek. Makanya tidak heran kalau membaca jeritan rakyat di halaman 8 KOMPAS yang seolah olah tidak tersentuh oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih dari 6% pertahun. Seolah olah orang kaya dan orang miskin hidup di dunia yang berbeda.
Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al ‘Ankabuut: 69)
Melihat profil dan foto seorang teman di friendster malam ini, gue menjadi takjub dan hanya bisa berucap Subhanallah. Rupanya sekali lagi Allah menunjukan kekuasaannya dengan memberikan hidayah kepada seseorang. Dulu gue berpikir teman gue ini nggak akan berubah, tetap nggak percaya sama Allah, tetap berpakaian sexy, tetap pamer payudara, tetap pamer paha, tetap mabuk mabukan, tetap harus digendong ketika pulang dari clubbing
, tetap bergoyang dengan sexy sehingga membuat para cowok mupeng. Ternyata gue salah, sekarang teman gue memutuskan untuk berjilbab. Ini suatu kejutan buat gue, orang yang tadinya nggak percaya akan adanya Allah SWT tiba tiba memutuskan untuk menjadi muslimah dan berjilbab pula. Ini mungkin yang disebut Revolusi Iman. Melihat teman gue sekarang gue menjadi sadar bahwa manusia tidak boleh putus asa akan rahmat Allah.
Ingatan gue melayang kembali pada masa masa kecil gue, pada cerita cerita kakek gue tentang kisah awal penciptaan Adam. Ketika Allah selesai meniupkan Ruh kepada Adam, Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam. Semua malaikat sujud karena patuh pada perintah Allah, tapi Iblis tidak mau sujud kepada Adam. Iblis membangkang perintah Allah, dia merasa dirinya yang diciptakan dari api yang sangat panas, lebih mulia daripada Adam. Iblis sombong akan statusnya, iblis menganggap remeh Adam, “buat apa aku sujud pada Adam?” Allah murka akan pembangkangan Iblis dan Iblis diusir dari Jannah. Iblis meminta syarat kepada Allah bahwa dia akan menggoda manusia sampai hari kiamat kelak untuk menemaninya di dalam neraka.
Dari kisah itu gue berpikir dan mengambil hikmah bahwa semua dosa itu berasal dari kesombongan. Apakah yang dimaksud kesombongan? Yang dimaksud dengan kesombongan adalah apabila kita menolak kebenaran. Kebenaran sudah datang pada Iblis tapi dia dengan angkuh menampiknya dan dia merasa dirinya lebih tinggi dari Adam bahkan dia berani melawan perintah Allah. Konsekuensi dari kesombongan Iblis adalah dia diusir dari Jannah dan kelak akan menghuni neraka dan kekal di dalamnya.
Kalau gue refleksikan ke kehidupan teman gue dan gue juga tentunya, gue menjadi sadar bahwa berapa banyak dosa yang telah gue perbuat akibat kesombongan gue. Telah datang kepada gue kebenaran yang berisi perintah dan larangan tapi tetap saja gue berbuat dosa dengan malas menjalankan perintah dan malah doyan dengan larangan. Kesombongan telah menelan Fir’aun di Laut Merah, kesombongan telah menyesatkan Namrud, Raja Babylonia yang merupakan keturunan Nabi Nuh, kebenaran datang kepada Namrud lewat Nabi Ibrahim yang mengingatkannya untuk kembali ke ajaran Tauhid tapi dengan sombongnya dia tetap menganggap dirinya adalah “ anak tuhan “ dan menyembah patung- patung yang dia bikin sendiri. Kenikmatan yang diperoleh akibat dipertuhankan oleh rakyatnya menjadikan dia menolak kebenaran, dia malah membuat mitos mitos untuk memperkokoh ketuhanannya, itulah kesombongan Namrud.
Nabi Muhammad sehabis perang Badar bersabda “ kita baru saja meninggalkan perang yang kecil dan akan menuju perang yang lebih besar”. Apakah ada perang yang lebih besar daripada Perang Badar? kata sahabat. Nabi Muhammad bersabda perang yang akbar adalah perang melawan hawa nafsu alias perang melawan diri sendiri.
Perang melawan kesombongan diri itu yang susah, merasa diri besar, merasa diri pintar, merasa diri kaya, merasa diri lebih berpengalaman, merasa diri gagah padahal kalau kita lihat darimana kita berasal kita akan sadar akan kelemahan kita, karena kita berasal dari sperma ayah kita dan ovum ibu kita, dari situ jadi zigot dan berkembang jadi embrio. Tidakkah kita melihat kekuasaan Allah yang menjadikan kita yang merasa pintar ini hanya dari sperma dan ovum?
Gue jadi teringat ucapan gue ke temen gue yang sekarang berjilbab. Lo udah dianugrahi wajah yang cantik, body yang sexy, otak yang pintar, lo anak orang kaya, lo bisa sekolah di universitas terbaik di UK dan konon terbaik No 4 di dunia nggak semua orang bisa seperti lo, masa sih lo nggak mau bersukur kepada yang ngasih itu semua ke elo? Temen gue terdiam tapi kesombongannya waktu itu telah membutakan matanya, datang suatu kebenaran tapi dia menolak karena menurutnya kenikmatan dunia lebih berharga.
Gue bersukur sekarang dia sudah berubah, gue nggak bisa membayangkan bagaimana kalau dia meninggal dalam keadaan mabuk di club, akhir yang suul khotimah, meninggal sebelum sempat bertobat. Semoga kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan ketika kita mulai sombong kita diingatkan oleh kematian karena dibalik kematian ada suatu nasehat yang paling berharga. Jangan ditunda menerima kebenaran karena kita tidak akan pernah tau kapan kematian akan datang.
Chatt di Yahoo Messenger tiba tiba mengiatkan aku akan Dia. Dia yang seharusnya aku sapa minimal 5 kali dalam sehari. Dia yang selalu memberikan aku message baik ketika aku offline maupun online. Dia yang tidak pernah bilang brb, aku off dulu ya, CU, bye, have a nice weekend dan kata kata perpisahan lainnya, Dia yang nggak pernah bilang “ sorry aku lagi sibuk nih” dll. Dia selalu invisible tapi ketika aku ingin ngobrol dan memohon kepadaNya, Dia selalu ada. Dia Chatt dengan banyak orang tapi Dia selalu ada untuk aku. Mendengarkan, menjawab semua keluh kesah dan permohonan. Tidak semua permohonan terkabul tapi Dia selalu tau yang terbaik untukku.
Kadang saking sibuknya aku suka lupa akan Dia, lupa akan tujuan utama dalam hidup. Tapi dia selalu setia, selalu dalam keadaan online, selalu memaafkan, selalu memberikan kasih sayang kepadaku. Kalau sudah begitu kadang timbul rasa bersalah yang dalam kepadaNya. Secara kasatmata Dia diam tapi dia memperhatikan semua tindak tandukku, sampai yang sekecil kecilnya. Ketika aku baik Dia lihat, ketika aku jahat Dia juga lihat tapi dengan cuek dan tanpa rasa malu aku tetap berbuat jahat demi kenikmatan sesaat.
Allah SWT aku mohon ampun atas semua dosa dosaku. Aku tahu sekalipun Kau invisible, Engkau selalu online untukku dan untuk semua umat manusia. Allah selalu invisible tapi Dia selalu online, ketika kita buzz, ketika kita memohon, kita kita curhat Dia selau mendengarkan, mengabulkan, menunda, menolak suatu permohonan untuk kebaikan kita. Tinggal sekarang maukah kita berkomunikasi denganNya? Maukah kita menyapaNya? Maukah kita selalu mengingatNya dalam setiap tarikan nafas kehidupan kita?
Walaupun sejak kecil gue dididik secara militan oleh kakek gue untuk menjadi muslim, tapi waktu gue kecil selalu ada pertanyaan apakah benar yang namanya Iblis, Malaikat, Jin bahkan Allah itu benar- benar ada? Orang bilang manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang maha sempurna, kenyataan yang gue lihat terjadi sebaliknya, tuhan adalah mahluk ciptaan manusia yang paling sempurna. Manusia menciptakan tuhan- tuhan kemudian tuhan tuhan tersebut disembah olehnya, tuhan bisa berbentuk patung, tuhan bisa berbentuk pohon beringin, tuhan bisa berbentuk uang dan kekayaan. Gue rasa dalam tubuh manusia selain instinct tentang sex juga terdapat instinct untuk mempunyai tuhan. Di seluruh dunia biarpun manusia tersebar berjauhan keseluruh dunia selalu ada tuhan dalam kehidupan manusia, di Afrika ada tuhan, di Asia ada tuhan, di Amerika ada tuhan. Selalu ada tuhan dalam hidup manusia. Kenapa selalu ada tuhan dalam hidup manusia? Apakah itu instinct dasar dari manusia, seperti instinct seorang bayi yang mencari puting ibunya untuk menyusu? Apakah yang menyebabkan dalam pikiran bawah sadar manusia selalu muncul yang namanya tuhan?
Allah SWT merupakan Tuhan dalam Agama Islam, ternyata Allah SWT ini wujudnya tidak dapat dilihat oleh manusia. Bentuk Allah tidak dapat diketahui oleh manusia, manusia hanya tahu sifat sifatnya seperti Rahman, Rahim, Malik, dll. Kemudian ada lagi yang namanya Iblis, konon Iblis ini mempunyai sifat sombong alias songong, dia selalu merasa dirinya paling sempurna, dia tidak patuh pada perintah Allah, hobbynya ngeyel, kerjanya menganggap remeh dan merendahkan manusia. Ada lagi yang namanya Malaikat, Malaikat punya tingkat kepatuhan yang tinggi. Allah suruh begitu dia akan laksanakan tanpa melakukan penyelewengan. Ada yang namanya Jin, konon jin ini sama seperti manusia hanya beda dimensi saja, jin juga diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Kalau gue lihat manusia mempunyai sisi sisi Iblis dalam pikirannya tapi dia juga punya sisi sisi malaikat, jadi manusia punya keseimbangan antara Instinct keIblisan dan Instict Kemalaikatan. Untuk mengontrolnya diperlukan akal budi, tuntunan Allah SWT, disamping pikiran alam bawah sadar manusia yang seperti telah diprogram oleh Allah untuk selalu menuju kebaikan, orang menyebutnya hati nurani. Kenapa selalu ada rasa bersalah setiap kita melakukan dosa? Gue rasa karena hati nuraninya secara bawah sadar menolak perbuatan dosa itu.
Hati kecil alias nurani gue percaya adanya Allah SWT tetapi ada pikiran pikiran yang menuntut bukti. Mungkin ini sifat gue yang tidak mudah percaya terhadap apapun, apalagi terhadap sosok yang tidak kelihatan oleh kasat mata. Ada perasaan tidak aman, ada perasaan takut salah, ada perasaan apa iya seperti itu? Bokap gue memang pernah cerita dulu di kampung dia pernah melihat hantu yang berujud mahkluk hitam seperti raksasa, terus dia juga pernah melihat harimau jadi jadian, dia juga pernah melihat hantu berujud anggota SS NAZI ketika beliau di Jerman Barat. Kalau gue mungkin punya kepekaan kepekaan seperti itu tapi selalu gue lawan, gue selalu menganggap yang gaib gaib, firasat firasat adalah kebetulan semata. Suatu peristiwa membuka mata gue bahwa tidak keliatan secara kasat mata itu bukan berarti tidak ada.
Suatu pagi sekitar jam 4 AM sehabis begadang, gue pulang ke rumah bersama seorang teman. Di perjalanan pulang tiba tiba kami melihat seorang gadis melintas. Rambutnya panjang dia memakai gaun warna hitam. Tidak ada pikiran macam macam dariku ketika itu. Kamipun berjalan mendekat, jreng jreng jreng tiba tiba tercium bau minyak kayu putih yang santer sekali. Gue kepikiran nih cewek lagi masuk angin kali ya, sayang juga pikir gue masa cewek cantik cantik tapi bau minyak angin. Tiba tiba cewek tersebut menoleh , wow dan dia tersenyum kepadaku, weleh senyumnya manis sekali, gue jadi pengen kenalan. Ternyata sehabis tersenyum itu dia melanjutkan langkah memasuki sebuah rumah yang gue tau adalah rumah kosong. Jreng jreng ternyata dia MENEMBUS PAGAR. Asli pagar tidak goyang sama sekali dan tidak keliatan aktivitas membuka pintunya. Didorong rasa penasaran gue melihat ke dalam rumah dan ternyata sosok gadis misterius itu tidak ada, raib, sirna, hilang tiada berbekas. Nggak mungkin dia hilang dalam sepersekian detik wong jarak kami dekat sekali kok. Temenku mengkomando untuk lari, pedahal gue masih penasaran terhadap sosok misterius tadi.
Apakah sosok misterius tadi adalah Jin? Apakah dia Iblis? Apakah dia perempuan sakti mandraguna? Kenapa dia tersenyum kepadaku? Apakah karena gue disangka Jin juga? He he he he he. Sebenarnya kalau gue lihat secara science hal ini sangat masuk akal. Sudah biasa suatu zat berubah berubah bentuk, contohnya air. Air ketika dipanaskan dia akan berubah menjadi uap, dulu waktu gue kecil gue heran kok kalau air dimasak kelamaan airnya hilang, gue pikir ajaib juga nih kok bisa menghilang tuh air. Kemudian air kalau didinginkan berubah menjadi es alias bentuk padat. Karena sudah terbiasa kita tidak menganggap hal itu sesuatu yang ajaib lagi. Demikian juga Jin, Iblis bisa saja dia dalam kondisi tertentu bermetamorfosa menjadi bentuk bentuk orang atau manusia. Sama seperti manusia bisa saja dia kelihatan sebagai monyet, ayam, macan, babi ngepet, bola api dll seperti Leak di Bali atau harimau jadi jadian di Sumatra. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia, dulu manusia tidak bisa melihat bakteri tapi sekarang dengan mikroskop bisa, dulu manusia tidak bisa melihat planet lain tapi sekarang dengan teleskop bisa. Terlalu banyak yang tidak diketahui dan tidak dapat dilihat / dirasa oleh panca indra. Jadi kalau begitu sangat mungkin bahwa Allah itu ada, wong jin/ iblis saja ada. Dia ( jin dan Iblis ) yang tidak keliatan itu kan ada yang menciptakan. Siapa yang menciptakan kalau bukan Allah? Buat apa iblis menggoda manusia untuk berbuat dosa dan kemaksiatan kalau Allah tidak ada? Kenapa berbuat dosa itu enak? Kenapa berbuat kebaikan terasa berat? Pertemuan gue dengan gadis misterius yang patut diduga adalah Jin dan sebangsanya menambah keyakinan gue terhadap Allah menjadi 100 %.
Sejak gue masih SMP, gue sudah berpikir kayaknya ada yang salah nih dengan metode pendidikan di sekolah. Kemudian gue berpikir lagi mungkin pendidikan model begini yang cocok untuk kemampuan otak anak SMP, jadi yang salah itu gue mengharapkan sesuatu yang belum waktunya. SD sampai SMP, model pendidikannya adalah satu arah, guru menerangkan murid mendengarkan dan mencatat. Setiap persoalan jawabannya sudah ada dan murid harus menjawab apa yang menurut guru dan kurikulum tentukan. Kalau kita menjawab yang tidak sesuai dengan di buku berarti salah.
Kemudian gue masuk SMA, ternyata masih sama juga. Gue berpikir begini oh mungkin karena sekolah itu harus ada alat evaluasi untuk mengukur sejauh mana kemampuan murid dalam menyerap pelajaran. Alat evaluasi itu ujian dan parameternya adalah nilai. Untuk memudahkan dalam menilai harus ada kepastian, jadi harus bergerak menuju ke objektifan. Semua begitu baik yang namanya Agama, PPKN, IPA dan IPS harus menuju ke objektifan, harus yang pasti pasti. Ketika gue mengajukan fakta sejarah yang berbeda dengan yang di buku, guru gue mengiyakan tapi dia berpesan agar ketika Ujian Akhir karena yang memeriksa guru lain, gue menjawab sesuai dengan yang di buku. Jadi yang dimau oleh pendidikan itu apa? Apakah yang menjadi tujuan pendidikan? Kalau cuma nilai yang dicari itu tidak sulit, dengan kemampuan mengingat dan menghafal gue selalu dapet nilai 10 pada pelajaran sejarah.
Seperti juga obat ternyata sekolah ternyata mempunyai efek samping, di sekolah kita dilatih berpikir secara terstruktur dengan pola pola baku akibatnya cara berpikir kitapun menjadi terstruktur dengan pola pola baku. Karena sudah terbiasa dan kita menganggap pola pola baku adalah kebenaran tunggal maka kita merasa aman berpikir seperti itu. Apabila ada orang atau kelompok lain berpikir dengan pola berbeda dengan yang kita yakini, rasa aman kita tersebut terusik. Sama seperti ketika kita harus berpikir dengan pola yang berbeda atau diluar pola yang kita pelajari dan yakini pasti ada rasa tidak aman, perasaan takut salahnya menjadi tinggi.
Kebiasaan berpikir hanya dengan pola pola baku ini yang menjadi masalah ketika gue menghadapi kehidupan sesungguhnya di masyarakat. Masalah- masalah social adalah masalah yang multidimensi, dari hasil pengamatan gue kalau menghadapi masalah yang multidimensi seperti itu seharusnya pola pikir yang dipakai adalah berpikir divergen yang mempunyai lebih dari satu jawaban benar terhadap suatu masalah. Semacam filosofi catur yang bisa menghasilkan banyak cara untuk meraih kemenangan.
Dalam hidup kita bukan hanya memerlukan keteraturan, ketaatan pada system, berpikir linear, rasional tapi kita perlu juga imaginasi, kreativitas, kemampuan melihat secara artistik dan apa yang disebut intuisi. Kalau Imaginasi, kreativitas, intuisi kita bunuh maka tidak akan terjadi kemajuan dalam hidup manusia. Manusia selalu hidup dengan pola pola yang sama dan tidak berkembang. Ada perasaan aman tapi tidak ada kemajuan.
Gue nggak tau pada tahap mana seharusnya kreativitas ( contoh : mengamati sesuatu untuk membuat perbandingan kemudian menentukan beberapa alternatif jawaban untuk suatu persoalan ) diajarkan apakah waktu SD, SMP atau SMA, tapi yang gue tahu seharusnya dalam tubuh manusia ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan antara ketaatan pada logika dan kemampuan untuk berimaginasi , berpikir kreatif. Banyak orang yang sukses dalam hidup karena dia berhasil mengkombinasikan antara kekuatan intuisi dan kemampuan berpikir analitis. Terus terang menurut gue berpikir kreatif atau mengandalkan intuisi itu perlu keberanian dan latihan. Sampai sekarangpun, gue masih punya ketakutan untuk berpikir melawan arus. Karena intuisi itu tidak terstruktur kadang kadang berlawanan dengan pola baku yang sudah kita pelajari dan yakini, kadang instuisi tidak menolak data dan fakta tapi dia tidak dibatasi oleh data dan fakta di masa lalu. Contohnya adalah sbb:
Ada pengalaman pahit yang pernah dialami bangsa Indonesia yaitu krisis moneter. Keberanian Goerge Soros untuk berpikir diluar pola pola yang ada menghancurkan ekonomi Asia . Doktor lulusan Universitas Terkemuka di USA yang katanya Universitasnya masuk 10 besar terbaik di dunia bilang Indonesia baik baik saja, nggak mungkin Indonesia terkena krisis karena fundamental ekonomi kuat. Kenyataannya apa yang terjadi? Rupiah tadinya Rp 2300 per 1 USD menjadi Rp 16700 per 1 USD. Hanya pengusaha yang punya intuisi untuk melindungi nilai alias Hedging serta yang meminjam dalam rupiah yang selamat padahal pengusaha tersebut pernah diolok olok sebagai pengusaha yang bodoh karena meminjam uang dalam rupiah.
Gue jadi bertanya tanya apakah benar bahwa ilmu ekonomi itu sudah mati? Apakah system pendidikan seperti sekarang yang harus dijalani oleh anak anak bangsa sudah cukup menjadi bekal untuk hidup mereka kelak? Apakah system pendidikan yang sekarang sudah ideal dimana rezim nilai menjadi tuhan sehingga orang rela berbuat apa saja termasuk menyontek demi untuk menyenangkan sang tuhan? Apakah otak kiri lebih penting daripada otak kanan? Apakah logika lebih penting daripada imaginasi dan kreativitas? Kalau logika lebih penting kenapa kita dalam memilih pacar dan jodoh kita mendengarkan kata hati disamping logika, kenapa kita tidak memilih Miss Universe untuk menjadi orang yang kita cintai dan kita sayangi? Kenapa kita memilih pasangan yang wajahnya biasa biasa saja, tidak kaya, gendut dll? Mungkin karena jawabannya adalah hidup bukan hanya memerlukan logika, hidup butuh feeling, hidup butuh keimanan dan keyakinan kita atas kebesaran Allah SWT yang telah menganugrahkan kita otak kiri dan otak kanan sehingga selain punya logika kita juga punya cinta dan impian, tidakkah hal itu membuat kita berpikir bahwa Dia Arsitek Yang Maha Sempurna?
Dulu ketika gue masih sekolah gue dikasih uang jajan dengan jumlah yang lumayan besar saat itu, gue bisa tenang ke sekolah. Ongkos cukup, jajan puas, bisa nabung buat malam mingguan sama cewek, malah bisa traktir temen. Gue merasa tenang dan nggak ada pikiran apa apa. Duit habis, biar toh besok ada lagi. Ibarat kumis atau jenggot dicukur besoknya numbuh lagi. Bawa duit Rp 20 ribu sudah tenang apalagi bawa Rp 50 ribu langsung foya foya ke KFC. Hidup isinya cuma main, gebet cewek, begadang, nongkrong, belajar, ekskul. Cuma biarpun begitu gue udah tau kayaknya ada yang salah nih dengan system ekonomi Indonesia bahkan dunia.
Yang jadi pemikiran gue dulu kenapa kok harga harga naik terus tapi rakyat tambah susah, seharusnyakan kalau harga naik terus penghasilan rakyat nambah tinggi juga, ternyata yang ada rakyat malah tambah susah. Biaya sekolah tambah lama tambah tinggi, adik kelas gue membayar uang sekolah lebih besar dari gue. Harga makanan naik terus yang tadinya Rp 20 ribu udah senang dan kenyang sekarang jadi biasa biasa aja.
Kemudian di sekolah gue belajar ekonomi, ternyata ada yang namanya inflasi yaitu kenaikan harga harga alias menurunnya nilai uang yang dinyatakan dalam prosentase. Kalau penghasilan kita tetap tapi terjadi inflasi maka kita akan semakin miskin. Kalau harga naik maka permintaan barang akan turun, otomatis omzetpun turun, otomatis penghasilan turun. Itu sebabnya apabila harga naik, rakyat belum tentu untung yang ada malah tambah susah. Rakyat mengakali dengan membeli barang yang edisi ekonomis misalkan beralih dari Rinso ke Surf dan mengurangi pengeluaran yang dianggap mewah misal hiburan.
Kalau kita lihat inflasi yang terjadi dalam 20 tahun terakhir :
1986: 5.8%
1987: 9.3%
1988: 8.1%
1989: 6.4%
1990: 7.9%
1991: 9.4%
1992: 7.5%
1993: 9.7%
1994: 8.5%
1995: 9.4%
1996: 7.9%
1997: 6.2%
1998: 58.0%
1999: 20.7%
2000: 3.8%
2001: 11.5%
2002: 11.8%
2003: 6.8%
2004: 6.1% ( Versi IMF )
2005 :17,11 % ( Versi BPS )
2006 : 6,6 % ( Versi BI )
Disitu dapat dilihat terjadi inflasi tertinggi pada tahun 1998 sebesar 58 % dikarenakan naiknya nilai dollar terhadap rupiah, nilai dollar naik mengakibatkan biaya produksi dan pengadaan barang naik, otomatis harga naik karena kalau nggak bakalan rugi. Inflasi yang tinggi juga terjadi tahun 2005 sebesar 17,11 % akibat kenaikan BBM lebih dari 100 % yang mengakibatkan biaya produksi naik otomatis harga jual produk jadi naik dan inflasipun terjadi.
Terus kalau kita lihat harga emas tahun 1997 itu berkisar antara Rp 20-25 ribu / gram ( seinget gue nih soalnya dulu nyokap pernah beli segitu ) terus dibandingkan dengan sekarang ( 2007 ) yang sekitar Rp 185-190 ribu per gram ( pernah mencapai Rp 200 ribu berapa bulan lalu). Berarti dalam 1 dasawarsa telah terjadi kenaikan Rp 165 ribu / gram. Dalam prosentase 165 ribu / 25 ribu= 6,6 =660 % dalam waktu 10 tahun. Sementara gue kemarin dari hasil jual beli emas mendapatkan keuntungan sebesar 53,33 % dalam waktu 2 tahun.
Kalau harga tanah juga terjadi kenaikan gila gilaan, dulu tahun 1984 ortu beli tanah di daerah Pantura seluas 2000m2 seharga Rp 4 juta berarti kan Rp 2000 / meter sekarang NJOPnya udah Rp 375.000 / meter berarti terjadi kenaikan Rp 373.000/ meter. Dalam prosentase Rp 373 000/ Rp 2000= 186,5 kali lipat= 18650 % dalam waktu 23 tahun , fantastis kan? Tapi itu tergantung wilayahnya juga kalau daerah yang sudah mapan seperti Menteng dan Kebayoran Baru kenaikannya tidak begitu fantastis malah cenderung stagnan. Yang pesat itu yang di daerah pinggiran apalagi yang dekat dengan akses jalan raya.
Kalau nilai dollar terjadi kenaikan dari Rp 2500 ( 1997 ) menjadi Rp 9.000 ( 2007 ) berarti terjadi kenaikan Rp 6500/ dollar atau dalam prosentase 6500/ 2500= 2,6 kali lipat atau 260% dalam waktu 10 tahun .
Jadi sudah jelas inflasi pada masing masing komponen berbeda- beda dan celakanya sebagian besar itu dikendalikan oleh pasar. Harga minyak dunia, kurs mata uang, harga emas ditentukan oleh pasar. Bahkan OPECpun sekarang tidak berdaya untuk mengendalikan harga minyak dunia. Yang bisa dilakukan pemerintah sekarang hanyalah memberikan subsidi terhadap harga minyak untuk mencegah inflasi yang tinggi akan tetapi kalau harga terlalu tinggi lama lama pertahanan pemerintah jebol juga seperti yang terjadi tahun 2005.
Yang lebih nggak jelas adalah kenaikan biaya pendidikan dan kesehatan yang juga dikendalikan oleh pasar terutama pendidikan swasta dan Rumah sakit swasta, parameter nggak jelas tau tau kita disodori biaya segitu. Pada pendidikan negeri juga tidak pernah dilakukan audit berapa sih sebenarnya biaya pendidikan itu? Apakah terjadi korupsi atau penyimpangan kita nggak tau pernah tau. Kepala Sekolah dan Rektor menjadi dewa yang tidak dapat dikontrol. Status BHMN pada perguruan tinggi negeri tertentu ternyata malah meningkatkan biaya pendidikan. Biaya pendidikan SD dan SMP Negeri di DKI Jakarta katanya gratis tapi kenyataannya masih ditarik uang gedung juga.
Rakyat yang berpenghasilan tetap mau bilang apa kalau begini? Gaji naik sedikit tapi inflasi naik berlipat lipat. Menyimpan duit di deposito BCA dan Bank Mandiri bunganya cuma 7 % ( kalau di Mandiri 7 % didapat apabila uang kita 1 M keatas, di bawah 1 M malah cuma 6,75 % ) itupun apabila jangka waktunya 1 tahun kalau di bawah 1 tahun bunganya lebih rendah lagi. Hasil yang gue terimapun masih kena pajak penghasilan 20 %. Jadi yang gue terima 7 % - ( 7 % * 20 % ) = 5,6 %. Kalau deposito dalam USD bunganya cuma 3,5 %. Kalau terjadi inflasi sebesar 17,11 % seperti tahun 2005 atau 6,6 % tahun 2006 secara hakikat gue bukannya tambah tajir tapi tambah miskin . Belum kalau kita proyeksikan dengan biaya pendidikan anak dan kesehatan yang nggak jelas tingkat inflasinya berapa. Berapa yang harus gue bayar ketika anak gue kelak masuk kuliah? Gue jamin nggak akan ada yang bisa menghitung secara presisi karena biaya pendidikan dikendalikan oleh para kapitalis berkedok yayasan.
Gue jadi kepikiran betapa bahagianya gue ketika sekolah dulu walaupun duit yang gue miliki sedikit , duit habis, duit datang lagi, hidup tenang, nggak banyak pikiran. Kalau sekarang gue harus mikir gimana caranya agar hidup gue bisa tetap nyaman dan gue bisa tetap senang senang sampai gue tua nanti. Disinilah gue pikir pentingnya prinsip dasar ekonomi “ Don’t put all your eggs in one basket “ yang harus gue laksanakan dengan pemikiran dan strategi yang seksama salah taro telur bukan tambah kaya malah tambah miskin karena si telur pecah.
Seperti sudah kita ketahui selain untuk memenuhi kebutuhan, belanja buat sebagian orang adalah kegiatan untuk mengisi waktu senggang, jadi belanja adalah rekreasi. Memilih, melihat- lihat adalah keasikan tersendiri buat mereka. “Ih selopnya lucu banget” kata cewek gue dengan mata berbinar binar. Kadang kadang tujuannya cuma mau beli tas tapi ternyata yang dibeli bejibun. Kadang- kadang bilangnya cuma belanja sebentar ternyata jadi 4 jam. Muter- muter, bolak- balik, keliling- keliling, ngubek- ngubek. Kadang abis keliling- keliling makan minum sebentar terus keliling- keliling lagi. Buset stamina cewek dalam berbelanja memang luar biasa. Jangan pernah memandang remeh kekuatan cewek dalam keliling- keliling dan muter –muter ya, dijamin anda akan gempor kalau nggak tahan. Karena gue orangnya memang demen jalan kaki, maklum dulu suka naik gunung dan melakukan long march jadi tidak pernah menjadi masalah untuk menemani cewek belanja. Malah gue jadi paham ukuran dan kesukaan cewek gue, jadi kalau memberikan kejutan hadiah selop atau baju sangat mudah buat gue karena gue sudah tau dia luar dalam.
Selain pengetahuan soal harga, kemampuan tawar menawar, pengetahuan tentang produk, pengetahuan tentang kapan ada diskon dan kemampuan memilih tempat belanja ternyata ada factor lain yang yang perlu kita ketahui. Dalam membelikan kado dan oleh oleh misalnya kita harus tahu barang apa yang disenengin dan dibutuhkan oleh orang yang akan kita beri kado atau oleh oleh tersebut. Masalah ukuran juga harus kita perhatikan apabila yang mau kita beli itu sepatu, celana, rok atau baju. Yang paling susah adalah masalah selera dalam hal ini adalah model, misalkan ada yang nitip tas atau dompet. Kalau dia menyebutkan merek spesifik lengkap dengan kode productnya memang sangat gampang tapi kalau yang susah itu apabila dia hanya menyebutkan nitip tas sambil berkata” kamu taulah selera saya “. Kalau seperti ini kan perlu pengamatan yang akurat terhadap orang tersebut, kesukaannya yang seperti apa mulai dari merek favorit, warna favorit, model yang dia sukai misalkan yang simple atau yang banyak detil dll .
Dalam berbelanja atau membeli barang, gue juga tidak ngirit. Jadi belum tentu gue membeli barang yang paling murah. Yang selalu gue perhatikan adalah perbandingan apa yang gue bayar dengan apa yang gue dapatkan. Soal sepatu apalagi, karena sepatu itu dipakai kemana mana dia harus nyaman dan cocok dengan kaki gue. Karena sepatu yang bagus dan enak itu harganya secara nominal tinggi ya gue beli yang harganya tinggi tersebut. Buat apa gue beli sepatu harga murah tapi busuk dan gue menderita iya nggak. Apalagi kalau barang elektronik, gue sangat memperhatikan kualitas karena barang tersebut akan sering gue pakai misalkan televisi. Untuk membeli televisi aja gue perlu melakukan riset kecil kecilan mana televisi yang terbaik. Terus kalau beli barang barang yang krusial misalkan rumah gue juga sangat teliti semua aspek gue perhatikan. Tapi kalau barang barang murah misalkan keperluan rumah tangga atau remeh temeh ya tidak begitu gue perhatikan gue beli aja merek merek yang sudah familiar atau sudah menjadi tradisi keluarga gue.
Jadi memang gue pikir perlu ada kalanya kita royal dalam berbelanja, jangan terlalu ngirit. Jangan pernah hanya memperhatikan jumlah yang kita bayar tapi juga harus diperhatikan apa yang kita dapatkan dari membayar tersebut. Awal tahun 2005 gue membeli emas dalam jumlah yang lumayan banyak untuk jaga jaga alasannya sbb:
Alasan pertama, gue membaca bahwa Cina akan mengkonversi sebagian cadangan devisanya ke emas, gue berpikir kalau Cina yang raksasa ekonomi dunia mengkonversi cadangan devisanya ke emas pasti harga emas dunia akan naik karena kalau permintaan meningkat harga pasti naik sementara kalau dilihat dari sisi supply yang gue tahu belum ada perkembangan signifikan karena di Rusia dan Afsel sebagai pemilik cadangan emas terbesar di dunia belum ada kegiatan pertambangan yang menonjol. Ditambah dengan kecenderungan dollar yang melemah dibandingkan mata uang lain di dunia seperti Euro, gue perhatikan kalau dolar melemah terhadap Euro harga emas akan naik.
Alasan kedua, harga minyak dunia semakin naik, kalau harga minyak tinggi pasti Indonesia butuh dollar yang banyak untuk membayar impor minyak mengingat Indonesia itu impor minyak mentah dan produk minyak yang cukup banyak. Sementara modal asing yang masuk sedikit. Permintaan dollar tinggi sementara supply cekak pasti nilai dollar terhadap rupiah naik, kemudian nilai dollar yang tinggi mengakibatkan inflasi, dan pasti harga emas naik mengikuti inflasi tersebut, disamping karena emas itu standar harganya menggunakan dollar maka kalau nilai dollar naik terhadap rupiah akan mengakibatkan harga emas dalam rupiahpun ikut naik. Prediksi gue ternyata tepat seminggu sebelum kenaikan BBM nilai 1 dolar mencapai Rp 10500, konon komentar si Ichal ikut memperkeruh keadaan. Hal berbeda dengan yang terjadi saat ini ( tahun 2007 ) modal asing masuk berbondong bondong sehingga 1 dollar hanya bernilai Rp 9000.
Alasan Ketiga, gue denger pemerintah akan menaikan harga BBM akibat kenaikan harga minyak dunia yang gila gilaan. Kalau terjadi kenaikan BBM pasti terjadi Inflasi dan kalau terjadi inflasi harga emas akan naik juga mengikuti inflasi. Cuma yang jadi pertanyaan gue apakah pemerintah melakukan kenaikan BBM sekali pukul atau secara bertahap?
Akhirnya gue nekat aja belanja di awal 2005 tersebut. Kemudian ternyata prediksi gue tepat harga emas dunia ternyata meningkat dengan gila gilaan karena tingginya permintaan dari Cina dan India ditambah dengan kebijakan pemerintah yang melakukan kenaikan BBM sekali pukul yang mengakibatkan hiper inflasi membuat harga emas di Indonesia meningkat dengan pesat. Beberapa bulan yang lalu gue jual emas gue. Dalam 2 tahun gue mendapatkan keuntungan 53,33 %. Dan itu gue peroleh tanpa kerja sama sekali, cuma mengandalkan secuil informasi ditambah analisa ekonomi yang tidak canggih sama sekali, ditambah kenekatan untuk belanja belanji. Hasilnya ternyata jauh lebih besar daripada gue kerja banting tulang selama satu tahun, bahkan hampir menyamai penghasilan gue kerja 2 tahun yang P4 itu ( Pergi Pagi Pulang Petang ). Siapa bilang belanji belanji selalu hanya merupakan pemborosan dan negative?
Tapi gue sarankan langkah langkah gue jangan diikuti tanpa analisa ekonomi yang canggih, itu karena gue agak bodoh jadi nekat nekat aja padahal bisa saja prediksi gue salah dan gue rugi. Tapi gue sempet kepikiran loh kalau gue aja dapet segitu apalagi Freeport ya, Mr James Moffet udah pasti tambah tajir nih kalau begini.
Gue bukan orang yang terlalu intens mengikuti perkembangan politik tanah air apa lagi akhir akhir ini wong baca koran aja hampir nggak pernah, gue hanya sekilas sekilas melihat berita di internet. Gue prihatin melihat begitu banyaknya dagelan yang terpampang dengan telanjang di depan masyarakat yang hanya bisa manut dan patuh membayar pajak.
Pada kasus dugaan korupsi Bulog, di kamar mandi rumah sang mantan Kepala Bulog ditemukan beberapa ember berisi uang. Amien Rais terima dana non budgeter DKP yang jumlahnya Rp 200 juta untuk keperluan kampanye pilpres padahal UU No 23 tahun 2003 melarang untuk menerima dana dari pribadi lebih dari Rp 100 juta, juga dilarang menerima pemberian dari pejabat, BUMN, instansi pemerintah. Ternyata menurut catatan DKP bukan hanya Amien Rais saja yang terima dana tersebut tapi masih banyak yang lain. Amien Rais bersedia dihukum tapi dia berkata yang lain juga harus dihukum berlipat lipat katanya seraya menuduh bahwa ada calon lain yang menerima dana asing. Begitu banyak mantan Menteri, gubernur, walikota, bupati yang ditahan karena dituduh terlibat korupsi. Lumpur Lapindo juga nggak jelas perkembangannya, lumpur semakin meluas, tanah semakin turun, pipa pada meledak, ribuan orang mengungsi. Maukah sang pemilik dan keluarganya menanggung semua biaya yang diakibatkan oleh perusahaannya? Akankah Lumpur Lapindo menjadi bencana nasional dan biayanya akan ditanggung oleh APBN dan APBD Jawa Timur yang merupakan uang rakyat? Padahal sang pemegang saham mayoritas itu menurut “Forbes “ ternyata sugih tenan, orang no 6 terkaya di Indonesia.
Dahulu kita punya tokoh tokoh yang sederhana, yang benar benar berjuang untuk rakyat, Mohamad Natsir, Bung Hatta, Agus Salim, Umar Wirahadikusumah, Hoegeng Iman Santoso. Mereka orang orang yang berani mengatakan kebenaran walaupun pahit dan resikonya tinggi, mereka adalah sosok negarawan sejati. Pak Umar berani mengkritik Pak Harto soal Petrus dan bisnis keluarga Cendana resikonya dia didiamkan oleh Pak Harto, Pak Hoegeng penanda tangan petisi 50 yang mengkritik Pak Harto, dicekal keluar negeri, tidak boleh muncul di TV bahkan tidak diundang ke acara yang dihadiri oleh Pak Harto. Ada lagi Jenderal Soemitro yang merasa gagal menangani Malari dan memilih untuk mengundurkan diri. William Soeryadjaya memilih menjual PT Astra International demi untuk menutup uang pengganti bagi nasabah Bank Summa yang bangkrut. Sebenarnya kalau mau bisa saja William Soeryadjaya mengelak dari tanggung jawab karena Astra dan Bank Summa itu dua entitas bisnis yang berbeda dan William tidak ada sangkut pautnya dengan Bank Summa. Bank Summa dipimpin oleh anaknya yaitu Edward Soeryadjaya. William berani menanggung resiko tersebut karena dia merasa punya tanggung jawab, dia tidak melakukan pat gulipat, ngeyel, kabur ke luar negeri. William secara ksatria mengambil tanggung jawab anaknya demi kepentingan mantan nasabah yang lebih besar.
Indonesia butuh pemimpin yang berani bertanggung jawab, yang berani bilang “ Ini aku salah, aku akan bertanggungjawab, aku akan bereskan semuanya, aku akan terima konsekuensinya seberapapun pahitnya”. Yang ada sekarang adalah pemimpin yang bilang “iya aku salah tapi si anu juga salah dia harus dihukum juga dan harus berlipat lipat kali hukumanku” atau ada juga yang bermanuver sedemikian rupa sehingga seolah olah sosoknya adalah pahlawan dan berusaha menghindar dari tanggung jawab yang seharusnya dia pikul akibat dari kesalahan yang dia buat. Lebih konyolnya lagi ada tokoh juga yang bilang tokoh yang salah ini jangan dihukum, jasanya untuk negara sangat besar bla bla. Kalau begitu prinsipnya pantesan Indonesia terpuruk terus. Nabi Muhammad saja bersabda “bila anakku Fatimah mencuri aku sendiri yang akan memotong tangannya.”
Salah tetap salah dan yang bersalah harus berani menanggung resikonya seberapapun pahitnya. Rakyat menunggu kearifan pemimpin, orang yang mereka anggap sebagai panutan. Jangan ada lagi yang lari dari tanggung jawab, jangan ada lagi yang mencari cari kesalahan orang lain untuk meringankan kesalahan sendiri, jangan ada lagi yang korupsi, semoga masalah Lumpur Lapindo mendapat penyelesaian yang menguntungkan semua pihak.
Sekarang di lingkungan rumah gue ada beberapa penghuni baru. Penghuni lama menjual rumahnya dan penghuni baru merombak habis bangunan lama dan menjadikan bangunan baru yang mewah. Berbagai alasan seseorang menjual rumahnya ada yang butuh uang untuk berobat, ada yang pengen hidupnya lebih nyaman dengan menjual rumahnya yang besar dan membeli rumah yang kecil ada sisa uang yang bisa dimanfaatkan untuk hidup lebih nyaman. Apa yang anda pikirkan kalau rumah anda ditawar Rp 12,5 juta/m2, anda mendapatkan Rp 6 milyar lebih dan itu tunai alias cash sementara istri anda sedang sakit dan butuh biaya untuk berobat ke Belanda? Kalau memikirkan kedepan sudah pasti rugi karena harga tanah akan semakin naik ( lebih tinggi dari bunga deposito ) dan belum tentu anda bisa mendapatkan rumah yang lebih baik dari yang sekarang, tapi apa boleh buat anda BU ( Butuh Uang ) sekarang.
Butuh Uang, setiap manusia butuh uang, kadang dia tidak kelihatan secara kasat mata tapi ada di rekening kita dan kita tersenyum bahagia ketika uang transferan datang :) dan tersenyum getir ketika uang kita berkurang drastis karena dibelanjain orang lain atau kita sendiri. Gara gara kasus BU itu, gue jadi kepikiran ternyata selain Agama dan Cinta, uang punya pengaruh yang besar dalam hidup manusia. Untuk makan, berobat, belanja baju, kencing di wc umum, pergi kemana saja, internetan, telpon telponan, ngetik di blog ini perlu uang. Bahkan berbuat dosapun perlu uang, untuk mabuk perlu uang, main sama PSK perlu uang, main judi perlu uang, menipu perlu modal awal, mencopet perlu uang untuk bayar ongkos bus. Kita bisa makan nasi karena petani butuh uang untuk hidupnya sehingga dia menjual padinya bayangkan kalau orang hidup nggak butuh duit mungkin orang akan malas tanam padi karena buat apaan iya nggak, paling nanem secukupnya aja sesuai kebutuhan keluarga. Kita bisa menikmati rumah, mobil, internet karena kepentingan orang terhadap uang. Uang memutar sistem kehidupan bahkan sampai yang sekecil- kecilnya. Tontonan kita di televisi yang isinya sinetron, infotainment, berita, talk show itu dikendalikan uang atau ujung ujungnya duit juga. Rating jadi dewa karena kalau rating tinggi, iklan masuk berarti duit masuk. Membuat tayangan idealis juga ternyata motifnya untuk menaikan nama untuk kepentingan prestise yang ujung ujungnya image kita naik dimata masyarakat dan nanti image baik tersebut bisa menjadi tambang uang, seperti orang yang memanfaatkan media untuk meraih dukungan politik yang nanti ujung ujungnya buat mencari uang juga melalui kekuasaan politiknya. Perang juga ternyata ujung ujungnya duit itu sudah terjadi sejak jaman kolonialisme abad pertengahan sampai sekarang yang disebut Bung Karno era Neo Kolonialisme. Penjajahan bangsa kita oleh VOC adalah contoh penjajahan dengan motif uang.
Karena uang mempunyai magnet yang besar seringkali kita menjumpai orang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang seperti korupsi, maling, nyopet, melacur, menjual rahasia negara kepada intelijen asing, makan temen, menggunting dalam lipatan, menikam dari belakang, tipu sana sini, menjadi tentara bayaran, memeras, menjual agama dll. Sebenarnya manusia selain dikendalikan oleh materi juga dikendalikan juga oleh Agama (spiritual ) dan cinta. Kasih sayang seorang ibu tidak mengharapkan imbalan uang, kesetiakawanan kita terhadap sahabat juga tidak mengharapkan gaji .
Agama, cinta dan hawa nafsu diciptakan Allah SWT melekat dalam diri manusia dan ajaibnya karena ketiga hal tersebut manusia mencapai kemajuan beradaban. Bayangkanlah jika hanya ada agama dan cinta, manusia tidak akan menjadi manusia seperti sekarang, tidak akan ada kemajuan. Manusia menjadi seperti Malaikat dan mungkin seluruh sistem kehidupan tidak akan berjalan. Hawa nafsu perlu akan tetapi dia harus dikontrol, hawa nafsu bukan segala galanya karena masih ada komponen lain yaitu Agama dan cinta. Ketiganya kadang berhubungan kadang berdiri terpisah dan berseberangan. Setiap manusia punya dark side tapi kenapa ada yang tetap istiqomah di jalan Allah dan di sisi lain ada yang tergelincir dan tak sanggup untuk bangkit kembali?
Kalau di Agama Islam malah mengatur agar tidak terjadi pemusatan kekayaan hanya pada satu golongan. Jadi pemerataan menjadi prioritas, yang kaya membantu yang miskin melalui zakat, infak sedekah. Beribadah kepada Allah juga tidak harus memerlukan biaya, Shalat, Puasa, Takwa dan Beriman kepada Allah tidak memerlukan biaya. Mengajarkan ilmu dan mendidik juga bisa menjadi tiket ke surga, bahkan menyingkirkan paku di jalan juga bernilai ibadah. Kalau kita rela mengeluarkan uang berjuta juta rupiah untuk kegiatan maksiat kenapa kita tidak mau untuk melakukan sesuatu yang gratis? Beribadah ada yang gratis, tidak perlu bayar dan itu untuk kebaikan kita juga. Allah Maha Pengasih dan Penyayang dia tidak akan membebani umatnya dengan sesuatu yang umatnya tidak mampu untuk memikulnya. Kalau kita miskin beribadah semampunya dan jauhi larangannya, ambil hikmahnya mungkin kalau kita kaya kita menjadi jauh kepada Allah SWT.
Seberapa seringkah kita kehilangan sesuatu? Apabila pertanyaan itu diajukan terhadap gue jawabannya adalah sering, setiap hari gue kehilangan sesuatu. Entah kehilangan waktu, kehilangan uang, kehilangan sahabat, kehilangan password, kehilangan pacar, kehilangan orang yang gue sayang , kadang tanpa gue sadari gue kehilangan kemampuan fungsi organ organ tubuh seperti kehilangan ingatan terhadap suatu peristiwa, kehilangan kemampuan fungsi ginjal dll.
Hidup manusia adalah daur kehidupan, lahir, kanak kanak, remaja, dewasa, tua kemudian meninggal. Ada yang meninggal di waktu dilahirkan, ada yang meninggal di waktu kanak kanak, ada yang meninggal diwaktu remaja, ada yang meninggal di waktu dewasa dan ada yang meninggal di usia tua. Semakin tua usia kita, fungsi organ tubuh kita semakin merosot. Kemerosotan organ tubuh selain oleh usia bisa juga oleh penyakit dan kecelakaan. Muhammad Ali yang di masa jayanya dijuluki dan menjuluki dirinya sebagai “The Greatest”, sekarang untuk memegang gelas saja susah, jalannya gemetar dan bahkan harus dibantu orang lain. Christopher Reeve pemeran Superman yang begitu perkasa dan digilai kaum wanita, jatuh dari kuda dan lumpuh. Akhirnya tahun 2004 Christopher Reeve menghembuskan nafas terakhirnya setelah 9 tahun berjuang melawan penyakitnya. Mike Tyson yang begitu buas dan brutal diakhir karirnya seiring pertambahan usia, sering kalah KO bahkan dari petinju yang tidak terkenal. Ramses, Fir’aun yang menobatkan dirinya sendiri sebagai Dewa ternyata tak berdaya dan akhirnya tenggelam di Laut Merah.
Ternyata di dunia tidak ada Superman, kalau kita meresapi makna sebuah kepemilikan kita akan tau bahwa semua yang seolah- olah kita miliki adalah titipan. Kita merasa memiliki pacar padahal semua itu hanya ada di pikiran kita, sejatinya kita tidak pernah memiliki pacar kita itu. Pacar kita adalah milik Allah SWT yang kapanpun Allah SWT mau ambil kita harus siap untuk kehilangan. Kita merasa memiliki rumah di Menteng sejatinya itu juga bukan milik kita, ketika kita meninggal rumah tersebut tidak kita bawa ke alam kubur melainkan menjadi milik ahli waris kita. Ketika uang kita dirampas secara curang oleh orang lain kita marah- marah tanpa kita melakukan introspeksi sudah berapa banyak hak milik orang lain yang kita rampas. Kenikmatan dunia kadang melenakan dan merampas hak orang lain terasa menyenangkan.
Bagaimana caranya menjadikan sesuatu barang titipan menjadi milik kita? Caranya bukan dengan mengambil tapi membagikan. Semua agama menganjurkan untuk beramal. Kalau di Agama Islam ada Zakat, infak dan Sedekah. Nabi Muhammad SAW bersabda “Apabila seseorang meninggal dunia putus hubungannya dengan dunia kecuali 3 perkara yaitu Ilmu yang bermanfaat, Amal jariah dan anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya. Bagaimana cara kita mengelola sebuah titipan menjadi kepemilikan adalah kuncinya. Kalau kita dititipi otak yang cerdas dan ilmu pengetahuan ajarkan kepada orang lain, kalau kita dititipi harta putar di Business dan berikan hak fakir miskin lewat zakat, infak dan sedekah semakin banyak uang yang kita peroleh semakin banyak juga yang bisa kita berikan kepada orang lain maka semakin besar kepemilikan kita terhadap harta tersebut. Kalau kita dititipi anak didik dengan sebaik baiknya agar menjadi manusia yang sholeh.
Hakekat dari kehilangan adalah apabila kita tidak mampu dan tidak mau untuk menjadikan barang titipan menjadi milik kita. Kepemilikan adalah kemampuan kita untuk mengolah barang titipan dan mengkonversinya menjadi milik kita. Kalau kita beramal secara kasat mata kita seperti kehilangan padahal sejatinya kita mendapatkan. Kalau kita memberi sejatinya adalah kita menerima. Ilmu yang kita amalkan, puluhan juta uang yang kita sumbangkan di jalan Allah, anak yang kita didik menjadi anak yang sholeh adalah milik kita bukan hanya titipan. Seberapa banyak yang milik kita dan seberapa banyak yang hanya titipan Allah mari kita tanyakan kepada diri kita masing masing.