<


Membaca KOMPAS malam ini ( 20 Oktober 2007 ),  pada  halaman 8 ada judul
Sampai Kini Matsani Masih Tetap Jualan Cendol. Di situ dikemukakan pendapat “masyarakat kecil” dari berbagai  kota  di  Indonesia  terhadap 3 tahun pemerintahan Bapak  SBY .   Semuanya mengeluh tentang keadaan sekarang yang ternyata tidak membawa  perubahan seperti yang dijanjikan.  Ini ekspresi rakyat kecil yang jujur,   semoga Pak SBY membaca dan bisa menjadikan itu sebagai masukan untuk bekerja lebih keras lagi.

Gue bukannya membela SBY,  tapi memang system ekonomi yang dianut dunia yaitu kapitalisme memang dodol bin  brengsek.    Dari SMA sudah gue pelajari dan amati ternyata kapitalisme itu kejam.   Setelah gue pelajari Sejarah,  memang sejak dulu   Indonesia    menjadi bulan- bulanan kapitalisme.  Dulu tahun 1973 harga minyak tiba tiba naik gara gara Negara Arab memboikot negara pendukung Israel,   harga minyak naik lagi  tahun 1979 gara gara revolusi Iran disusul perang Iran- Irak,  eh lagi enak- enak menikmati bonanza minyak tahu- tahu  tahun 1986 harga minyak turun jadi  10 dollar / barrel.  Bahkan menukik lagi menjadi 8 dollar/ barrel.


Anggaran yang sudah  disusun matang- matang berantakan,  program yang sudah dirancang dengan baik dalam bentuk repelita jadi  banyak yang gagal,  proyek banyak yang dicancel,  terpaksa Indonesia banting setir dari mengandalkan migas menjadi mengandalkan non migas.   Untuk meningkatkan ekspor terpaksa pemerintah melakukan devaluasi,   kenapa devaluasi?  Karena dengan nilai rupiah yang lebih rendah maka produk   Indonesia menjadi lebih murah dari negara lain sehingga laku di pasaran  dunia.    Kalau nggak gitu darimana kita dapat duit setelah migas nggak bisa lagi diandalkan. Semenjak itu memang ekspor non migas Indonesia  melesat naik tapi karena anggaran bolong banyak akibat kejatuhan harga minyak terpaksa Indonesia  ngutang sama saudara tua yaitu Jepang.  Utang ada bunganya dan banyak syaratnya misalkan barang, kontraktor,   konsultan proyek  berasal dari  negara saudara tua .  Belum dampak lainnya yaitu inflasi akibat naiknya nilai dollar yang menyebabkan harga produk impor jadi naik.


Di system ekonomi kapitalis yang brengsek ternyata harga minyak itu bukan hanya ditentukan mekanisme penawaran dan permintaan tapi oleh mood para pelaku pasar di bursa minyak dunia di  Bursa  New York .   Orang - orangnya itu bukan produsen dan bukan juga konsumen minyak tapi orang orang yang gue curiga mengambil keuntungan dari naiknya harga minyak dunia.   Biaya produksi minyak itukan sebenarnya sekitar 9- 10 dollar/ barrel tapi tiba tiba sekarang diperdagangkan 90 dollar/ barrel.   Apa tidak overprice itu?  Padahal 3  tahun yang lalu hanya 20 an dollar / barrel.   Harga digoreng- goreng terus dengan berbagai macam alasan dan rakyat  Indonesia  jadi korban.  Sudah berapa rakyat Indonesia menjadi korban akibat kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mengakibat inflasi 17,11 % ( versi BPS )  belum kalau dilihat dampak social, ekonomi, politik , hankam dll.

Dari segi  kurs mata uang juga kita dikerjain  oleh system dodol ini.  Bank itukan seharusnya  menjaga  M1 dan M2 agar system ekonomi bisa berputar dalam hal ini menjaga inflasi dikaitkan dengan uang beredar. Kalau uang beredar banyak maka akan terjadi inflasi,  makanya tingginya daya beli efektif masyarakat ( M1 yang terdiri dari uang kartal dan giral ) harus disesuaikan dengan penawaran dari sektor riil.



Nah disini fungsinya si Bank sebagai mediasi yang mengendalikan M1 dan M2. Uang dari masyarakat disedot dan disalurkan ke kegiatan produktif dalam hal ini adalah sector riil.   Misalkan begini  kebutuhan masyarakat akan semen tinggi ,  duit di masyarakat banyak tapi semen langka karena pabrik semen sedikit dan produksinya terbatas karena kekurangan modal,   sudah pasti  hal ini mengakibatkan harga semen akan naik,   terjadi inflasi.   Kalau  kemudian bank kasih pinjaman  uang yang dia punya ke pabrik semen atau orang yang mau mendirikan pabrik semen maka otomatis nantinya terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran karena produksi semen meningkat  sehingga harga bisa turun dan inflasi tidak tinggi. Jadi fungsi bank disini adalah sebagai alat pengendali dari sisi permintaan dan penawaran.

Katronya ternyata uang yang diperoleh dari Bank itu, oleh oknum- oknum tertentu bukannya dipakai untuk kegiatan produktif yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi  eh malah dipakai untuk spekulasi di pasar uang alias main valas,  harga  dollar digoreng- goreng sehingga menimbulkan kepanikan masyarakat  akhirnya banyak orang borong dollar akibatnya dollar langka sudah pasti nilainya jadi tinggi. Harga 1 dollar tadinya Rp 2300 tahun 1997  tiba tiba jadi Rp 16. 700  awal tahun 1998.


Sudah pasti kalau sudah begini secara text book dan teori harus dilakukan penyedotan duit masyarakat  kalau nggak pasti lebih parah orang akan terus melakukan spekulasi- spekulasi bahkan gue rasa kalau sudah jebol Rp 20.000 akan lebih berbahaya dan semakin liar.   Bagaimana cara penyedotannya? Sudah pasti instrumennya adalah suku bunga,  dalam hal ini suku bunga SBI.  Suku bunga deposito mencapai 60% per tahun.   Terjadilah apa yang disebut TMP ( Tight Money Policy ),  sudah pasti TMP ini punya pengaruh negative yaitu konsumsi dan sector riil pasti melempem karena orang lebih senang menyimpan duitnya di Bank daripada mengkonsumsi dan sudah pasti orang nggak akan sanggup mengambil kredit di bank karena suku bunga pinjamannya tinggi .   Mana bisa untung dengan suku bunga pinjaman tinggi sementara tingkat konsumsi masyarakat rendah.   Akibatnya ekonomi slowdown untuk sementara waktu.

Kalau dari  catatan sejarah,   TMP  itu biasanya berjalan sebentar,  setelah kondisi kondusif pasti BI akan melonggarkan kembali.  TMP tahun1991 itu bertahan sampai tahun 1993 setelah itu berangsur normal kembali,   TMP tahun 1998 berlangsung sampai sekitar tahun 2000 setelah itu suku bunga SBI menurun. Apa efek samping dari TMP dan naiknya kurs mata uang dollar?  Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.    Setelah TMP selesai orang kaya duitnya makin banyak akibat bunga deposito yang tinggi  kemudian belanja belanja uang yang dia peroleh dari bunga deposito yang tinggi tersebut,  sudah pasti yang diincar adalah property,  emas, mobil mewah.  Setiap habis TMP pasti tahun- tahun berikutnya terjadi booming property karena turunnya suku bunga deposito mengakibatkan orang mengalihkan investasinya dari deposito ke sektor lain.  Pasar property pasca krismon mulai menggeliat tahun 2001 ketika bunga deposito mulai menurun dan puncaknya tahun 2003 ketika pembangunan property yang dimulai tahun 2001 selesai dan suku bunga deposito hanya sekitar 12 % atau 10 % bersih setelah dipotong pajak.   Orang kaya yang mengalihkan investasinya ini pasti membeli rumah di daerah elite dan otomatis dari orang kaya juga baik OKL maupun OKB sehingga uang hanya berputar- putar di kalangan orang kaya dan tidak menetes kebawah.  Ini yang menyebabkan inflasi tinggi tapi duit masyarakat bawah  tidak bertambah yang ada malah berkurang.    Si miskin makin kesulitan untuk hidup karena harga barang barang naik akibat TMP,  kadang kadang si miskin juga harus kehilangan pekerjaan akibat perusahaannya melakukan PHK karena ekonomi yang slowdown.

Jadi tingginya M1 dan M2 ternyata tidak ada hubungannya dengan kemakmuran rakyat kebanyakan.   Jumlah  M1( uang kartal & giral ) naik,   jumlah  M2 ( M1 + uang kuasi alias deposito dan tabungan) juga  naik  akibat TMP,   tapi rakyat kebanyakan tidak terpengaruh,  duitnya segitu segitu aja yang ada malah berkurang karena tergerus inflasi.  Apakah ini system yang adil?    Ini bukan system yang adil tapi ini system jahiliyah yang brengsek.  Makanya tidak heran kalau membaca jeritan rakyat di halaman 8 KOMPAS  yang seolah olah tidak tersentuh oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih dari 6% pertahun. Seolah olah  orang kaya dan orang miskin hidup di dunia yang berbeda.





October 20th, 2007 at 11:22 am