Macet, Jakarta macet itu sudah biasa, orang berkata pembangunan Busway menjadi penyebab kemacetan. Memang pembangunan Busway sudah pasti menyebabkan kemacetan tapi itu bukan satu satunya sebab. Kemacetan adalah konsekuensi dari berbagai komponen yang berinteraksi satu sama lain. Bukan saja Ekonomi dan Politik tapi juga social budaya.
Kalau kita lihat kenapa ada macet? Ada macet karena kendaraan banyak. Kenapa kendaraan banyak? Karena orangnya juga banyak. Kenapa orangnya banyak? Karena wilayah itu makmur dan banyak duit.
Sudah menjadi logika apabila suatu daerah miskin maka orang orangnya akan keluar mencari daerah yang lebih makmur karena orang beranggapan “kemakmuran suatu tempat pasti berpengaruh terhadap kemakmuran penduduk”. Hal ini sangat sesuai dengan teori ekonomi yaitu prinsip uang beredar, ada yang disebut:
M1 ( jumlah uang kartal dan giral ) yang menggambarkan daya beli efektif masyarakat yang secara langsung mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa.
Kemudian adalagi M2 ( M1 + uang kuasi ) yang dimaksud dengan uang kuasi adalah deposito dan tabungan yang ada dimasyarakat. Jadi M2 adalah seluruh potensi yang dimiliki masyarakat karena deposito dan tabungan itu adalah cadangan yang kapan saja bisa ditarik dan bisa dipergunakan untuk membeli sesuatu.
Apabila suatu daerah M1 dan M2 nya sedikit maka orang pasti tidak sejahtera karena pasti produksi barang dan jasanya di daerah itu kurang. Orang mana mau memproduksi barang yang nggak laku karena daya beli rendah yang mengakibatkan dia merugi. Makanya orang mempunyai kecenderungan untuk mencari kerja di daerah yang banyak M1 dan M2. Banyaknya M1 dan M2 menyebabkan bergeraknya system ekonomi.
Seperti kita ketahui daerah yang menjadi pusat peredaran uang adalah urban, memang ada juga daerah rural yang banyak duitnya yaitu daerah yang kaya dengan sumber daya alam. Tapi rural yang kaya belum tentu fasilitasnya selengkap urban. Urban mempunyai fasilitas yang lengkap mulai dari listrik, air bersih, sekolah yang baik, jalan, transportasi dan hiburan yang lengkap, hal ini dikarenakan selain karena factor uang juga factor politik karena urban merupakan pusat- pusat pemerintahan sehingga mendapatkan prioritas pembangunan.
Kemakmuran suatu daerah ternyata tidak berkorelasi dengan kemakmuran penduduk, secara teori seharusnya kalau suatu wilayah makmur penduduknya pasti ikut makmur. Ternyata tidak begitu, masalah sesungguhnya adalah karena tidak setiap penduduk punya akses yang sama terhadap sumber sumber ekonomi di samping tidak samanya akses akses terhadap sumber informasi. Jadi intinya adalah masalah distribusi M1 dan M2 tadi.
Sudah menjadi logika umum bahwa orang kaya bergaul dengan orang kaya, orang kaya pasti membeli rumah dari orang kaya lainnya entah itu OKL atau OKB karena pertimbangan kenyamanan dan gengsi, jadi uang yang beredar dikalangan orang kaya sangat banyak sementara jumlah rumah yang akan dijual sedikit hal ini mengakibatkan harga rumah di Zona 1 alias rumah di pusat kota akan sangat mahal karena sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu demand tinggi tapi supply kurang maka harga akan naik. Rumah di pusat kota umumnya adalah rumah second alias rumah bekas dan apabila kita akan membelinya sebagian besar harus menggunakan uang cash tidak bisa mencicil seperti di Real Estate yang memproduksi rumah baru.
Kalangan menengah kota dan kaum pendatang yang umumnya mengandalkan gaji bulanan tidak sanggup membeli rumah di Zona 1 yang belinya harus cash dan harga terus naik tersebut, akhirnya mereka mencari rumah ke daerah pinggir yang bisa kredit 10 -15 tahun. Otomatis pertumbuhan penduduk daerah suburban semakin tinggi. Menurut sensus penduduk tahun 2000, daerah Tanggerang dan Bekasi mempunyai angka laju kenaikan penduduk sebesar 4,3 % per tahun. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi terjadi di seluruh dunia, di London orang nggak tahan hidup di Zona 1 akhirnya memilih memiliki rumah di pinggiran.
Yang menjadi masalah di Indonesia adalah system transportasi masalnya tidak siap, sementara setiap hari terjadi pergerakan arus masa dari Suburban ke urban baik untuk kerja maupun sekolah, secara logika terjadi pergerakan massa dalam waktu bersamaan pasti menimbulkan kemacetan. Terus terang gue ragu dengan Busway apakah dia bisa mengatasi masalah kemacetan mengingat daya angkutnya sekali jalan sangat sedikit sementara massa yang harus diangkut dalam jam jam tertentu jumlahnya sangat besar. Badan jalan sudah terlanjur terpotong sehingga jalan semakin menyempit oleh jalur Busway tapi daya tampung yang bisa diangkut cuma sedikit. Jadi mohon maaf sebelumnya menurut gue proyek busway ini adalah proyek “ menghibur diri”. Sekedar berdandan ala kadarnya tapi tidak merubah substansi masalah sama sekali.
Belum kalau gue lihat budaya masyarakat Indonesia yang senengnya punya rumah gede alias rumah di atas tanah. Nah rumah gede itu apabila ingin didapat dengan duit cekak ya harus di suburban alias pinggiran. Kita belum terbiasa dengan Rumah Susun atau apartemen seperti diluar. Memang semua juga pastinya maunya punya rumah gede, ngapain tinggal di apartemen iya nggak? Tapi di Jerman orang terpaksa tinggal di apartemen karena kalau punya rumah pribadi itu biayanya mahal sekali akhirnya mereka terbiasa. Dengan permukiman terkonsentrasi pada titik titik tertentu sangat memudahkan keefektifan transportasi masal di Jerman. Berbeda dengan di Indonesia masyarakatnya tinggal menyebar di banyak titik yang jaraknya jauh jauh seperti di kompleks- kompleks Bekasi, Cibubur, Bintaro, Pondok Gede, Pondok Indah yang akses masuk kedalam rumahnya berkilo kilometer, kadang kagak ada ojek, yang angkotnya cuma sampai jam 6 sore, masyarakat seperti ini yang kita paksa naik Busway? Mereka mungkin memilih bermacet ria daripada kaki pegel karena jalan kaki dari depan sampai rumahnya. Belum lagi harus berdesak desakan karena kapasitas Busway sedikit dan mengalami kemungkinan pelecehan seksual serta pencopetan.
Temen gue misuh- misuh karena baru menjual rumahnya di Tebet dan pindah ke Cibubur, sementara kantornya di Kuningan, katanya dia tersiksa dengan kemacetan, capek dll. Gue hanya bisa prihatin dan berkata dalam hati, ” itu baru awal penderitaanmu bro, 5 -10 tahun lagi lo akan makin menderita karena factor- factor objektif seperti yang gue jabarkan diatas. “ Itu sudah seperti lingkaran setan. M1 dan M2 banyak maka penduduk banyak berdatangan, jumlah penduduk banyak kebutuhan rumah meningkat mengakibatkan harga rumah di pusat kota mahal, penduduk yang nggak sanggup beli rumah di zona 1 cari rumah di pinggiran mengakibatkan penduduk pinggiran banyak, sementara mereka cari M1 dan M2nya di Kuningan, Sudirman, Thamrin akhirnya sepanjang perjalanan pergi dan pulang kantor terutama di daerah yang dilewati komuter macet. Temen gue bilang, di daerah Bekasi keluar kompleks rumahnya saja udah macet. Belum adanya kampus seperti Atma Jaya di Jl Sudirman dan dan Perbanas di Kuningan yang membikin arus massa tambah banyak datang kesitu untuk kuliah ( sungguh brilliant orang yang memindahkan UI dari Salemba & Rawamangun ke Depok ).
Jadi solusinya apa donk? Gue pikir solusi nya adalah system transportasi massal dengan daya tampung besar seperti monorel atau kereta cepat model TGV jadi modelnya ala jalur layang KA stasiun Cikini sehingga transportasi di bawah tidak terganggu, ini tidak bisa tidak, sekarang atau nanti sama saja harus dibuat juga tapi lebih baik dibuat sekarang karena kalau nanti nanti biayanya pasti akan lebih besar, gue rasa ini bukan masalah duit tapi masalah kemauan dan tekad bulat, dulu kita kere tapi kita bisa bikin Monas, dulu rakyat miskin tapi kita bikin Istora dan punya TVRI sekaligus. Kalau system tranportasi massal sudah baik orang pasti akan memilih system tersebut untuk ke kantor, dan akan banyak tempat penitipan mobil, jadi dari rumah ke tempet penitipan terdekat pakai mobil kemudian perjalanan ke pusat kota dilanjutkan dengan tranpostasi massal. Terus menurut gue perlu diperbanyak Rumah Susun sederhana di pusat kota dan dilakukan penataan daerah kumuh, agar tidak memberatkan rakyat pembayarannya bisa dicicil 10-15 tahun dengan bunga rendah. Solusi lainnya tentu saja membuka zona- zona ekonomi baru sehingga peredaran M1 dan M2 tidak hanya berpusat di urban tapi juga menetes ke daerah, orang itu sebenarnya kadang kadang ngikut uang, dimana ada uang disitu orang berdatangan, membuka zona ekonomi baru tentu pertamanya harus rugi, tapi efeknya sangat panjang dan nantinya pasti akan untung. Lagi lagi dibutuhkan kepemimpinan yang kuat disini