Melihat friendster keponakan gue yang penuh dengan “cewek cewek imut dan lucu”, gue jadi teringat masa-masa sekolah gue dulu. Masa- masa ketika idealisme gue begitu berkobar-kobar, masa masa yang berkesan sehingga sampai sekarangpun gue kerap bermimpi tentang masa- masa di sekolah. Ada kisah cinta, ada pencarian ilmu, ada senyum, ada luka, ada solidaritas, ada persahabatan.
Di sekolah, gue menemukan miniatur masyarakat, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang cantik, ada yang jelek, ada Islam, ada Kristen, ada Budha, ada Atheis, ada Agnostic. Hanya saja karena sekolah gue sekolah negeri maka rata- rata kemampuan intelektualnya hampir sama karena seleksi untuk masuk sekolah itu menggunakan nilai NEM dan beda angkanya sangat tipis karena begitu banyak yang mendaftar dan hanya sedikit yang diterima mengingat daya tampung yang terbatas.
Di sekolah gue biasa bergaul dengan masyarakat yang berbeda tapi tentu saja seperti biasa terjadi pengelompokan- pengelompokan berdasarkan minat dan kesamaan kesamaan. Ada yang di sebut tim borju yang isinya para borjuis, ada tim Rohis yang agamis, ada tim mikir yang sangat akademis, ada tim pecinta alam doyannya naik gunung dan keluyuran, ada tim persekutuan doa yaitu kalangan Kristen, ada tim cabut / madol yang kerjanya bolos, ada tim anak bengal kerjanya nongkrong dan petantang petenteng terutama terhadap adik kelas.
Begitu banyak warna dan kejadian ketika gue berada di sekolah, pura pura pinjam buku dan catatan pelajaran ke gebetan dengan harapan bisa punya alasan untuk mengembalikan buku ke rumahnya, pura pura menanyakan PR cuma biar ada alasan untuk ngobrol sama si dia, mengirim surat cinta beramplop biru muda ke meja sang pujaan hati dan esok harinya gue menerima balasan surat beramplop pink di meja gue, ada deg degan, senang campur baur jadi satu. Kalau dia nggak masuk kayaknya ada yang hilang dan cemas jangan jangan dia kenapa kenapa lagi. Kalau malam hari gue pengen cepet- cepet pagi biar bisa ketemu dia di sekolah. Tapi begitu putus, sekolah serasa di neraka, tiap hari ketemu, tiap hari gue lihat wajahnya apalagi begitu dia pacaran dengan cowok lain rasanya pengen kabur aja dari sekolah. Kadang kadang kalau melihat dia mesra- mesraan di depan gue, rasanya pengen nonjok.
Di sekolah yang begitu plural dan majemuk, setiap murid muridnya punya karakter masing masing begitu juga cara belajarnya. Ada yang anti nyontek dan anti memberikan contekan biasanya berlatar belakan Rohis atau Persekutuan Doa, nyontek itu dosa kata mereka. Ada lagi yang tidak pernah nyontek tapi rajin memberikan contekan mereka beralasan solidaritas, ada lagi yang kerjanya minta contekan dan nyontek. Berbagai modus operandi dalam mencontek ada yang membuat tulisan kecil kecil di kertas, ada yang nulis di meja bahkan kalau meja udah penuh dengan tulisan mereka bawa tiner untuk membersihkan meja agar meja bisa ditulisi lagi, ada lempar lemparan kertas, pura pura ke wc dan yang tradisional tentunya buka buku secara diam- diam.
Kalau gue pribadi tidak merasa perlu untuk mencontek, gue pikir buat apa, gue bukan orang yang terlalu ambil pusing dengan nilai, begitu juga orang tua gue. Jadi ya gue belajar karena gue memang suka belajar, orang tua gue tidak pernah menyuruh gue belajar. Gue suka semua pelajaran karena menurut gue pelajaran itu menarik semua. Gue suka Agama, fisika, matematika, kimia, biologi, bahasa, sejarah, geografi. Bahkan kadang kadang pada saat liburan gue suka belajar misalnya malamnya abis jalan- jalan gue belajar pelajaran yang akan datang misalnya gue kelas 1 naik ke kelas 2, gue belajar pelajaran kelas 2 bahkan latihan soalnya udah gue kerjakan semua. Kalau pas waktunya sekolah gue santai, semua PR udah gue kerjakan semua pas liburan kemarin, waktunya bisa gue pakai untuk telp pacar tanpa harus pusing direcoki dengan PR. Bahkan untuk pelajaran hapalan seperti sejarah dan geografi ketika akan ada ulangan gue tidak merasa perlu untuk belajar pada malamnya karena gue memang sudah hapal semua sejak setahun kemarin. Entah kenapa ingatan jangka panjang gue begitu kuat mungkin karena setiap abis membaca pelajaran gue langsung tidur, mungkin ketika gue tidur otak gue melakukan konsolidasi sehingga pelajaran tersebut disimpan dalam memory jangka panjang. Kadang kadang pelajaran itu juga muncul dalam mimpi- mimpi gue.
Dari pengalaman gue di sekolah gue mendapat banyak pelajaran antara lain kemampuan untuk mengerti karakter karakter yang beraneka ragam, menghargai perbedaan, gue mengerti kenapa mereka bersikap begitu, gue mengerti cara berpikirnya akhirnya gue menjadi sulit untuk membenci golongan lain, terhadap Kristen gue tidak ada kebencian, terhadap Islam radikal gue tidak ada kebencian makanya ketika orang banyak yang membenci FPI gue menjadi bingung karena gue tidak bisa membenci FPI. Terhadap Atheis dan Agnostic juga tidak ada kebencian. Bahkan terhadap Yahudi yang sangat dibenci oleh teman teman Rohis, gue juga tidak punya kebencian. Gue kadang kadang berpikir salah nggak sih kalau gue tidak punya kebencian terhadap Yahudi, kenapa sih gue sulit sekali untuk membenci orang?
Yang juga gue pelajari dari sekolah adalah setiap orang membangun pengetahuannya dengan cara masing masing. Cara belajar gue berbeda dengan teman gue, pemahaman gue terhadap pelajaran juga berbeda dengan teman gue. Perilaku gue bisa diatur oleh sekolah misalkan gue harus masuk jam 7 pagi kalau telat 5 menit pintu sekolah digembok dan gue harus menunggu jam pelajaran berikutnya untuk masuk kelas, ke sekolah gue harus pakai seragam, ke sekolah gue harus pakai sepatu padahal gue pengennya pakai sandal, di sekolah nggak boleh merokok, di sekolah ada batas kehadiran minimum kalau lewat batas gue nggak bisa naik kelas jadi gue nggak bisa bolos seenaknya, gue nggak boleh membuat onar di kelas. Di sekolah gue dididik untuk disiplin apabila melanggar peraturan gue kena sanksi.
Sekolah bisa mengatur dan memaksakan sebuah peraturan untuk kepentingan yang lebih besar, bayangkan kalau gue dibiarkan berbuat onar di kelas tentu yang dirugikan bukan hanya gue tapi teman- teman gue menjadi terganggu dan kepentingan mereka juga terganggu harusnya mereka dapat belajar dengan tenang tapi karena ulah gue mereka jadi tidak dapat belajar dengan baik. Jadi kasih sayang tidak hanya dengan kelembutan tapi tindakan keras dan represif juga bisa menjadi perwujudan kasih sayang. Tindakan keras bertujuan untuk mencegah gue berbuat kerusakan dan kezaliman. Kalau sekolah gue lembek mungkin gue akan menjadi manusia yang brengsek dan seenaknya. Di sekolah gue dididik menjadi manusia yang bisa dan mudah diatur.
Tapi ada yang sekolah tidak bisa atur dari diri gue yaitu pikiran gue. Sekolah tidak bisa mengatur pikiran gue, bahkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan kurikulumnya sekalipun tidak bisa mengatur pikiran gue. Sekolah dan Departemen Pendikan dan Kebudayaan tidak bisa memaksakan pikiran gue harus sesuai dengan kurikulum. Murid adalah subyek dari pendidikan bukan obyek, dulu ada yang namanya CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif ) itu merupakan pandangan yang sangat benar dan jenius kalau menurut gue sebuah revolusi untuk mengganti CBSA versi lama ( Catat Buku sampai Abis ). Terima dan tolak suatu pengetahuan adalah menjadi otoritas gue, tidak ada yang bisa intervensi, ada pengetahuan yang tadinya gue percaya akhirnya setelah melalui proses akhirnya gue tolak, ada yang tadinya gue tolak akhirnya gue terima, ada yang gue tolak terus dan ada juga yang tetap gue percaya sampai sekarang.
Informasi, pengalaman, kepercayaan, ide ide dan imaginasi terus berkembang dan berakumulasi di dalam otak gue. Manusia adalah subyek dari ilmu pengetahuan dan keimanan. Pikiran bisa dipengaruhi tapi otoritas tertinggi tetap ada pada masing masing individu. Tolak, terima, perkaya, modifikasi ilmu pengetahuan, bangun ilmu pengetahuan dengan ide ide baru itulah tugas kita sebagai manusia.