<

Seorang kolektor musik  tertunduk pasrah, “gue mau jual sebagian koleksi gue,” katanya lirih.    Gue cukup kaget mendengar kata- katanya, seorang kolektor yang begitu patriotik ternyata harus menjual koleksi- koleksi kesayangannya.   Mungkin menurut orang lain ini hal yang biasa tapi kalau kita mendalami bagaimana kebahagiaan menjadi seorang kolektor kita akan tahu bagaimana sakitnya ketika kita harus menjual sesuatu yang kita sayangi,   yang kita peroleh dengan susah payah dan sekaligus harus meninggalkan kenangan kebahagiaan ketika memiliki benda tersebut.   “Harga melambung tinggi, ekonomi lagi sulit,  man,” katanya.

Kalau kita lihat dari sejarah bangsa ini memang diwarnai inflasi yang tinggi, harga harga terus naik. Keadaan yang sekarang buruk tapi bukan yang terburuk. Di jaman Soekarno inflasi mencapai 600 %, pada saat krismon 1998, inflasi tinggi dan   pertumbuhan ekonomi minus,  PHK di mana mana, sekarang pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi inflasi juga  tinggi.

Kalau kita lihat inflasi tinggi biasanya dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tentunya kondisi ekonomi dunia,  karena dunia sekarang sudah semakin menjadi satu,  goncangan pada satu negara  mempengaruhi negara lain bahkan seluruh dunia.  Bahkan siapa yang menjadi presiden USApun bisa  menentukan ekonomi dunia,   harga  tempe di  warteg dipengaruhi oleh kebijakan Presiden Amerika,  itulah realitas dunia sekarang.   Naiknya harga komoditas dunia sudah gue prediksi sejak tahun 2004,   ini sebuah sistem,  krisis Timur Tengah yang terjadi  ketika George W Bush menyerang Afganistan dan Irak  serta mengancam Iran menimbulkan ketidakstabilan di  kawasan Timur Tengah ditambah  permintaan minyak yang tinggi dari Cina dan India mengakibatkan harga minyak naik,   gas dan batu bara sudah pasti ikut naik  dampak ikutannya minyak goreng dan emas ikut  naik,   kedelai naik,  ujung -ujungnya  harga makanan di  warteg naik.

Faktor internal  penyebab inflasi  sudah pasti adalah kondisi transportasi,  psikologi masyarakat ( termasuk ekspektasi inflasi ), paceklik yang diakibatkan bencana alam,  monopoli,  kartel terselubung,  KKN,   penyelundupan, kebijakan pemerintah, banyaknya uang beredar di suatu kawasan.

Kembali ke mikro alias kehidupan pribadi dan rumah tangga,   gue sering mendengar keluhan- keluhan tentang hidup yang makin sulit,  apa- apa naik, susu naik,   minyak goreng naik,   minyak tanah naik, telor naik,  bensin naik ( pertamax),   tol naik, gaji pembantu naik,   gaji sopir naik,   gaji satpam naik.  Temen gue yang sudah nikah mengeluh tentang hidupnya,  dia setiap bulan harus bayar cicilan rumah sebesar Rp 3 juta,   belum susu anak,  gaji pembantu,  karena rumahnya di pinggiran sementara kantor di pusat kota, biaya bensin dan tol menjadi tinggi.    Sekarang harga- harga makanan dan bahan penunjangnya  juga naik,  dia menjadi pusing karena itu diluar perkiraannya sementara tiap bulan dia sudah pasti harus keluar duit Rp 3 juta untuk cicilan rumah.

Gue rasa ini adalah potret kelas menengah di Indonesia yang sangat terpukul dengan adanya inflasi,   kalau kalangan bawah memang sudah terpuruk dan sekarang semakin terpuruk,   kalangan menengah sekarang  sudah mulai megap megap terutama para pasangan muda  yang jabatannya masih junior.  Ini gue lihat bisa memunculkan geger social,   kalangan menengah ini sempat menikmati kenikmatan di masa lalu tiba tiba sekarang kenikmatan-kenikmatan itu dicabut atau tercabut.   Kalau orang yang berasal dari kalangan bawah cenderung pasrah dan nrimo,   kalangan menengah ini  yang jeritannya paling kuat karena kehilangan kenikmatan yang biasa dia terima.

Kalau menengok pengalaman gue sekolah dulu,  pergaulan para borjuis di sekolah (  Genk Borju )   sebenarnya tidak hanya diisi oleh para borjuis tapi diisi juga oleh kalangan menengah alias biasa- biasa saja.    Kalangan yang biasa biasa ini nebeng fasilitas si borjuis, akibatnya  gaya  hidupnya juga menjadi tinggi,  barang bermerek,   gengsi tinggi,   doyan pamer meteri, makan di tempat tempat bergengsi bersama si borjuis.   Memang hal ini pada dasarnya adalah positif akan tetapi apabila tidak dibarengi dengan kemampuan bisa menimbulkan frustasi dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.    Kalangan menengah yang terbiasa bergaul dengan borjuis ketika di  sekolah ini  begitu  berumah tangga menjadi gagap,   gaya hidup borjuis  sakaw dengan materi  tetapi penghasilan paspasan,   begitu harga- harga naik  terpaksa ngutang sana- sani akhirnya dikejar -kejar debt collector.

Kondisi ini yang  gue  kuatirkan bisa memicu  goncangan yang sangat besar,  masyarakat sekarang diam tapi sebenarnya dia mencatat dalam hati dan bukan tidak mungkin suatu hari nanti begitu muncul trigger mereka melakukan penghukuman baik terhadap elite politik / kapitalis birokrat  maupun kaum  borjuis.    Ini seperti tahun 1998,    sebelum tahun itu masyarakat dijejali dengan berita- berita keluarga Cendana,  si ini megang proyek itu,  si anu pegang itu, masyarakat hanya bisa diam.    Terjadi krismon harga harga melambung tinggi,  rakyat hanya bisa menjerit,   kemudian muncul trigger   yaitu penembakan mahasiswa Trisakti kemarahan  rakyat  langsung ditumpahkan,  Pak Harto dicaci maki,  mobil Timor dikejar- kejar dan dibakar,  kantor pemerintahan,  rumah Harmoko  di Solo,  rumah Liem Sioe Liong di Gunung Sahari dibakar.

Orang Indonesia apabila ditekan,   pertama akan ngalah,  ditekan lagi akan ngalih ( menghindar ) dan kalau sudah tidak kuat akhirnya ngamuk. Kapitalis birokrat dan para borjuis harus memperhatikan hal ini,  rakyat lagi susah,  perilaku  dan omongan sebaiknya dijaga agar tidak semakin menyakiti hati rakyat,   jangan tunggu rakyat ngamuk.

January 23rd, 2008 at 3:02 am