<

Jawa dan kemiskinan adalah sebuah sejarah panjang,   di buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat  diceritakan pada tahun 1921 Soekarno yang bolos kuliah jalan- jalan ke Bandung Selatan di situ dia bertemu dengan  seorang petani,  namanya Marhaen.    Pak Marhaen  ini punya alat produksi seperti tanah,  cangkul,  bajak dia juga punya rumah sendiri meskipun begitu ternyata kerja kerasnya hanya cukup untuk makan.

Ternyata setelah  Indonesia merdeka,   bahkan setelah 87 tahun dari peristiwa pertemuan Soekarno dengan petani Marhaen kemiskinan tidak juga hengkang dari Pulau Jawa.    Dari dulu gue mikir apa sebabnya kemiskinan tidak hengkang- hengkang dari Pulau Jawa, apa  yang salah disini?   Apakah pilihan untuk menjadi petani seperti Pak Marhaen adalah keputusan yang salah?   Menjadi petani adalah seperti menjalani kutukan,  harga pupuk tinggi, harga pestisida tinggi,  harga bibit tinggi bahkan banyak yang palsu,   banyak hama,  harga jual gabah  jatuh ketika panen raya.   Uang dari hasil penjualan gabah hanya cukup,  kadang kadang malah kurang untuk makan,  petani hidup dari hutang dengan bunga tinggi yang diberikan rentenir.

Masalah utama di Pulau Jawa adalah tanah,  tidak semua petani punya tanah, kebanyakan adalah petani penggarap yang harus bagi hasil dengan pemilik tanah.  Kalau luas tanahnya sedikit otomatis hasil yang diterima juga sedikit. Isu tanah pernah diangkat oleh PKI pada tahun 1950-1960an.  PKI mendapat banyak pengikut karena dia memperjuangkan tanah untuk petani,   kehadiran  PKI di kalangan petani yang miskin,   yang tidak punya tanah memberikan harapan kepada mereka akan datangnya Ratu Adil yang akan memberikan kondisi  masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi tata tentram kerta raharja.   Hanya dalam  waktu 5 tahun,   PKI menjadi kekuatan  no  4 di Indonesia pada pemilu 1955 dan menjadi partai komunis terbesar no 3 di dunia di luar Uni Soviet dan RRC.   Basis  massa PKI  yang paling kuat adalah di Jawa Tengah dan Jawa Timur,   daerah yang berbasis pertanian. Berarti begitu sensitifnya isu tanah di Pulau Jawa sehingga dalam waktu singkat partai yang mengusung isu tanah menjadi kekuatan No 4.  Tanah menjadi penting buat petani karena di situlah periuk nasi mereka,  ngga ada tanah bisa bisa ngga makan.  BTI,   organisasi  onderbouw PKI dengan cepat meraih dukungan sekaligus memicu konflik dengan golongan lain karena aksi aksi sepihak penyerobotan tanah yang kebetulan adalah milik Kyai -Kyai NU.  Terjadi konflik  BTI dengan  massa NU.

Kalau menilik kondisi sekarang kondisi kemiskinan yang melanda petani menyebabkan petani menjadi pragmatis, mereka terdorong untuk melakukan urbanisasi ke  kota menjadi kuli atau PRT, ketika musim tanam baru kembali ke desa.   Di daerah tertentu di pantura malah anak anak gadisnya didorong ke kota untuk menjadi penghibur istilahnya luruh duit,  bekerja sebagai  telembuk alias PSK.   Kemiskinan menyebabkan terjadinya relativitas moral.   Orang tidak risi lagi dengan sanksi social yang penting bisa makan. Ketika materi lebih penting dari spiritual,  masyarakat Jawa menjadi tercabut dari akarnya,  masyarakat Jawa adalah masyarakat yang pada dasarnya mementingkan hal hal spiritual, kesalehan tapi apa daya kemiskinan telah merubah segalanya,  materi membuat kehausan,  semakin diminum semakin haus sehingga menyeret manusia ke lembah hitam dan terjerat di sana tanpa bisa menemukan jalan keluar.

Sementara di pihak lain para tuan tanah juga semakin pragmatis,  mereka yang mempunyai tanah di pinggir jalan raya memilih menjual tanahnya daripada menyewakan atau menggarap sawahnya. NJOP tanah yang terus naik di daerah pantura yang merupakan sentra produksi beras nasional menjadikan para tuan tanah ngiler,  mereka berpikir lebih baik tanah dijual daripada nanam padi untung ngga seberapa masih harus bagi dua lagi dengan penggarap belum kalau gagal panen,  biaya produksi makin tinggi akibat naiknya nilai dollar. Mereka mengambil risiko yang terkecil,  tanah dijual duitnya didepositokan atau diputar di bisnis lain. Kalau punya tanah 1 hektare terus dijual Rp 100 ribu per m2 maka sudah  didapat  Rp 1 M didepositokan taruh dengan bunga 5% sudah dapat 50 juta pertahun  tanpa keluar modal dan risiko yang terlalu besar dibandingkan apabila tanah tersebut hanya dijadikan sawah.   Kebutuhan akan rumah dan tanah untuk Industri bahkan kuburan  ( ingat San Diego Hills Memorial Park and Funeral Homes di  Karawang  yang 500 hektar itu  ) yang tinggi menjadikan  tanah pertanian beralih fungsi,  masyarakat capek jadi petani,  masyarakat bosan hidup susah.

Kalau ini terus terjadi,  10 -20  tahun lagi Indonesia termasuk Jawa dalam bahaya,  apabila  lumbung padi nasional yaitu Jawa Barat  habis semua untuk  rumah,  pabrik,  kuburan,  apabila petani menjadi malas untuk bekerja karena dia pikir bertani adalah pekerjaan sia- sia maka produksi makanan kita akan menurun dan Indonesia menjadi pengimpor segala produk pertanian,  kemandirian bangsa berkurang,  harga komoditas makanan dunia  naik kita akan menjerit,  dollar naik kita menjerit.  Kemiskinan terjadi di  kota  besar menimpa buruh yang gajinya tetap sementara pengeluarannya bertambah. Di Pulau Jawa,  kemiskinan bukannya hilang malah makin menjadi- jadi.

Cara bertanam yang efisien perlu diterapkan tapi entah kenapa otoritas begitu lamban,  kok kita bisa kalah dengan Thailand dan Vietnam yang produktivitasnya begitu tinggi,  ada apa dengan Indonesia negeri yang katanya tanah surga,  tongkat , batu jadi tanaman.   Kita yang hidup di kota besar yang katanya intelektual harus mulai mikir kedepan,   hidup kita dalam bahaya. Waspadalah waspadalah ( Bung Napi mode: ON )

January 26th, 2008 at 4:41 am