<

“ Jawa adalah kunci, “   kata- kata yang gue ingat keluar dari mulut DN Aidit pada Film Pengkhianatan G 30 S / PKI  yang diputar setiap  malam 1 Oktober pada era Orde Baru.    Kalau benar DN Aidit mengucapkan begitu berarti itu merupakan suatu pengakuan  terhadap  betapa pentingnya Jawa dalam kehidupan politik Indonesia,   seperti kita ketahui DN Aidit berasal dari Belitung, sebuah pulau yang dulunya masuk wilayah Sumatra Selatan.

Kalau kita lihat dalam sejarah perpolitikan nasional sejak jaman dahulu kala, Jawa memang mempunyai peranan yang sangat besar,   bukan hanya karena jumlah penduduknya paling  banyak tapi memang terjadi penyebaran penduduk Jawa ke hampir seluruh pelosok Nusantara.    Balaputradewa,  Raja Sriwijaya yang terkenal adalah putra Raja  Mataram,  Samaratungga  yang berasal dari  Wangsa Syailendra,   beragama Budha dan juga pembangun Candi Borobudur.  Belum kalau kita lihat Majapahit dengan Patih Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara kecuali Kerajaan Sunda.    Mengenai Kerajaan Sunda ada kisah tersendiri,    Raden Wijaya pendiri Majapahit adalah putra Raja Sunda dengan putri dari  Singosari.    Begitu dewasa dia bersama ibunya pulang kembali ke Jawa Timur dan menikah dengan putri Kertanegara,  Raja Singosari.  Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit.    Jadi Raja- Raja Jawa sebenarnya masih ada darah Sundanya melalui Raden Wijaya,  itu sebabnya terjadi hubungan baik antara Kerajaan Sunda dan Majapahit  karena adanya pertalian darah,    hal tersebut akhirnya rusak karena peristiwa Perang Bubat di mana keluarga Kerajaan Sunda termasuk Prabu Linggabuana dibantai habis oleh prajurit Majapahit atas perintah Gajah Mada,    sementara Dyah Pitaloka Citraresmi  memilih untuk bunuh diri.

Kalau dari perpolitikan modern,   suku Jawa juga sangat mendominasi,  semua Presiden Indonesia   ada darah Jawanya.    Soekarno,  ayahnya Jawa ibunya Bali, Soeharto orang Jawa,   BJ Habibie ibunya orang Jawa bergelar Raden Ayu,  Gusdur asal Jombang,  Jawa Timur,   Megawati ada keturunan Jawa,  Bali, Bengkulu,   SBY seperti kita ketahui berasal dari Pacitan,  Jawa Timur dan semua Presiden Indonesia adalah Muslim.    Gue lihat ini seperti fenomena WASP ( White Anglo- Saxon Protestant ) di  USA.

Kalau dilihat dari kepercayaan masyarakat Jawa ada pola pola tertentu yang sama yaitu masyarakat Jawa umumnya percaya terhadap kekuatan eksternal  entah itu Tuhan,   arwah lelulur,   benda kramat,   ajian- ajian dll.   Konsep Tuhan dalam masyarakat Jawa adalah Dia Yang Maha Kuasa.   Gusti Allah ora sare ( Tuhan tidak pernah tidur / istirahat ).    Gusti Allah ora sare ini dalam perspektif Jawa  bisa diartikan adalah keadilan,   karena Tuhan dalam pandangan masyarakat Jawa adalah Dia Yang Maha Adil.    ” Sopo sing nandur ngunduh” (  siapa yang menanam akan menuai ),   Menanam kebaikan akan menuai kebaikan,    menanam kejahatan akan menuai kejahatan,  di situlah konsep Gusti Allah ora sare bisa kita letakan.   Perang Baratayudha dipercaya oleh  masyarakat Jawa adalah suatu mekanisme keadilan,   sopo sing nandur ngunduh.   Kurawa menuai akibat dari perbuatannya di  masa lalu.     Jadi ini bukan masalah kesaktian dan perebutan kekuasaan semata tapi suatu mekanisme keadilan,    siapa yang menanam menuai hasilnya.   Itu sebabnya walaupun Adipati Karna sakti mandraguna akhirnya dia merelakan dirinya untuk tewas ditangan Arjuna dalam rangka memenuhi konsep keadilan dan takdir para Dewa.   Adipati Karna tunduk pada hukum keadilan tersebut,  dia membunuh Gatot Kaca akhirnya dia terbunuh oleh Arjuna.

Konsep lain yang juga lekat dengan masyarakat Jawa adalah Ratu Adil,  konon merupakan ramalan  Raja  Kediri  Prabu Jayabaya,     bahwa kelak akan turun Ratu Adil yang membawa kemakmuran untuk masyarakat tanah Jawa.  Hal inilah yang menjadi kepercayaan,   semangat dan harapan masyarakat Jawa yang tertindas dan  kekurangan.   Ratu Adil yang dipercaya muncul setelah terjadi goro- goro ( huru- hara )  sangat dinantikan oleh masyarakat Jawa,  entah sudah berapa kali orang mengaku ngaku sebagai Ratu Adil ada juga yang dinobatkan oleh pendukungnya seperti Samin Surosentiko yang dianggap Ratu Tanah Jawi   atau Ratu Adil Heru Cakra.

Clifford Geertz,   seorang Antropolog dulu tahun  1960- an pernah melakukan penelitian di Pulau Jawa,   dia membagi masyarakat Jawa dalam tiga kelompok yaitu santri,  abangan dan priyayi.    Dalam bukunya Religion Of Java atau “Abangan, Santri,  Priyayi dalam Masyarakat Jawa, ”   yang merupakan versi terjemahannya,   diceritakan bahwa abangan kalau dianologikan dengan gunung,  puncaknya kelihatan Islam tapi dasarnya adalah kejawen.   Kalau kita lihat dari struktur pemilu 1955 daerah yang didominasi santri dimenangkan oleh NU atau Masyumi,    sementara di daerah yang didominasi priyayi dan abangan dimenangkan PNI atau PKI.

Gue rasa struktur itu sampai sekarang masih terasa walaupun disana -sini terjadi pergeseran -pergeseran.    Daerah santri dimenangkan PKB,   PPP atau PKS sementara daerah abangan dan priyayi dimenangkan PDIP atau Partai Demokrat.    Itulah Jawa yang majemuk di mana cara- cara menjalankan agama berbeda beda,  ada yang santri dan ada juga yang abangan.   Tapi yang gue perhatikan di Jawa sekarang terjadi proses santrinisasi kehidupan masyarakatnya.   Daerah yang dulunya daerah abangan sekarang banyak yang pakai jilbab,   banyak yang naik haji,  dulu sangat jarang yang pakai jilbab,  paling pakai kerudung yang masih kelihatan leher  tapi   sekarang sudah tertutup rapat.    Santrinisasi tersebut tumbuh dari kesadaran diri bukan dari paksaan atau kekerasan.     Seharusnya kita masyarakat yang hidup di Jawa dapat berdampingan secara damai apapun alirannya entah santri, abangan, Kristen,   Budha dan Hindu,   seperti berdampingannya para leluhur kita.

January 25th, 2008 at 4:49 am