“Lo mau kemana, aku ingin kita satu arah, ” sebuah pertanyaan sekaligus sebuah harapan. Hidup ternyata bukan hanya berisi pertanyaan dan harapan tapi juga berisi pilihan. Selalu ada pilihan dan selalu ada konsekuensi, kadang manis kadang pahit.
Pertanyaan terbesar dalam hidup gue adalah apakah arti hidup dan apa tujuan hidup, apakah kita hidup hanya untuk menunggu kematian? Apakah hidup hanya untuk merasakan kebahagiaan dan kesedihan? Lahir, kanak- kanak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati, setelah mati masuk kubur kemudian dimakan cacing atau jenazah kita dibakar dan jadi abu. Apakah penting orang mengenang kita sebagai apa sementara kita sendiri sudah mati, pentingkah pandangan orang terhadap orang yang sudah jadi tulang belulang yang rapuh atau jadi abu?
Gue rasa setiap orang punya pandangan hidup yang berisi nilai nilai yang dia anut yang tentunya akan mempengaruhi perilaku. Bermacam- macam konsep mewarnai hidup manusia dan manusia juga yang akhirnya memilih konsep mana yang dia pakai dan mana yang dia tolak. Informasi, ide-ide, imaginasi, pengalaman dan kepercayaan membentuk pengetahuan yang oleh otak kemudian disusun menjadi sesuatu yang koheren yang akhirnya membentuk apa yang disebut pandangan hidup.
Kembali ke konsep hidup, entah kenapa dalam diri manusia selalu mencari kebenaran. Jalan kebenaran ini menurut gue adalah sesuatu yang rumit, berliku- liku, banyak tikungan tajam dan nggak jelas. Keadilan dan kemanusiaan adalah termasuk jalan kebenaran yang membingungkan dan manusia hanya bisa menebak- nebak manakah jalan kebenaran itu.
Karena jalan kebenaran adalah suatu misteri akhirnya manusia mencarinya dengan bantuan- bantuan, ada yang pakai agama dan ada juga yang pakai akal. Seperti yang sudah kita ketahui akal manusia macam- macam tergantung cara dia mengolah dan tentunya juga tergantung Informasi, ide-ide, imaginasi, pengalaman dan kepercayaan orang tersebut. Buat masyarakat tertentu tidak apa- apa perempuan telanjang dada terus pergi kemana mana, buat masyarakat tertentu bakteri bukan realitas, penyakit disebabkan kutukan atau teluh.
Kebenaran dan realitas menurut sebagian orang hanya dapat dipecahkan oleh akal akhirnya Fisika dan Biologi jadi agama ini kecenderungan yang gue baca. Sudah pasti kalau kita mau mencari sesuatu yang tidak kita ketahui apalagi misterius dan pemahamannya berlapis- lapis syarat mutlaknya adalah kita harus ragu ragu. Keragu- raguan inilah yang kita buktikan melalui eksperimen. Kalau mau mencari kebenaran dan realitas dengan menggunakan metode akal, keyakinan tidak boleh 100 % karena kalau keyakinan kita 100 % berarti kita menutup diri terhadap kemungkinan adanya kebenaran dan realitas yang lain.
Metode ragu- ragu ini mempunyai konsekuensi yaitu kita tidak akan pernah menemukan sesuatu yang absolut. Menjadi sesuatu yang aneh menurut gue karena tujuan metode ragu- ragu ini sebenarnya adalah mencari kebenaran dan realitas yang tersembunyi tapi karena kita selalu ragu- ragu akan suatu kebenaran akhirnya kita tidak akan pernah menemukan kebenaran sejati, walaupun kebenaran sejati datang mengetuk dan memanggil kita akan tetap ragu –ragu, sementara hidup terus berjalan dan keputusan- keputusan penting dalam hidup harus kita ambil. Keragu- raguan sesuatu yang positif tapi dia juga bisa negatif.
Ketika seseorang mencari jalan kebenaran dalam rangka mencari arti dan tujuan hidup, seseorang bukan hanya perlu keragu- raguan tapi perlu juga sebuah keyakinan, masalah apakah dia ternyata salah atau benar manusia tidak akan pernah tau karena jalan kebenaran penuh misteri dan manusia hanya dapat menebak-nebak dan kalau menebak- nebak pilihannya cuma 2, benar atau salah. Gue memilih Islam dan gue siap dengan konsekuensinya. Ini pilihan yang gue ambil karena gue bukan hanya butuh sesuatu yang relatif tapi gue juga butuh suatu keyakinan terhadap yang absolut dalam menjalani hidup. Wahyu dan akal akan selalu mewarnai kehidupan, sesuatu yang absolut sekaligus relatif, sesuatu yang relatif bersandar pada yang absolut, itu jalan kebenaran yang gue tempuh.
Sesungguhnya hanya Islam yang di Ridhoi disisi Allah….
February 16, 2008 @ 5:36 amHidup memang bukan untuk mati
Proses lahir, berkembang-biak lantas mati sudah kodrat mahluk hidup.
Yang sulit memang mencari tahu tujuan mengapa seseorang ‘dihidupkan’ di langit terendah ini
Seperti Ara, gw juga berpedoman pada Allah yang Esa…
Bahwa manusia diciptakan untuk mengabdikan hidupnya menyembah Sang Khalik.
Sayangnya penafsiran dan implementasi ‘mengabdi & menyembah’ Allah SWT ini yang sering menyesatkan, benar menjadi salah begitu sebaliknya
February 20, 2008 @ 8:07 pm