<

Berapa  kali  anda kecewa dengan PSSI?    Mungkin kalau pertanyaan tersebut diajukan kepada saya jawabnya adalah tidak perlu kecewa dengan PSSI karena memang saya tidak terlalu berharap banyak terhadap prestasi PSSI.   Ketika Piala Dunia,   saya dan banyak orang lainnya menjagokan negara lain,   kenapa saya tidak menjagokan PSSI,   kemana nasionalisme anak muda yang begitu menggelegak?    Jawabannya karena tidak ada PSSI di sana .  Indonesia tidak pernah ikut Piala Dunia,   hanya ada Dutch East Indies yang ikut Piala Dunia tahun 1938  di  Prancis,   itupun Achmad Nawir cs  dibantai 0-6  oleh Hungaria, Hungaria akhirnya  menjadi runner-up Piala Dunia 1938.

Sejarah yang selalu dibangga- banggakan adalah pada Olimpiade Melbourne tahun 1956,    ketika pasukan merah putih sukses menahan tim Beruang Merah,   Uni Soviet 0-0.    Diarsiteki Tony Poganik,  pelatih asal Yugoslavia,    tim merah putih diperkuat macan- macan bola tanah air seperti  Maulwi Saelan,   Ramang,  Djamiat Dalhar,    LH Tanoto,   Kiat Sek,  Ramlan dkk  yang  dengan semangat 45 mempertahankan setiap jengkal daerah pertahanan dari ancaman Uni Soviet yang begitu ganas.      Maulwi  Saelan sebagai kiper jatuh bangun menahan gempuran penyerang- penyerang Uni Soviet. Indonesia berhasil menahan Uni Soviet dalam 2 X 45 menit bahkan sampai perpanjangan 2 X 15 menit.   Menurut peraturan ketika itu,  apabila pertandingan berakhir seri maka harus dilakukan pertandingan ulang,  bukannya adu pinalti seperti sekarang.     Pertandingan ulang dilakukan 3 hari kemudian dan PSSI kalah terhormat 0-4,     konon Uni Soviet di pertandingan pertama bermain curang,  istilahnya main kayu sehingga mengakibatkan banyak pemain PSSI remuk kakinya.    Uni Soviet akhirnya meraih medali emas Olimpiade Melboune 1956.

Kenangan yang lain adalah ketika Senayan dibanjiri oleh lebih dari 120 ribu masyarakat gila bola,  mendukung PSSI melawan tim nasional Korea Utara. Pertandingan ini sangat krusial karena menentukan siapa yang mewakili  Asia ke Olimpiade Montreal, Canada.     Tim merah putih ketika itu diawaki oleh sang arsitek pelatih asal Belanda,   Wiel Coerver,   kiper legendaris Ronny Pasla, libero terkenal Ronny Pattinasarany,   Iswadi Idris,   Risdianto,  Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah,  Nobon dan Anjas Asmara.    Pada pertandingan waktu normal dan perpanjangan waktu PSSI berhasil   menahan  Korea  Utara kaca mata alias 0-0.    Dilakukan adu pinalti,  algojo PSSI Anjas Asmara dan algojo penentu Suaeb Rizal gagal,    tendangannya melenceng.    Sampai puluhan tahun kemudian Anjas Asmara tidak pernah bisa melupakan kegagalan dalam melaksanakan pinalti.     Konon Anjas menjadi trauma untuk mengambil pinalti. Tangis segera tumpah di Senayan,    pemain menangis dan banyak penontonpun ikut meneteskan air mata seiring terbangnya tiket ke  Korea Utara.   Tangis bukan hanya di Senayan tapi juga di seluruh pelosok tanah air karena pertandingan tersebut disiarkan langsung TVRI.

Kenangan cukup indah terjadi di era 80 an,    dimulai dengan proyek Garuda yang dipimpin oleh Sigit Harjojudanto ( anak Pak Harto )  yang mengirim para pemain untuk berlatih ke Brasil,    berhasil menghasilkan beberapa prestasi.  PSSI Garuda menjadi Runner-up Kings  Cup di  Thailand .   Pemain jebolan PSSI Garuda antara lain Patar Tambunan,   Marzuki  Nyak  Mad,    Azhari Rangkuti mereka bersama sama dengan pemain Galatama seperti Ricky Jacob,  Bambang Nurdiansyah,   Herry Kiswanto,   Zulkarnen Lubis  ( dijuluki Maradonanya Indonesia ),    Elly Idris,   Rully Nere,  Jaya Hartono dan pemain perserikatan seperi Robby Darwis,    Ribut Waidi dan Ponirin Mekka menjadi tulang punggung PSSI.     PSSI  menjadi juara subgrub 3 B Pra Piala Dunia Mexico,    lagi lagi langkah PSSI dijegal oleh Korea,  kali ini Korea Selatan.      PSSI  kemudian  berhasil menjadi 4 besar ( Semi Finalis ) di  ASIAN   Games 1986, Korea . Kemudian PSSI  berhasil  menorehkan prestasi legendaris  yaitu Juara SEA Games untuk pertama kalinya,  pada tahun  1987 di Jakarta,  dihadapan para pendukungnya.     Ribut  Waidi menciptakan gol emas pada pertandingan final . Prestasi ini bahkan melebihi prestasi macan- macan bola  era 70 an,  Ronny Pattinasarany,   Iswadi Idris,   Risdianto,  Suaeb Rizal, Junaedi Abdillah,  Nobon,    Anjas Asmara,   Andi  Lala  dan Abdul Kadir  yang menemui kegagalan di  2  SEA Games,   1977 dan 1979.    Pada tahun 1977 di  Kuala Lumpur terjadi perkelahian antara pemain  PSSI  melawan  pemain Thailand dan penonton tuan rumah  di  Semi Final,    pada tahun 1979  PSSI  takluk   0-1  dari  Malaysia di Jakarta sehingga harus puas dengan medali perak.      Era kejayaan PSSI berlangsung sampai tahun 1991 ketika kembali PSSI meraih medali emas SEA Games,   kali ini di negeri orang, Manila, Philippines .  Latihan keras ala militer yang diterapkan oleh pelatih asal Rusia  Anatoly Polosin dan Vladimir Urin  berbuah emas untuk dipersembahkan kepada rakyat  Indonesia. Kedua medali emas   SEA Games Indonesia terjadi pada era kepemimpinan Kardono (  mantan Sekmil  Pak Harto  ).

Apa yang terjadi sekarang?   Tidak ada emas SEA Games,   empat besar ASIAN Games atau Olimpiade.   Di Piala Tiger atau sekarang Piala AFF yang tarafnya regional,  PSSI tidak berdaya.     Puluhan ribu bahkan ratusan ribu penonton tidak mampu mengangkat moral pemain PSSI.     PSSI bahkan keok menghadapi Singapura,  kesebelasan yang dulu  selalu menjadi bulan- bulanan  PSSI.   Senayan tidak lagi angker untuk tim tamu.     Ada  apa dengan PSSI?   Kemana semangat putra putra  Indonesia dengan lambang Garuda di dada?    Dulu pemain era 50 an dengan lambang Garuda di dada dengan gizi terbatas bersikap rela mati di lapangan demi Indonesia,  tak perduli kaki remuk akibat perbuatan pemain Uni Soviet.  Masihkah ada semangat juang seperti yang dulu?    Ataukah kita,  bangsa  Indonesia   memang tidak perlu berharap terhadap PSSI?

March 12th, 2008 at 9:38 am