<

Kalau dilihat dari sudut sejarah,   Euro Cup  memang mempunyai perbedaan dibanding dengan World Cup.   Kalau di World Cup tradisi sangat penting, juara- juaranya biasanya adalah tim- tim yang mempunyai tradisi sepakbola kuat seperti  Brasil,   Italia,   Argentina,  Jerman.    Tradisi yang begitu kuat bahkan membuat tim Superior seperti tim Belanda di  Word Cup 1974  yang diasuh pelatih jenius,   Rinus Michels yang mengusung Total Footbal tidak sanggup untuk mendobraknya, Belanda harus puas menjadi runner- up karena dikalahkan Jerman.    Bahkan di puncak kejayaan Trio   Milan,    Marco Van Basten,  Ruud Gullit dan Frank Rijkaard  yang terkenalpun Belanda tidak berkutik di  World Cup.

Euro Cup mempunyai tradisi yang berbeda dengan World Cup,  di sini tim- tim pinggiran dan tim -tim yang tidak punya tradisi kuat juara World Cup  bisa menjadi kampiun,    jadi kekuatan tradisi tidak begitu kuat di sini siapapun bisa jadi juara. Tim yang mempunyai tradisi kuat di World Cup seperti Jerman, Juara 3 kali Worl Cup hanya 3 kali juara Euro Cup ( 1972, 1980 dan 1996 ) Italia juara World Cup 4 kali bahkan baru 1 kali juara Euro Cup, tahun 1968.   Uni Soviet bisa menjadi juara tahun 1960, Spanyol juara tahun 1964, Ceko juara tahun 1976 dengan mengalahkan juara dunia Jerman di final, Prancis juara tahun 1984, Belanda juara tahun 1988,   bahkan Denmark,  negara yang tadinya tidak lolos kualifikasi ke final akhirnya bisa menjadi juara setelah mengalahkan Jerman tahun 1992, padahal Denmark hanya menggantikan Yugoslavia yang dilanda perang saudara.   Kejutan terjadi lagi tahun 2004,  negara antah berantah dalam dunia sepakbola Yunani bisa menjadi juara Euro Cup.

Nah bagaimana dengan Euro 2008?   Apakah tim dengan tradisi lemah dalam World Cup akan kembali menjadi juara, akankah muncul tim antah berantah yang akhirnya bisa menjadi juara seperti terjadi pada Denmark tahun 1992 dan Yunani 2004?

Kalau gue,  kali ini  pegang Belanda dan Spanyol, sungguh mengasikan melihat tim gaek Prancis dibantai 4-1, serta tim Italia yang biasa biasa saja itu dibotaki 3-0.    Prancis dan Italia  hanya bisa berharap pada kebaikan Belanda sungguh sebuah ironi dan tragedy.  Prancis tanpa Zidane seperti   Argentina   tanpa Diego Maradona, lemah dan tak berdaya seperti tanpa arah yang jelas.  Italia beruntung diselamatkan Buffon pada laga melawan   Rumania,   tidak terlihat ketangguhan pertahanan grendel yang menjadi ciri khas Italia, juga tidak ada striker haus gol seperti Paolo Rossi dan Christian Vieri pada tim Italia.   Akhirnya karena Tim Belanda B membekuk Rumania    2-0 dan Italia sukses mengalahkan Prancis menghasilkan Italia sebagai runner-up grub C.

Kalau gue lihat Belanda mempunyai peluang lebih besar dari Spanyol karena Belanda mempunya pemain yang merata di semua lini serta mempunyai trio Madrid yang gue lihat seperti reinkarnasi trio Milan,     Wesley Sneijder semakin matang setelah bergabung dengan Real Madrid,  demikian juga dengan  Ruud van Nistelrooy dan Arjen Robben.   Secara tim juga lebih kompak berbeda dengan Tim 90 an dan awal 2000 an yang mempunyai masalah di ruang ganti akibat sejumlah pemain bintang yang bermasalah dan tidak lupa ada masalah SARA yang tidak selesai selesai.   Dari sudut pelatih Marco Van Basten juga merupakan sosok yang dihormati  karena merupakan pahlawan Belanda, Van Basten juga sosok yang ngemong dan tidak panasan berbeda dengan  Frank Rijkaard yang temperamental sehingga sering ada masalah dengan anak buahnya di Barcelona,   disinyalir itu juga yang menyebabkan kegagalan Barca 2 tahun terakhir.  Frank Rijkaard ini juga dulu tercatat pernah main ludah- ludahan dengan  Rudi  Voeller,   pemain Jerman  yang mengakibatkan  keduanya dikartu merah.

Hanya saja Belanda ini punya kelemahan yaitu masalah mental karena para seniornya sering kalah adu penalti,    gue rasa hal ini akan berpengaruh ketika Belanda harus dihadapkan dengan adu penalti dan tentu saja semangat tim Belanda ini tidak setangguh Jerman ini berhubungan dengan karakter bangsa karena patut diingat Belanda pernah dijajah Prancis dan Jerman jadi secara tanpa sadar ada perasaan rendah diri sebagai bangsa yang pernah dijajah berbeda dengan Jerman yang mempunyai kebanggaan terhadap negara  dan ras yang begitu tinggi.

Jerman sendiri sebagai negara yang paling banyak menjuarai  Euro, gue lihat sedang berada di grafik menurun berbeda dengan di masa lalu era 70 an – 90an. Jerman  tahun  1972 juara Euro,  1974 juara World Cup,   1976 runner-up Euro, 1980 Juara Euro, 1982 runner-up World Cup, 1986 runner up World Cup, 1990 Juara World Cup,  1992 runner-up Euro, 1996 juara Euro. Titik baliknya gue lihat terjadi di tahun 1992 setelah mencapai puncak di tahun 1990.  Generasi emas  trio Inter, Mattheus,  Klinsmann,  Brehme ditambah pemain AS Roma Rudi Voeller beranjak tua tapi generasi emas berikutnya tak kunjung muncul,   Mattias  Sammer   ex pemain Jerman Timur sempat memberi harapan dan dijuluki  reinkarnasi Franz Beckenbauer tapi karena dibekab cedera akhirnya kinerjanya tidak optimal.   Terjadi kesenjangan generasi sampai sekarang.    Gue nggak tau apakah hal ini  karena kompetisi di Jerman yang gitu gitu aja dan kurang duit sehingga kurang semarak,    hanya didominasi  FC  Bayern München sehingga sangat  jarang pemain Jerman yang berkiprah di luar Jerman dan terlibat dalam kompetisi yang ketat.   Kalau kita lihat generasi emas Jerman  Mattheus, Klinsmann,  Brehme  bergabung di Inter serta berkompetisi secara ketat dengan Trio Milan, Marco Van Basten,  Ruud Gullit dan Frank Rijkaard bahkan trio Inter berkompetisi juga dengan “ Sang nabi sepakbola” Diego Armando  Maradona,   demikian juga dengan Rudi Voller yang bergabung dengan AS Roma.   Jadi generasi emas Jerman bisa sukses karena ditempa oleh kompetisi paling ketat di dunia bahkan bertanding dengan nabinya sepakbola. Ini yang tidak gue lihat dari generasi Jerman sekarang  yang hanya bermodal semangat dan kebesaran masa lalu.    Memang pemain Jerman sekarang  tidak punya beban mental seperti pemain Inggris dan Belanda yang trauma terhadap adu pinalti tapi di  era sekarang semangat dan sejarah masa lalu saja tidak cukup harus juga ditunjang skill yang mumpuni dan fisik yang kuat karena diasah oleh kompetisi yang ketat.

Jadi kesimpulannya  jagoan gue di Euro kali ini adalah Belanda dan Spanyol serta tim kuda hitam adalah  Portugal,  sementara untuk Jerman dan Italia,    sorry ini bukan masanya anda lagi.    Semangat dan kebesaran masa lalu tidak banyak bisa menolong kalau kualitas pemain dan cara mainnya masih seperti itu.

June 19th, 2008 at 4:56 am