Berada di sebuah toko kue di Sarinah, Thamrin sambil melihat cewek- cewek yang bersileweran, berada di Sarinah tiba tiba gue teringat tentang Bung Karno. Gue berasal dari keluarga Soekarnois, ortu gue adalah pendukung dan pengagum Soekarno. Tentu saja sebagai keluarga pengagum Soekarno begitu banyak informasi yang bertebaran di sekeliling gue. Buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sudah gue baca sejak di Sekolah Dasar demikian juga dengan biografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang, Kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno. Buku yang lain yang cukup bagus adalah Sarinah, sebuah buku tua yang pernah gue baca juga yang sayangnya hilang ketika gue sekeluarga pindah rumah. Tentu saja banyak hal yang tidak tertulis di buku seperti kisah cinta BK dengan Haryati, Kartini Manoppo, Yurike Sanger, Heldy Djafar akan tetapi gue banyak mendapatkan informasinya dari orang tua gue maupun ngobrol- ngobrol ringan ala Aramichi dengan para sesepuh dan mantan petinggi Orde Lama.
Kalau gue amati Soekarno mempunyai kecintaan yang luar biasa terhadap bangsa Indonesia, baik Tanah Air maupun rakyat yang berdiam di dalamnya, terutama rakyat kecil. Sebuah kecintaan yang diwujudkan dengan pengorbanan dan penderitaan sebagai konsekuensi dari sebuah perjuangan. Ketika Jenderal Besar AH Nasution ditanya oleh seorang wartawan Amerika pendapatnya tentang Bung Karno, AH Nasution berkata: ” Beliau sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia sebelum saya sadar akan perjuangan kemerdekaan.” Sebuah pernyataan yang jujur dari seseorang yang hubungannya dengan BK sempat turun naik. Bahwa bagaimanapun jasa dan perjuangan seorang BK tidak pernah bisa terhapus dari sejarah bangsa Indonesia.
Selain kecintaan terhadap Tanah Air yang begitu tinggi dan meluap- luap hal yang terkenal dari BK adalah kecintaannya terhadap wanita, BK adalah seorang pecinta wanita. Gue ingat di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia diceritakan tentang Mien Hessels, sesorang noni Belanda yang ditaksir BK. Begitu naksirnya BK terhadap Mien Hessels sehingga dia nekat untuk untuk melamar Mien Hessels kepada ayah Mien Hessels. BK ditolak dan dicaci- maki dengan kata -kata yang berbau SARA. Dalam konteks sebuah jaman ketika pribumi dianggap bangsa kelas tiga, setelah Belanda dan Timur Asing tidak dapat dihindari pandangan yang memandang seseorang dari kelompok dari mana dia berasal, manusia tidak dipandang sebagai manusia tapi dipandang dari kelompok mana dia berasal apakah dia seorang Belanda, Indo, Timur Asing atau pribumi. Pribumi disebut inlander yang statusnya dianggap lebih rendah bahkan dianggap seperti binatang kotor. BK sakit hati sekali akan peristiwa tersebut.
Kisah cinta yang lain , tentu yang sangat romantis adalah dengan Inggit Garnasih yang oleh BK dijuluki Srikandi Indonesia. Lanjut lagi dengan Fatmawati kemudian Hartini yang pernikahannya mengundang demonstrasi dari ibu- ibu, kemudian seolah tak terbendung muncul Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati , Yurike Sanger dan Heldy Djafar. Sebelum dengan Ibu Inggit, BK sempat menikah dengan Oetari Tjokroaminoto akan tetapi ternyata perasaan BK terhadap Oetari seperti perasaan seorang kakak terhadap seorang adik, akhirnya Oetari dikembalikan kepada HOS Tjokroaminoto.
Tapi siapakah sebenarnya wanita yang menjadi figur kunci dari seorang BK? Kalau kita ingin memahami orang sudah pasti kita harus mengetahui sejarah orang tersebut, lebih lanjut lagi kita harus tahu siapakah yang menjadi sosok panutan kalau istilah kerennya Role Model. Sosok wanita yang dianggap sosok wanita ideal. Siapakah sosok itu? Kalau menurut gue, sosok itu adalah Sarinah. Siapakah Sarinah? Kalau dilihat di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, BK menceritakan tentang Sarinah berikut kutipannya:
” Sarinah adalah bagian dari rumah-tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya dan kemudian ia berpidato, ” Karno pertama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian kau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.” Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku. “
Begitu membekasnya sosok Sarinah di benak seorang BK sehingga sosok Sarinah muncul terus bahkan ketika BK berada di puncak kejayaannya. Gue mencatat paling sedikit ada 3 hal yang menunjukan betapa berpengaruhnya sosok Sarinah dalam hidup BK.
1. Sebuah buku yang berjudul Sarinah, Sub judul: Kewajiban Wanita dalam Perdjuangan Republik Indonesia. Buku Sarinah merupakan kumpulan bahan bahan kursus wanita yang diselenggarakan oleh BK di Istana Kepresidenan Yogyakarta setiap dua minggu sekali. Buku tersebut dibuat karena banyaknya permintaan dari peserta kursus agar bahan kursus tersebut dibukukan. BK sendiri yang mengumpulkan bahan kursus, melengkapi dan menulis ulang sehingga menjadi buku. Alasan diberi judul Sarinah adalah sebagai berikut, dikutip dari pengantar di buku Sarinah:
“Saya namakan Sarinah, sebagai tanda terima kasih. Ketika masih kanak-kanak, pengasuh saya bernama Sarinah. Ia mbok saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya telah menerima rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya menerima pelajaran untuk mencintai orang kecil. Dia sendiri orang kecil, tetapi budinya besar. Semoga Tuhan membalas kebaikannya.”
2. Toserba pertama di Indonesia, Sarinah. Gagasan mendirikan toserba tersebut muncul dari lawatan BK ke mancanegara, negara negara tersebut sudah mempunyai pusat perbelanjaan modern. BK bermaksud menjadikan Sarinah sebagai tempat penyaluran barang barang untuk keperluan rakyat jelata. Toserba Sarinah sebagai pusat perbelanjaan modern yang bisa memenuhi keinginan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus. Suatu visi mbok Sarinah tentang keberpihakan terhadap rakyat jelata berusaha diwujudkan oleh BK secara konkret.
3. Lukisan Sarinah, menurut ibu Hartini, lukisan Sarinah merupakan lukisan hasil karya BK sendiri. Lukisan tersebut dibuat di Bali tahun 1958 dengan model seorang gadis Bali yang melintas dengan sepeda secara kebetulan. Lukisan gadis berkebaya tersebut dinamakan Sarinah.
Munculnya beberapa kali nama Sarinah mulai dari judul buku, nama toserba, nama lukisan wanita berkebaya ditambah keterangan di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia memberikan pesan yang kuat, pesan yang kuat adalah pesan yang muncul berkali kali. Dari situ dapat kita lihat peristiwa- peristiwa yang terjadi kemudian adalah mungkin berkaitan dengan sosok Sarinah sebagai sosok wanita ideal untuk BK. Perjalanan ke Bandung Selatan yang berakibat pertemuan dengan petani Marhaen yang menginspirasi Marhaenisme adalah wujud kepedulian BK terhadap rakyat jelata sesuai dengan pesan mbok Sarinah. Pengembalian Oetari yang lebih muda usianya dari BK ke HOS Tjokroaminoto kemudian BK malah memilih Inggit Garnasih, wanita matang, keibuan yang sudah menjadi istri orang dan 12 tahun lebih tua dari BK. Keinginan agar ibu Hartini selalu berkebaya. Pernikahan sebanyak 9 kali mulai dari Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manoppo, Ratna Sari Dewi, Haryati, Yurike Sanger, Heldy Djafar. Apakah itu semua adalah akibat kerinduan terhadap sosok wanita ideal, pencarian untuk melengkapi yang tidak dia dapatkan dari pasangannya, pencarian terhadap sosok wanita dan cinta yang hilang, sosok Sarinah, sosok seorang ibu………?
baru tau kalau Soekarno istrinya 9 anaknya ada berapa?
November 25, 2008 @ 9:57 pmVivi, setau saya anak Soekarno itu juga ada 9:
Dari Ibu Fatmawati:
1. Guntur Sukarnoputra
2. Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
3. Diah Pramana Rachmawati Sukarnoputri
4. Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri
5. Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra, semula BK berniat memberi nama Guruh dengan nama Taufan akan tetapi karena tidak disetujui oleh Ibu Fat akhirnya diberi nama Guruh.
Dari Ibu Hartini :
1. Muhammad Taufan Sukarnoputra
2. Bayu Sukarnoputra
Dari Ratna Sari Dewi :
Kartika Sari Sukarno
Dari Kartini Manoppo :
Totok Suryawan
Selain itu juga mempunyai anak angkat dengan Ibu Inggit Garnasih:
December 7, 2008 @ 7:47 am1. Ratna Juami
2. Kartika
Ternyata kita sama-sama pengagum Bung Karno. Namun demikian aku selalu meletakkan Bung Karno dalam posisi yang sewajarnya.
Senang bertemu teman yang sepaham.
Ayo mampir di warungku : http://soekarnofiles.wordpress.com
Aku mengkoleksi foto-foto Soekarno, mudah-mudahan kita bisa saling tukar informasi.
Salam: Tony Mardianto
October 4, 2009 @ 11:27 pmSalam kenal juga Mas Tony, websitenya bagus mas saya sudah lihat2 barusan.
October 22, 2009 @ 4:30 am