<

Apa yang terlintas begitu mendengar kata bidadari? Pertama tentu saja cantik, berikutnya mungkin terlintas surga dan semua yang indah –indah. Konon kalau kita kelak masuk surga maka kita akan bertemu dengan bidadari dan katanya lagi bukan cuma satu tapi banyak :) Seperti apa wajah sang bidadari sangat susah dibayangkan oleh akal manusia.

Gue dulu pernah membaca legenda Jaka Tarub, pemuda yang berhasil muncuri baju bidadari bahkan mengawini sang bidadari tetapi setelah sang bidadari, Nawang Wulan berhasil menemukan bajunya akhirnya Nawang Wulan malah pergi ke Khayangan meninggalkan Jaka Tarub dan anaknya. Apakah itu yang disebut cinta sementara, cinta yang muncul karena berdasarkan keterpaksaan? Ketika habis massanya cintapun sirna seperti tertiup angin. Apakah Nawang Wulan pantas disebut sebagai bidadari?

Dalam perspektif gue, bidadari adalah seharusnya sosok yang sempurna, sosok yang penuh kasih dan tulus. Sosok yang rela menjalani kesakitan dan penderitaan demi sesuatu yang dia cintai. Menurut gue sosok bidadari itu adalah ibu gue…..

Yang gue kagumi dari seorang ibu adalah cintanya yang luar biasa besar untuk anak- anaknya. Gue tidak bisa membayangkan apakah gue rela mempertaruhkan nyawa gue untuk orang lain yang gue belum tau apakah kelak akan membalas semua kebaikan gue. Tapi seorang ibu berani menghadapi itu semua, berani mempertaruhkan nyawanya, berani menghadapi dan menjalani kesakitan demi sebuah cinta.

Daur kehidupan terus berjalan, lahir, bayi, dan jujur sampai sekarang gue tidak pernah tahu betapa merepotkannya gue ketika gue bayi sebuah rahasia yang tersimpan karena ketulusan seorang ibu tidak pernah meminta apa apa, balita, kanak-kanak, remaja dan sampai sekarang. Ada harapan, kebahagian yang tumbuh ketika ibu gue melihat perkembangan gue, kecemasan dll.

Terus terang sejak kecil di dalam diri gue sudah tumbuh keinginan untuk memahami orang lain terutama ibu. Sampai hari ini gue lebih senang berusaha memahami orang daripada menuntut orang lain untuk mengerti gue. Kadang gue kasihan melihat betapa capeknya ibu gue mengurus rumah, usaha, suami dan anak2 yang banyak. Begitu banyak yang harus diurus dan gue sadar diri untuk tidak merepotkan. Gue sadar seorang ibu sebenarnya perlu ada waktu untuk dirinya sendiri. Mungkin hal itu menjadikan ada jarak antara gue dan ibu, karena gue merasa kalau gue menuntut perhatian ibu itu akan menyiksa ibu gue. Di samping itu ada perasaan bahwa orang yang dekat dengan ibu adalah anak manja, itu suatu kelemahan buat gue. Gue merasa kalau gue dekat dengan ibu bisa menimbulkan ketergantungan dan ketidakmandirian, menjadi seorang laki laki yang lemah dan tergantung pada seorang wanita, hal yang sangat memalukan untuk gue yang sejak kecil digadang – gadang sebagai harapan dan kebanggaan keluarga. Gue tidak ingin terlalu tergantung dan terikat dengan yang namanya ibu atau orang lain.

Kemudian baru gue sadar, mungkin ini kesadaran yang terlambat, melawan cinta bukan menunjukkan bahwa gue kuat justru melawan cinta menunjukkan bahwa gue lemah. Mencintai ibu bukan berarti membuat kita menjadi laki laki yang lemah, mencintai ibu justru membuat kita menjadi lebih kuat, sekuat dan seberani seorang ibu yang berani menjalani kesakitan untuk sebuah cinta. Jalan cinta bukanlah jalan bertabur bunga dengan karpet merah, jalan cinta tempat di mana onak dan duri berada, tempat di mana ketulusan cinta diuji oleh penderitaan, kerepotan dan kehilangan. Jalan cinta tidak meminta banyak, dia hanya meminta untuk dijalani dan ibu menjalaninya. Perjalanan cinta seorang ibu yang penuh pengorbanan dan keikhlasan ketika melepas anak anaknya persis seperti busur yang rela melepas anak panah meninggalkannya, sepi dan sendiri adalah konsekuensi. Tapi ibu tidak pernah mengeluh… hanya doa yang dia berikan untuk anak anaknya. Apakah yang lebih hebat dari cinta seorang ibu, ketika tidak merasa sakit ketika ditinggalkan, ketika merelakan anaknya pergi untuk kebahagiaan itulah cinta yang paripurna…

.
Hari ini ketika melihat ibu tersenyum, gue melihat senyum seorang bidadari……..entah kenapa gue hanya mampu terdiam. Sampai hari ini bahkan gue nggak sanggup untuk sekedar bilang “ I Love You “ kata kata yang tersimpan begitu lama dan begitu ingin gue ucapkan untuknya…..

January 21st, 2009 at 7:30 am


One Response to “SENYUM BIDADARI”
  1. 1
      Vivi says:

    kata katanya bagus tapi kok tidak diungkapkan saja biar ibunya tau?