<

Hiruk pikuk politik menjelang pilpres tiba tiba mengingatkan gue pada Gus Dur, sosok yang sekarang pamornya tengah menyurut dalam perpolitikan nasional. Kalau berbicara tentang Gus Dur tentu kita akan ingat dengan NU, ormas yang didirikan oleh Kakek Gus Dur, Hasjim Asy’ari.

NU mempunyai basis sangat kuat di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Dengan soko guru pesantren dan Kiai sebagai sosok panutan. Kalau kita lihat dari sejarah, NU merupakan salah satu pendiri Masjumi bahkan sama seperti Muhammadiyah, NU adalah anggota istimewa Masjumi. Dengan NU di dalam Masjumi kekuatan parpol Islam tersebut begitu digjaya bahkan berhasil menjadikan Moh Natsir sebagai Perdana Menteri. Ternyata hubungan NU dengan unsur lain di Masjumi kurang harmonis, perbedaan latar belakang sosial budaya dan pendidikan menjadikan ada gap diantara NU dan elite Masjumi yang mayoritas berpendidikan Belanda. Tahun 1952 NU keluar dari Masjumi dan menjadi Parpol sendiri. Ternyata kisah masa lalu itu terus berlanjut seperti sejarah yang berulang ketika kembali NU berfusi dalam PPP, kembali NU dipinggirkan akhirnya tahun 1984 Gus Dur dengan sokongan Kiai Asad Syamsul Arifin mencanangkan kembali ke Khitah, NU tidak lagi menjadi bagian dari PPP.

Sejarah di atas perlu kita ketahui karena kelak semua sejarah panjang tersebut berkaitan dan berkesinambungan dengan hubungan antara NU dengan kelompok lain di kemudian hari termasuk kehawatiran sejumlah kiai ketika Amien Rais dan poros tengah meminta Gus Dur untuk menjadi Presiden. Memang dalam sejarah NU lebih dekat dengan PNI dibanding dengan Masjumi yang mempunyai kelanjutan Keluarga Bulan Bintang yang tersebar di PPP, PAN dan PBB. Maka tidak heran Gus Dur mempunyai kedekatan dengan Megawati di tahun 90-an.

Yang gue kagum dari Gus Dur adalah dia merupakan sosok politikus yang pintar dalam berstrategi. Tahun 1997 dia menggandeng mbak Tutut dan Megawati keliling pesantren, kalau menurut gue itu adalah upaya untuk menaikan pamor NU, tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan NU karena sejumlah pesantren mendapat perhatian dari pemerintah pak Harto serta menjalin hubungan yang baik di akar rumput dengan kaum Marhaen / pendukung Soekarno sekaligus upaya menekan PPP agar lebih memperhatikan unsur NU yang ada di PPP. Akhirnya Gus Dur memetik buahnya di tahun 1999, karena hubungannya dengan Megawati baik ditambah PPP yang kebetulan baru mempunyai ketua umum dari unsur NU, Hamzah Haz akhirnya menjadikan dia sebagai Presiden. Sesuatu yang sudah diprediksi olehnya sejak jauh jauh hari.

Hal lain yang juga menarik adalah keberpihakannya kepada minoritas, perayaan Imlek sekaligus menjadikan imlek sebagai hari libur nasional adalah salah satu buktinya.  Gus Dur kalau gue perhatikan merupakan seseorang yang sangat anti apabila ada satu kelompok yang ingin mendominasi kekuasaan. Penolakannya bergabung dalam ICMI, pengangkatan Laksamana Widodo yang berasal TNI AL sebagai Panglima ABRI sekaligus menciptakan sejarah baru untuk pertama kalinya Panglima diangkat dari unsur di luar Angkatan Darat yang akhirnya menciptakan tradisi baru di mana Panglima TNI dijabat bergiliran antar angkatan, dominasi Angkatan Darat sebagai Panglima TNI beliau hapus dan memberikan kesempatan kepada Angkatan Lain untuk berperan. Pengangkatan Freddy Numberi ,  putra Papua pertama yang menjadi Menteri adalah bukti bahwa Gus Dur ingin merangkul semua baik minoritas maupun mayoritas.

Keberagaman ini bahkan terjadi juga keluarga Gus Dur sendiri. Gus Dur tidak pernah memaksakan anggota keluarganya untuk masuk PKB. Jadi tidak pernah ada dominasi dari Gus Dur untuk menjadikan keluarganya satu kelompok yang sama. Adik kandungnya, Aisyah HamidBaidlowi adalah tokoh Golkar bahkan menjadi anggota DPR dari Golkar mewakili Jawa Timur, pamannya, Jusuf Hasjim dan adiknya, Sholahuddin Wahid mendirikan PKU, keponakannya, Irfan Wahid alias Ipang memilih berjuang di PKS.

Surutnya peran Gus Dur adalah kehilangan buat gue, surutnya Gus Dur mungkin juga berarti surutnya pengaruh NU di perpolitikan nasional, surutnya seseorang yang memperjuangkan agar kita jangan terkotak kotak sebagai bangsa,  ketika sebuah kelompok ingin mendominasi kekuasaan akhirnya semua orang lari ke solidaritas kelompok masing masing dan Indonesia terancam pecah. Itu yang Gus Dur lawan, mungkin Gus Dur seperti Kumbakarna, ketika sebuah niat diartikan berbeda akan menuai kebencian dari kelompok yang bahkan sebenarnya ia bela.

April 26th, 2009 at 12:20 am and tagged , ,