Sekarang sedang ramai pencarian cawapres. Posisi cawapres begitu strategis karena sebenarnya memilih cawapres adalah juga memilih calon presiden. Sudah dua kali dalam sejarah republik Wapres naik menjadi Presiden di tengah masa jabatan yaitu BJ Habibie menggantikan Soeharto dan Megawati yang menggantikan Gus Dur. Mengenai SBY apabila beliau memilih cawapres dari independen maka harus diperhitungkan juga apabila sesuatu terjadi pada beliau bisa jadi wapres independen tersebut yang akan menjadi Presiden, yang menjadi pertanyaan bisakah seorang Presiden tanpa basis politik sama sekali? Suatu hal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Republik Indonesia.
Pemilihan wapres selalu mempunyai kisah menarik di baliknya :
1. Sri Sultan HB IX ( 1973-1978 )
Pengangkatan Sri Sultan HB IX menarik karena beliau tokoh yang kenyang pengalaman, pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus Sultan Yogya. Bahkan ketika menjabat sebagai Wapres pun Sultan tetap menjabat sebagai Sultan dan Gubernur DIY. Selain itu mungkin ada suatu kebanggaan yang dirasakan oleh Soeharto, seseorang yang berasal dari Yogya dan rakyat biasa dapat menjadi bos dari “Seorang Raja Jawa” sosok yang begitu dihormati dan dicintai oleh rakyat Yogya.
2. Adam Malik ( 1978-1983 )
Pengangkatan Adam Malik adalah sesuatu yang di luar rencana awal Soeharto, sebuah kejutan yang cukup mengagetkan. Di buku “Memori Jenderal Yoga ” diceritakan sebenarnya Soeharto menawarkan jabatan Wakil Presiden kepada Idham Chalid, tokoh NU yang pernah menjadi Ketua DPR / MPR. Ternyata di luar dugaan Soeharto, Idham Chalid menolak untuk menjadi Wapres Soeharto. Sesuatu keputusan yang mengagetkan sekaligus menghancurkan skema yang sudah dengan matang dirancang oleh Soeharto. Akibatnya terjadi pergeseran besar besaran secara tiba tiba. Adam Malik yang sudah menjabat Ketua DPR / MPR diangkat sebagai Wapres, Daryatmo, Kaskopkamtib yang baru menjabat beberapa bulan diangkat sebagai Ketua DPR / MPR, sedangkan Yoga Soegomo, Kabakin harus merangkap sebagai Kaskopkamtib menggantikan Daryatmo. Sedangkan Idham Chalid sendiri akhirnya menerima jabatan sebagai Ketua DPA.
3. Umar Wirahadikusumah ( 1983 -1988 )
Pemilihan Umar sebagai wapres bahkan tidak disangka sangka oleh Umar sendiri, bayangkan seseorang yang diparkir di BPK selama 10 tahun, Umar menyangka karirnya sudah tamat. Umar bukan Pangab, bukan ketua umum Golkar bahkan juga bukan menteri tapi akhirnya Soeharto menunjuknya sebagai Wapres.
4. Sudharmono ( 1988-1993 )
Pemilihannya sebagai wapres sempat menimbulkan kontroversi, berawal dari pergantian Pangab LB Moerdani beberapa saat sebelum Sidang Umum MPR 1988 sesuatu yang tidak lazim sebab biasanya pergantian Pangab terjadi bersamaan dengan terbentuknya Kabinet. Sidang Umum sendiri tidak berjalan mulus H J Naro , ketua Umum PPP mencium ada ketidaksetujuan Fraksi ABRI terhadap Sudharmono dan memanfaatkan untuk mencalonkan diri sebagai Wapres dengan mengharapkan dukungan dari PPP, PDI dan Fraksi ABRI. Sidang Umum sendiri berjalan ricuh dengan interupsi dari Brigjen Ibrahim Saleh yang mempertanyakan latar belakang Sudharmono. Banyak orang yang menyangka itu dikarenakan ambisi LB Moerdani yang ingin menjadi Wapres tapi konon sebenarnya Fraksi ABRI lebih suka yang menjadi wapres adalah Pangab Try Sutrisno, jadi sebenarnya LB Moerdani hanya sebagai king maker bukan berambisi untuk menjadi Wapres. Akibat dari peristiwa itu H J Naro dan orang orangnya terpental dari PPP di Muktamar 1989 demikian juga dengan Ibrahim Saleh direcall dari DPR dan karirnya mentok dipangkat Brigjen sampai pensiun sementara LB Moerdani diangkat menjadi Menhankam.
5. Try Sutrisno (1993-1998 )
Fraksi ABRI tidak ingin kecolongan lagi, akhirnya sebelum Sidang Umum MPR, Ketua Fraksi ABRI, Harsudiono Hartas langsung menyebut nama Try Sutrisno sebagai satu satunya calon wapres yang didukung Fraksi ABRI. Padahal semula Pak Harto lebih menghendaki B J Habibie sebagai Wapres.
6. Megawati ( 1999-2001 )
Tanpa diduga banyak orang, PDIP partai pemenang pemilu nyaris tidak mendapat posisi apa apa di Sidang Umum MPR. PDI mendukung PKB di pemilihan ketua MPR tapi yang menang Amien Rais sementara ketua DPR dimenangkan oleh Akbar Tanjung. Pertanggung jawaban Habibie yang ditolak membuka kesempatan poros tengah mengajukan calonnya yaitu Gus Dur. Faktor PKB sebagai faktor kunci dibaca oleh Amien Rais dan ternyata memang benar upaya menarik PKB dengan mencalonkan Gus Dur membuahkan hasil kemenangan. Akhirnya Megawati harus puas hanya dengan posisi Wakil Presiden setelah mengalahkan Hamzah Haz dari poros tengah.
7. Hamzah Haz ( 2001-2004 )
Diberhentikannya Gus Dur dan naiknya Megawati meninggalkan posisi lowong di Wapres. Lagi lagi poros tengah mengajukan calonnya yaitu Hamzah Haz. Hal yang menarik dari Sidang Istimewa itu adalah munculnya SBY sebagai calon wapres yang diusung FKKI dan utusan golongan. Di sidang istimewa SBY kalah tapi di polling TV SBY menang hal ini menginspirasi untuk terbentuknya Partai Demokrat pada 9 September 2001.