<

” Anaknya macan pasti macan juga ” sebuah istilah yang hidup di masyarakat kita. Kadang kadang menjadi anak orang yang dikagumi tidak mudah, dia akan selalu menjadi bayang bayang orang lain, suka atau tidak suka. Ketika harapan yang begitu tinggi bertemu dengan realitas hasilnya kadang menimbulkan kecewa, kadang kecewa berubah menjadi benci. Kita kerap lupa setiap manusia adalah sosok yang unik karena setiap manusia mempunyai kemampuan dan sejarah hidup yang berbeda.

Di Buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia diceritakan tentang kelahiran Megawati, sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Bung Karno. Berikut kutipannya :

” Aku takkan melupakan peristiwa tanggal 23 Januari 1947 tersebut. Pada malam itu guntur seakan hendak membelah angkasa. Istriku terbaring di kamar tidur yang telah disediakan. Tiba tiba saja lampu padam. Atap di atas kamar runtuh, mega yang gelap dan berat melepaskan bebannya dan kemudian air hujan langsung mengalir ke dalam kamar bagaikan sungai.

Dokter dan juru rawat mengangkat Fatmawati ke kamar tidurnya sendiri. Dia basah kuyup seperti juga semua peralatan dokter, kain seprei dan segala galanya. Dalam kegelapan, dengan penerangan cahaya pelita, lahirlah putri kami. Kami menamakannya Megawati “

Dalam perjalanan hidupnya Mega banyak menyaksikan drama kehidupan, ayahnya menikah dengan perempuan lain bukan hanya sekali tapi berkali kali. Ibunya menyingkir dari istana menuju rumah pribadi yang sederhana di Jalan Sriwijya yang ketika itu termasuk daerah pinggiran Jakarta. Bahkan Mega juga menyaksikan peristiwa berdarah akibat intrik- intrik politik. Granat meledak di Cikini tahun 1957 di depan sekolahnya Percik, upaya pembunuhan tersebut nyaris saja merengut nyawa Bung Karno dan peristiwa itu bukan satu satunya upaya untuk membunuh BK. Istana Merdeka pernah dibombardir oleh Maukar, pilot pesawat MIG 15 Angkatan Udara. Pada Idul Adha 1962 BK dicoba ditembak oleh penyusup yang menyamar menjadi jamaah shalat Idul Adha, peristiwa ini yang mendorong dibentuknya Cakrabirawa. Di Makasar mobil BK dilempar granat, lagi lagi BK lolos dari maut. Peristiwa G 30 S merubah keadaan, kekuasaan BK dipreteli bahkan BK akhirnya diberhentikan dari jabatan Presiden. BK menjalani tahanan rumah, kesehatannya memburuk tapi perlakukan rezim baru sangat tidak manusiawi akhirnya BK menutup mata dengan kondisi mengenaskan. Tenggelamnya BK bukan hanya menenggelam BK seorang diri, loyalis loyalis BK pun ” dihabisi “, banyak yang ditangkap dan bahkan harta bendanya ikut dirampas, sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah loyalitas dan kesetiaan kepada kebenaran. Mega sendiri harus keluar dari Unpad karena memegang prinsip yang dia yakini.

Kehidupan Mega pasca meninggalnya BK penuh cobaan, suaminya pilot Angkatan Udara hilang dalam tugas, perkawinan keduanya kandas, kemudian dia bertemu dengan Taufik Kiemas, seorang Soekarnois yang pernah mendekam dalam penjara orde Baru. Mega menjadi ibu rumah tangga tanpa kegiatan politik sama sekali.

Semua berubah tahun 1987 dengan dorongan Taufik Kiemas, akhirnya Soerjadi Ketua Umum PDI mengajak Mega bergabung ke PDI. Bergabung ke PDI adalah sebuah keputusan yang berani kalau menurut gue, itu menunjukan bahwa Mega bukan seorang pengecut, pengalaman buruk yang dialami ayahnya yang dicoba dibunuh berkali kali dan akhirnya terpental oleh intrik - intrik politik tidak membuat Mega jeri untuk terjun ke dunia politik yang kata orang kejam itu. Suatu keputusan yang tidak mudah untuk orang dengan latar belakang seperti Mega, tidak semua orang sanggup menghalau semua trauma masa lalu tapi Mega dengan berani mengambil tantangan itu. Di usia 40 tahun Mega memulai karir politiknya.

Akhirnya Adis, panggilan kesayangan Mega berhasil jadi presiden. Tapi Mega tetap Mega dan Mega bukan Soekarno. Mega dan Soekarno adalah dua orang yang berbeda sama sekali mulai dari pendidikan, lingkungan, Hobby, kebiasaan, teman teman. Di usia 26 tahun Soekarno sudah mendirikan PNI, Soekarno bergaul dengan Natsir dan Kartosuwiryo yang agamis, Hatta dan Syahrir yang sosialis bahkan juga dengan Muso yang komunis, hal hal tersebut tidak dialami Mega.

Mungkin sekarang Mega sedang berada di senja karir politik, mungkin kita berhak kecewa dengan Mega yang ternyata berbeda dari Soekarno tapi bagaimanapun Mega adalah sosok yang berani dan bukan sosok yang menggunakan kekuasaan untuk membalas dendam. BK dizalimi oleh rezim orde baru tapi tidak pernah sekalipun Mega membalas menzalimi Soeharto ketika Mega menjadi presiden sesuatu yang mudah saja sebenarnya dia lakukan kalau dia mau tapi itu tidak dilakukan Mega. Mega menyadarkan kita bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan bukanlah solusi terbaik. Itulah Mega sosok yang tidak sempurna tapi selalu ada kelebihan dibalik ketidaksempurnaan seseorang, kelebihan dan kekurangan orang adalah tempat kita belajar tentang kehidupan.

May 18th, 2009 at 5:30 am and tagged ,


2 Responses to “Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri”
  1. 1
      mpep says:

    saya tertarik dengan mantan presiden kita ini. namun sejarah mega bermula dari 1947-1965. setelah itu gelap. dan mega muncul lagi 1987-sekarang.

    ada missing link 1965-1987. apa yang terjadi pada mega. bagaimana cerita perkuliahannya di UI dan Unpad. bagaimana aktivitasnya di GMNI (?). suaminya yang angkatan udara. pertemuannya dengan kiemas.

    bahkan, hingga hari ini tak banyak rakyat indonesia, saya salah satunya yang tahu siapa saja anak mega, kecuali puan maharani.

    kehidupan keluarga habibie dan gus dur pun kita tak hapal benar. siapa saja anak mereka, kecuali yenny wahid yang memang dikenal luas.

    tetapi anak soekarno, soeharto dan yudhoyono kita familiar sekali.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  2. 2
      aramichi says:

    ya periode 1965-1987 adalah masa masa yang cukup berat dialami Megawati, harus keluar dari Unpad, ayahnya sakit keras dan wafat, menikah, kehilangan suami, perkawinan keduanya kandas, menjalani perkawinan ketiga dengan seorang mantan Narapidana politik. Pada periode tersebut ada konsensus diantara anak anak keluarga Bung Karno untuk tidak terlibat dalam politik praktis, Megawati menjadi ibu Rumah Tangga barulah pada tahun 1987 Mega terjun di politik dan berhasil menjadi anggota DPR.