<

Konon Golkar dibentuk pada era awal 60-an untuk mengimbangi pengaruh PKI yang semakin kuat. Pendiriannya tentu tidak terlepas dari pengaruh Angkatan Darat ketika itu, organisasi pendukung Golkar dipimpin oleh perwira perwira Angkatan Darat seperti Soksi dipimpin oleh Suhardiman sementara MKGR dan Kosgoro dipimpin oleh mantan ajudan Bung Karno, Sugandhi dan Mas Isman.

Pengaruh ABRI di Golkar pada era Orde Baru semakin kuat dulu ada 3 jalur pemenangan Golkar yaitu ABG, ABRI, Birokrat dan Golkar. Walaupun sekarang TNI dan Birokrasi sudah netral tapi pengaruh unsur TNI masih ada, seperti sesuatu yang tidak tertulis, ada tradisi di Golkar bahwa apabila Ketua Umum dari Militer maka sekjennya dari sipil begitu juga sebaliknya apabila ketua umumnya dari sipil maka sekjennya dari militer ( pensiunan militer )

Semakin banyaknya mantan TNI yang berpolitik secara tidak langsung menggerogoti kekuatan Golkar yang tadinya mengandalkan KBA ( Keluarga Besar ABRI ) sebagai penyokongnya. Pertama munculnya PKP yang dipimpin Eddy Sudrajat, kemudian muncul Partai Demokrat setelah itu Wiranto dan Prabowo keluar dari Golkar dan membentuk partai Hanura dan Gerindra. Kekuatan Golkar terus tergerus karena disedot oleh Demokrat, Hanura dan Gerindra. Begitu juga ormas pendiri Golkar seperti Kosgoro dan MKGR dilanda perpecahan bahkan Hayono Isman anak pendiri Kosgoro loncat ke Demokrat.

Di pemilu 2009 terjadi peristiwa yang memukul Golkar sekalipun Ketua Umumnya menjadi wapres ternyata hal tersebut tidak menolong banyak, keluarnya Wiranto dan Prabowo serta makin moncernya SBY dan Demokrat memukul Golkar dari berbagai arah. Kegamangan mulai terjadi pada saat kampanye pemilu Legislatif mau mengkritik pemerintah tidak mungkin karena Golkar ada pemerintahan tapi mau mengklaim keberhasilan malah makin mengingatkan rakyat pada SBY dan Partai Demokrat akhirnya apa boleh buat terjadi saling Klaim antara Demokrat dan Golkar akan tetapi karena SBY presiden tentu saja ingatan rakyat ke SBY lebih kuat daripada JK yang Wapres.

Kekalahan Golkar dan naiknya suara Demokrat menyebabkan posisi tawar Golkar menjadi rendah, apabila tadinya posisi Golkar di atas sekarang posisinya lebih rendah. Terjadi berbagai peristiwa akhirnya JK memutuskan maju dengan didampingi Wiranto sesuatu yang agak riskan sebenarnya karena hanya merengkuh suara pendukung Golkar saja tidak terjadi perluasan segmen ke arah Nasionalis Marhaen dan kelompok Islam yang sebenarnya cukup banyak massanya. Kalau begitu sudah dapat diprediksi JK dan wiranto kemungkinan besar akan kalah.

Apa yang terjadi kalau JK dan Wiranto kalah, sementara Munas akan terjadi Desember 2009. Akankah Golkar memilih menjadi oposisi atau bergabung dengan SBY dengan beberapa jabatan menteri dan JK duduk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden. Menjadi oposisi sebenarnya bukanlah kebiasaan partai Golkar dan tentu juga sangat riskan apabila JK tanpa jabatan sama sekali ketika Munas digelar. Pengalaman Akbar Tanjung yang tanpa jabatan akhirnya tersingkir dari posisi elite Golkar, orang orang yang dekat dengan Akbar pun banyak yang tersingkir. Saya rasa pengalaman ini akan menjadi pertimbangan JK karena ini bukan hanya menyangkut dirinya tapi juga menyangkut orang orang dekatnya di DPP.

Saya lihat bola sekarang justru ada di SBY, maukah beliau apabila kelak terpilih kembali merangkul Golkar? Apakah apabila SBY merangkul Golkar kemudian orang Golkar yang diberi jabatan menteri itu menggantikan JK sebagai ketua Umum Golkar di Munas 2009 apakah JK akan legowo dan memberikan kesempatan kepada kader tersebut? Hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.

May 16th, 2009 at 2:12 am and tagged ,